Angin di tepi tebing itu berembus kencang, membawa aroma besi tua dan debu yang tak pernah hilang. Silas berdiri mematung di depan dua nisan sederhana yang permukaannya sudah mulai terkikis usia. Tidak ada doa yang terucap, hanya keheningan yang berat, seolah ia sedang mendengarkan bisikan dari bawah tanah.
Beberapa puluh langkah ke samping makam, terdapat sebuah rumah kaca kecil dengan lampu UV bertenagakan darahnya yang dibangun lama olehnya. Silas berjalan ke sana dengan langkah yang diseret pelan, mengambil sebuah kaleng penyiram karatan yang airnya berbunyi kocak di dalam. Ia mulai membasahi beberapa kuntum rugosa merah yang tumbuh keras kepala di antara celah batu. Jemarinya yang kasar memetik satu tangkai—sebuah kuncup kecil yang berhasil mekar dengan warna pucat, sebuah keajaiban kecil yang tumbuh di tanah yang tak lagi segar yang didapat dari pasar gelap.
Mia, yang sejak tadi memperhatikannya dari kejauhan dengan tangan terlipat di depan dada, akhirnya melangkah mendekat. Suara kerikil yang terinjak sepatunya memecah kesunyian. "Alat apa sebenarnya yang sedang dibangun Matthew di dalam gudang itu, Silas? Aku sempat melihat skemanya tadi saat dia lengah... itu tidak seperti senjata api atau pemecah kode biasa. Tapi sepertinya butuh energi yang besar"
Silas tidak langsung menjawab. Ia menatap bunga di tangannya, memutar tangkainya perlahan sebelum akhirnya memutar seluruh tubuh menghadap Mia. Matanya yang tajam seolah hendak menembus niat wanita di depannya. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, Mia. Bagaimana kau bisa mengenal orang misterius itu? Dan apa sebenarnya tujuannya mengirimmu padaku di saat situasi sedang memanas seperti ini?"
Mia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sisa pilar bangunan yang runtuh, membiarkan matanya menatap cakrawala yang suram. "Awalnya, aku hanya pion. Seseorang yang dibayar untuk melakukan pekerjaan kotor yang tidak terlihat oleh sensor Rangers. Aku diperintah mengumpulkan sobekan kertas arsip lama dari perpustakaan yang terbakar, mencari jenis tanah liat tertentu dari Sektor luar... hal-hal yang awalnya terasa tidak masuk akal bagi pencuri sepertiku."
Mia terdiam sejenak, menatap bayangan megah Citadel di kejauhan yang tampak seperti monster baja yang siap menelan matahari. "Lalu ada satu waktu di mana orang misterius itu bilang... dia sedang mencari seseorang di dalam Citadel. Tapi anehnya, dia sendiri bilang tidak tahu siapa orang itu, apa pangkatnya, atau bagaimana ciri-cirinya."
Silas menyipitkan mata, kerutan di dahinya semakin dalam. Ia berjalan kembali ke arah makam, membungkuk pelan untuk meletakkan tangkai bunga itu di atas gundukan tanah yang masih menyisakan bekas bunga-bunga kering dari kunjungannya yang lalu—sebuah ritual sunyi yang tak pernah putus. "Lalu kau melakukannya? Kau mempertaruhkan nyawamu masuk ke zona merah hanya untuk mencari seseorang yang bahkan tidak punya nama?"
"Aku melakukannya demi kytos, Silas," jawab Mia jujur, suaranya sedikit parau. "Di dunia yang busuk ini, perut yang lapar tidak butuh nama atau ideologi, hanya butuh unit energi untuk bertahan hidup satu hari lagi."