Lampu neon di langit-langit barak berkedip ritmis, menciptakan denyut cahaya pucat yang memantul pada deretan tempat tidur medis logam yang dingin. Udara di dalam ruangan itu terasa berat, jenuh oleh bau antiseptik yang tajam beradu dengan aroma amis darah dan sisa logam panas dari alat-alat bedah koter yang sedang bekerja. Kael melangkah dengan suara bot yang berdentang pelan, melewati barisan Rangers yang sedang merintih dalam berbagai tingkat penderitaan. Luka-luka akibat pisau lempar Silas di pasar tadi ternyata jauh lebih buruk dari laporan awal; luka itu dalam, presisi, dan seolah-olah dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf motorik tanpa membunuh seketika.
Kael berhenti di depan dipan Jace. Prajurit muda itu nampak kepayahan, lengannya sedang dijahit oleh tim medis dengan benang polimer. Wajah Jace meringis, urat-urat di lehernya menegang menahan nyeri yang menusuk-nusuk hingga ke tulang.
"Bagaimana tanganmu?" tanya Kael datar, suaranya tidak menunjukkan emosi, namun matanya mengamati setiap jahitan yang ditarik.
Jace mendongak, matanya yang berkaca-kaca menyiratkan penyesalan yang mendalam. "Aku hampir menembaknya, Capt. Aku sudah membidiknya tepat di jantung. Tapi... pisaunya melesat lebih cepat dari tarikan pelatukku. Kecepatannya tidak masuk akal untuk pria yang sedang menahan nyeri sehebat itu. Dia bukan manusia normal."
Kael menepuk pundak Jace dengan kuat—sebuah gestur yang lebih terasa seperti penekanan beban tanggung jawab daripada sekadar penghiburan rekan sejawat. "Segeralah pulih. Kita butuh setiap tangan yang bisa memegang senjata dengan stabil. Kegagalan hari ini adalah pelajaran yang mahal."
Saat Kael melangkah keluar dari barak menuju gedung utama Citadel, Kapten Zork sudah menunggunya di bawah bayangan pilar. Pria berbadan besar itu nampak gelisah; tangannya terus memainkan sarung pistolnya secara obsesif, sebuah tanda bahwa sarafnya sedang terganggu.
"Apa yang akan dibicarakan Hegemony kali ini sampai perlu memanggil kita secara mendadak ke aula pusat?" tanya Zork tanpa basa-basi saat Kael mendekat.
"Entahlah," jawab Kael dingin, matanya menatap menara Citadel yang menjulang tinggi ke langit jelaga. "Bagaimana kondisi timmu?"
"Timku berpatroli seperti biasa, menyisir area luar dan fokus mencari rekrutan Rangers baru," Zork menggerutu, napasnya terdengar pendek. "Kau tahu sendiri, akhir-akhir ini banyak Rangers yang tumbang atau cacat permanen setelah bentrok dengan faksi perlawanan. Kita butuh tenaga segar, atau kita akan kehabisan penjaga dalam sebulan." Zork kemudian melirik Kael dengan tajam, sebuah tatapan penuh selidik. "Lalu, bagaimana misimu tentang Silas?"
Kael tersenyum sinis, matanya tetap menatap lurus ke depan. "Aku dan timmu belum melihatnya lagi. Mungkin dia sedang bersembunyi di lubang tikus, atau mungkin dia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pelarian."
Zork terdiam sejenak, wajahnya mengeras. "Dari data yang kupelajari tentangnya selama lima tahun ini, Silas hanyalah seekor lalat pengganggu. Dia bukan tipe orang yang bisa diandalkan dalam hal strategi atau rencana jangka panjang. Dia hanya seorang pencuri yang beruntung, didorong oleh insting bertahan hidup yang liar."
Langkah mereka akhirnya sampai di aula megah Citadel. Ruangan itu begitu luas hingga pilar-pilar marmer hitam yang menjulang tinggi seolah menghilang di balik kegelapan langit-langit. Gema dari setiap langkah kaki mereka terdengar seperti detak jantung raksasa yang sedang mengawasi. Di ujung aula, sesosok figur muncul dengan jubah merah darah yang menjuntai elegan di atas lantai kristal—sang penyandang gelar Hegemony.