Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #20

Chapter 19 : A Costumer

Enam tahun yang lalu, atmosfer di dalam The Rusty Valve selalu terasa kental dan menyesakkan—sebuah mikrokosmos dari keputusasaan Sektor Bawah. Udara di sana adalah campuran antara bau keringat buruh tambang yang asin, residu logam panas dari pabrik-pabrik konstruksi, dan aroma menyengat dari alkohol sintetik murah yang sanggup membakar kerongkongan. Silas berdiri di balik meja bar kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas dan penuh noda permanen, tangannya bergerak dengan ritme yang mekanis namun presisi, meracik minuman untuk deretan wajah-wajah kusam yang mengunjungi barnya malam itu.

​Di dunia yang sekarat ini, bar bukan sekadar tempat untuk mencari mabuk. Bar adalah bilik pengakuan dosa bagi jiwa-jiwa yang sudah mati sebelum jasadnya dikubur. Silas mengamati dalam diam bagaimana para pelanggannya memeras silinder kytos dari pergelangan tangan mereka dengan wajah meringis, mengisi Hemo-station bar yang berdengung rendah hanya untuk mendapatkan satu sloki cairan kuning kecokelatan yang bisa membuat mereka melupakan realitas sejenak. Mereka datang dengan keluh kesah yang sama: sistem Hegemony yang mencekik, jatah air bersih yang terus dikurangi, dan rasa takut akan hari esok yang mungkin tak pernah datang.

​Silas cukup dekat dengan para pelanggannya. Bukan karena ia peduli pada berapa banyak keuntungan yang masuk ke sakunya, tapi karena ia adalah penjaga rahasia mereka, pustakawan dari cerita-cerita yang tak pernah tercatat dalam sejarah resmi Citadel. Salah satu dari mereka adalah Matthew—seorang peminum berat yang wajahnya mulai kehilangan rona kehidupan, seolah-olah kulitnya perlahan berubah menjadi perkamen tua yang rapuh.

​"Matt, hentikan."

​Suara Silas terdengar dingin, memotong denting gelas. Ia meletakkan gelas wiski yang baru saja ia ambil kembali ke rak di belakangnya. Tangannya yang kuat menahan leher botol agar isinya tidak tertuang lagi ke gelas Matthew yang kosong. "Aku tidak akan menuangkannya lagi untukmu malam ini. Kau sudah melampaui batas."

​Matthew mengangkat kepalanya perlahan dari meja bar yang dingin dan berlemak. Matanya merah, kusam, dan tampak kesulitan untuk memfokuskan pandangan pada sosok Silas. "Kenapa? Apa aku terlihat... tidak bisa membayar? Aku masih punya cukup daya di Cuff-ku untuk membelikan minuman untuk satu bar ini, Silas."

​"Bukan masalah kytos, Matt," suara Silas terdengar tajam seperti sembilu. "Masalahnya kau pucat sekali, seperti mayat yang berjalan. Sepuluh mililiter lagi kau peras darahmu, dan kau akan berakhir di Hemo-farm sebagai 'Donor' permanen karena kekurangan hemoglobin kronis. Kau tidak akan pernah bisa berjalan keluar dari pintu itu dengan kakimu sendiri."

​Matthew tertawa pelan, sebuah tawa kering yang hampa, seolah-olah ada sesuatu yang retak dan patah di dalam dadanya. "Darah... darah akan kembali, Silas. Itu hukum biologi yang mereka ajarkan sejak kita masih kecil. Tubuh ini hanyalah pembangkit energi yang bodoh, tetapi dia tahu cara mengisi ulang... setidaknya sampai mesin pusatnya meledak dan semua berhenti."

​"Darah tidak akan kembali cukup cepat jika kau terus menukarnya dengan wiski murahan ini," balas Silas dingin sambil menyeka meja bar dengan kain lap kasar. "Pulanglah. Keluargamu... mereka pasti sudah menunggu dengan cemas."

Lihat selengkapnya