Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #24

Chapter 23 : A Cart

Pagi menyingsing di Citadel tanpa kehangatan fajar. Kael melangkah keluar melalui gerbang baja Sektor Luar, sosoknya yang jangkung tampak kontras dengan latar belakang beton kelabu. Ia pergi seorang diri, tanpa pengawal, tanpa suara. Helm taktisnya terpasang rapat, permukaannya yang hitam dop memantulkan cahaya redup, menyembunyikan ekspresi dingin yang kini dipenuhi oleh labirin tanda tanya yang tak kunjung menemukan ujung.

​Langkah bot logamnya yang konstan membawanya kembali ke titik ledakan pengalih perhatian kemarin—tempat di mana otoritasnya ditantang oleh permainan catur yang tak terlihat. Reruntuhan di sana masih menyisakan bau hangus yang menyengat, aroma kimia terbakar yang menempel di tenggorokan. Namun, mata tajam Kael tertuju pada satu benda yang seolah memanggilnya dari balik tumpukan puing dan debu: sebuah gerobak dorong manual yang tergeletak miring, roda kayunya yang patah tampak menyedihkan.

​Kael berjongkok di atas debu sisa ledakan. Jemari yang presisi meraba permukaan kayu gerobak yang kasar dan penuh goresan lama. Dengan satu gerakan kuat, ia menarik paksa tutup kotak kayu rahasia di atasnya yang sudah setengah hancur. Di dalam sana, di bawah tumpukan kain lap berminyak, tergeletak sebuah jubah hitam yang kini rusak—alat penyamaran yang sempurna di tengah kerumunan buruh kasar. Namun, yang membuat jantung Kael berdegup lebih kencang, sebuah anomali yang membangkitkan insting pemburunya, adalah sebuah emblem kecil yang tertempel di sisi dalam gerobak. Itu bukan simbol militer, bukan pula tanda faksi pemberontak, melainkan logo usang sebuah badan usaha jasa kuno yang hampir terlupakan oleh zaman.

​Kael mencabut logo itu—lempengan tipis bertuliskan "Resi-Cart"—dan memasukkannya ke dalam saku taktis di paha zirahnya. Tanpa ragu, ia mulai menarik gerobak berat yang rusak itu dengan satu tangan, menyeretnya melewati jalanan berbatu yang berisik. Suara gesekan kayu dan logam di atas tanah yang kering bergema di antara gang-gang sempit menuju sektor pemukiman yang lebih padat, tempat di mana orang-orang hidup berhimpitan seperti rayap.

​"Pernah lihat logo ini?" tanya Kael pada seorang pedagang barang bekas yang sedang mengais tumpukan rongsokan. Suara Kael terdengar berat, teredam oleh modulator helm yang memberikan kesan robotik yang mengancam.

​Orang-orang di sekitar langsung menghindar, menundukkan kepala dan mempercepat langkah. Mereka takut akan seragam Rangers-nya yang legendaris sebagai lambang maut. Hingga akhirnya, di sebuah sudut remang-remang, seorang pria tua dengan tangan hitam legam yang sedang memilah kabel tembaga menunjuk ke arah barat dengan jari gemetar. "Resi-Cart... itu tempat kuli angkut dan pembersih limbah dari era sebelum pembersihan besar. Kantornya ada di ujung jalan ini, di balik bangunan penyulingan air yang sudah mati."

...

​Kedatangan Kael di kantor badan usaha tersebut disambut dengan keheningan yang mencekam, seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak tersedot keluar. Sang pemilik usaha, seorang pria kurus dengan mata yang terus berkedut karena ketakutan, menatap kaki prostetik Kael dengan tatapan ngeri yang tak tertutupi.

​"Gerobak ini," Kael meletakkan emblem "Resi-Cart" yang berdebu di atas meja kayu yang rapuh. "Siapa pemilik terakhirnya?"

​Seorang pekerja yang duduk di sudut ruangan, wajahnya tertutup masker debu, bergumam dengan suara bergetar yang hampir tak terdengar, "Itu... itu milik Herlon. Aku mengenali bekas goresan dalam di gagangnya. Dia selalu bilang itu jimat keberuntungannya."

Lihat selengkapnya