Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #27

Chapter 26 : The Long Walk Home

Pandangan Kael bagaikan kepingan kaca yang pecah, tajam dan terfragmentasi. Warna putih menyilaukan sisa dari ledakan flashbang itu perlahan memudar, meninggalkan bintik-bintang hitam yang menari-nari di pelupuk matanya. Rasa sakit yang luar biasa berdenyut di tengkuknya, sebuah hantaman tumpul yang mengirimkan gelombang mual ke seluruh perutnya. Ia mengerang pelan, suaranya teredam oleh debu lantai, saat ia mencoba mendorong tubuhnya bangkit menggunakan lengan yang terasa seberat timah.

​Di sekelilingnya, di ambang pintu yang telah hancur dan jendela-jendela yang pecah berserakan, kerumunan kecil penduduk Distrik B berdiri membisu. Mereka nampak seperti sekumpulan hantu kelabu di bawah langit yang muram. Mereka menonton dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa ingin tahu yang ngeri dan kepuasan pahit yang terpendam, melihat seorang predator puncak dari Citadel tergeletak tak berdaya di atas tanah yang selama ini mereka huni dengan air mata. Tidak ada satu pun tangan yang terulur.

​Kael akhirnya berhasil berdiri dengan langkah limbung, dunianya masih miring. Secara refleks, tangannya meraba bahu kiri untuk mengaktifkan radio komunikasi. Kosong. Jantungnya berdegup kencang saat ia memeriksa sabuk taktisnya; pistol kustomnya, detonator cadangan, kompas digital, hingga tabung Hemo-cells cadangannya telah raib tanpa bekas. Orang misterius itu tidak membunuhnya, tetapi ia telah melucuti Kael sampai ke tulang, meninggalkannya telanjang di tengah sarang serigala.

​"Sialan..." desis Kael melalui gigi yang terkatup. Ia memaksa kakinya yang gemetar untuk melangkah masuk kembali ke dalam rumah itu, mencari jejak, mencari alasan, mencari siapa pun yang baru saja melumpuhkannya dengan presisi seperti itu.

​Ia menyusuri ruangan demi ruangan yang nyaris kosong, berbau apak. Namun, satu kamar di sudut paling belakang nampak berbeda. Di dalamnya, tidak ada tumpukan senjata atau peta rencana pemberontakan yang ia harapkan. Yang ada hanyalah sebuah kasur bayi kecil yang sudah tertutup debu tipis, beberapa mainan kayu yang usang dan kasar, serta pakaian bayi perempuan yang tertata rapi di dalam lemari terbuka. Sebuah dot bayi tergeletak di atas meja kecil; benda itu nampak sangat bersih, berkilau di bawah cahaya temaram, seolah-olah sengaja dijaga agar tetap suci meskipun tak pernah sekali pun dipakai untuk menenangkan tangis.

​Kael terpaku sejenak. Pemandangan itu terasa lebih mencekik hatinya daripada pukulan di tengkuknya tadi. Sebuah altar untuk kehidupan yang tak pernah ada, atau mungkin yang telah direnggut. Ia kemudian beralih ke dinding tempat orang misterius itu menyambar sesuatu sebelum melarikan diri. Di sana, tertinggal sebuah bekas bersih berbentuk persegi panjang di tengah tembok yang kotor oleh jelaga—bekas bingkai foto yang baru saja dicopot paksa.

​Kael mengerutkan dahi, matanya menyipit tajam. Disitu kau rupanya! Ia menyadari bahwa foto itu adalah kepingan terakhir yang tidak boleh jatuh ke tangan Citadel.

​Langkah Kael mulai stabil meski kepalanya masih terasa ringan seperti melayang. Ia keluar dari rumah, menemui kerumunan orang yang masih menontonnya dengan sisa-sisa keberanian militer yang ia miliki.

​"Siapa yang tinggal di sini?" tanya Kael. Suaranya parau, namun tetap mengandung otoritas dingin yang membuat orang-orang di depannya tersentak. "Rumah siapa ini?!"

Lihat selengkapnya