Gudang kincir angin itu masih berdengung rendah, menciptakan harmoni yang ganjil antara deru ritmis baling-baling raksasa di atas atap dan detak mekanis dari mesin-mesin tua di dalam laboratorium darurat Matthew.
Silas dan Mia melangkah masuk, langkah kaki mereka terasa berat seolah gravitasi di tempat itu berlipat ganda, membawa sisa lelah dan aroma tebing yang masih menggelayuti bahu.
Di sudut ruangan, sosok Matthew nampak seperti patung yang terpaku di depan deretan layar monitor.
Silas mendekat, meletakkan tas berisi puing-puing besi yang ia kumpulkan dari makam ke atas meja kayu. "Bagaimana keadaanmu, Prof? Kau sudah terjaga lebih dari dua puluh jam. Beristirahatlah sejenak sebelum kepalamu meledak."
Matthew tidak menoleh, jemarinya terus menari di atas papan ketik yang huruf-hurufnya sudah pudar dimakan waktu. "Istirahat adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli saat ini, Silas. Waktu adalah satu-satunya sumber daya yang tidak bisa kita curi kembali." Ia kemudian berdiri dengan susah payah, lututnya yang renta bergetar hebat saat ia berjalan menuju arah Hemo-station utama gudang. Dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan beberapa tabung Hemo-cells dari dalam tas kumalnya, mengganti sel-sel energi yang sudah berwarna merah redup—tanda kehabisan daya—dengan yang baru.
"Tidak sia-sia aku selalu memeras kytos-ku sendiri setiap kali aku bepergian ke pasar gelap," gumam Matthew pelan, suaranya serak. Ia memperhatikan indikator daya gudang di dinding yang perlahan merangkak naik dan kembali ke warna hijau stabil.
Silas menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya pada pilar baja yang dingin. "Lain kali, jangan pergi sendiri ke pasar gelap itu, Matt. Akan lebih baik jika ada seseorang yang membantumu saat kau butuh tenaga untuk pertarungan atau pengejaran yang tidak terduga. Dunia di luar sana sedang haus, dan kau nampak seperti mangsa yang mudah."
"Bagiku, bepergian sendiri jauh lebih aman," sahut Matthew tegas, matanya kini menatap Silas dengan sorot yang keras kepala. "Aku tidak mencolok, tidak meninggalkan jejak besar seperti rombongan tentara. Aku akan selalu memilih pasar yang paling jauh dari jangkauan patroli Hegemony. Kerumunan adalah musuh bagi orang sepertiku, Silas. Di sana, semakin sedikit wajah yang kau kenal, semakin panjang umurmu."
Matthew kembali duduk, jemarinya menunjuk ke arah kotak hitam misterius dengan lampu LED yang masih berkedip. "Alat utamaku terjeda karena benda ini. Enkripsinya sangat kuat, Silas. Berlapis-lapis dan sangat agresif. Aku semakin yakin isinya adalah data yang sangat vital, sesuatu yang bisa mengguncang. Tapi ada yang aneh... kode-kode yang kupakai untuk menembusnya terasa sangat familiar. Rasanya seolah aku sedang bekerja di laboratorium pusat Citadel lagi. Protokolnya, gerbang logikanya... ini buatan mereka, namun dimodifikasi oleh seseorang yang sangat mengenal cara pikirku."
Mia, yang sejak tadi berdiri diam dalam kegelapan di balik bayang-bayang mesin, melangkah maju. Matanya tidak lepas dari papan tulis besar yang dipenuhi rumus fisika rumit dan sebuah alat raksasa yang sedang dirakit Matthew di tengah ruangan—sebuah struktur silinder dengan kabel-kabel yang menjuntai seperti tentakel.
"Itu... terlihat seperti roket pendorong," ucap Mia pelan, suaranya mengandung perpaduan antara kekaguman yang tulus dan ngeri yang mendalam.