Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #21

Chapter 20 : A Way Out

Suara tetesan air kotor yang jatuh ritmis ke genangan keruh menjadi satu-satunya melodi di tempat yang sepi itu. Elara masih terduduk di lantai semen yang lembap dan dingin. Jemarinya yang bergetar menyentuh pangkal hidungnya yang memerah dan berdenyut nyeri, sementara ia berusaha merangkak bangun dengan napas yang terdengar berat dan memburu, meninggalkan jejak telapak tangan berlumpur di dinding.


​Tiba-tiba, suara dentuman hidrolik yang familiar membelah kesunyian, bergema di antara dinding beton yang sempit. Kael muncul di mulut lorong seperti bayangan maut. Debu kelabu dari lokasi ledakan masih menempel di pundak zirahnya, memberikan kesan kusam pada logam yang biasanya berkilau. Dengan bantuan dorongan tenaga kaki prostetiknya yang berdengung halus, Kael melesat menghampiri Elara. Ia meraih lengan bawah Elara, membantunya bangkit dengan sentakan yang kuat namun terkendali. Mata Kael langsung menyapu sekitar dengan tatapan predator yang penuh selidik, mencari jejak pria yang seharusnya berada dalam todongan senjata Elara beberapa menit lalu.


​"Bagaimana di sana?" tanya Elara, suaranya sedikit parau. Ia meringis, merasakan sensasi panas yang menusuk di hidungnya yang mungkin retak.


​Kael menjawab dengan nada dingin yang menusuk, seolah udara di lorong itu mendadak membeku. "Ledakan di sana terjadi di sektor aman, dekat pemukiman sipil. Seseorang sengaja menanam peledak dengan kendali jarak jauh hanya untuk memecah tim dan memancingku pergi. Sebuah distraksi amatir namun efektif. Lalu, bagaimana dengan Silas? Di mana dia?"


​Elara menunduk, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajahnya untuk menghindari kontak mata langsung dengan kaptennya. "Dia memukulku dengan sangat cepat, Capt. Gerakannya... tidak terduga. Aku bahkan tidak sempat menghindar sebelum semuanya menjadi gelap. Aku pingsan."


​Wajah Kael tetap datar, sekeras topeng bajanya, namun dahinya sedikit berkerut. Ada jeda yang menyesakkan sebelum ia bicara kembali, menunjukkan keraguan yang dalam yang jarang ia perlihatkan. "Kau... seorang Ranger elit Citadel. Kau dilatih untuk menghadapi gerilyawan paling beringas di sektor luar, tapi kau tumbang hanya dengan satu serangan dari pria yang sedang terluka?"


​Kael terdiam sejenak, menatap dinding lorong yang kosong seolah bisa melihat sisa-sisa bayangan Silas di sana. Ia kemudian berbalik memunggungi Elara, menatap ke arah cahaya di ujung lorong. "Kembalilah ke markas sekarang juga. Panggil tim medis untuk membantu Rangers yang terluka di titik ledakan, dan periksalah kondisimu. Kau tampak berantakan."


​Elara bangkit sepenuhnya, mengatur napasnya yang masih sedikit tersengal. Ia melangkah perlahan di belakang Kael yang mulai berjalan keluar dari lorong dengan langkah berat yang bergema. Atmosfer di antara mereka terasa seberat timah, dipenuhi dengan hal-hal yang tidak terucapkan.

Lihat selengkapnya