Deru motor listrik Elara membelah kesunyian gerbang medis Citadel, suara desingannya memantul di dinding-dinding beton yang angkuh seolah-olah mesin itu sendiri sedang berteriak meminta pertolongan. Begitu roda motor berhenti dengan decitan tajam, Elara tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan bantuan beberapa petugas medis yang sigap, Kael yang nyaris tak sadarkan diri dilarikan ke atas tandu hidrolik.
Lampu-lampu koridor yang berwarna putih dingin berkelebat cepat di atas wajah Kael yang pucat pasi, menciptakan bayangan ritmis yang dramatis. Elara berlari di samping tandu itu hingga sampai di depan pintu ruang perawatan darurat. Pintu baja itu tertutup rapat dengan dentuman vakum yang memutus pandangannya.
Seorang perawat senior dengan seragam steril menahannya di ambang pintu, tangannya terangkat sebagai penghalang yang tak bisa ditawar. "Ranger, Anda dilarang masuk. Kapten membutuhkan transfusi stabilisasi segera karena tekanan darahnya berada di titik kritis. Silakan tunggu di ruang tunggu."
Elara mundur selangkah, tangannya yang masih berlumuran sedikit debu dari Sektor Bawah terkulai lemas. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding metal yang dingin, lalu menghela napas panjang hingga bahunya merosot, melepaskan ketegangan yang sejak tadi mengikat dadanya. Ia menyeka keringat dingin di dahinya dengan punggung tangan, lalu berbisik sangat pelan, hampir seperti desisan yang hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
"Bodoh," gumamnya getir. "Kenapa orang yang seceroboh itu bisa diangkat jadi Kapten? Kau hampir membunuh dirimu sendiri hanya untuk sebuah ego."
Lama ia menunggu di ruang tunggu yang sunyi, di mana hanya suara jam digital yang berdetak monoton menemani kegelisahannya. Namun, tanda-tanda Kael boleh dijenguk tak kunjung datang; lampu indikator di atas pintu operasi masih menyala merah terang. Kegelisahan mulai merayap di bawah kulitnya seperti ribuan serangga kecil. Elara memutuskan ia tidak bisa hanya diam mematung. Ia meninggalkan area medis dengan langkah berat, berjalan kembali menuju barak melalui lorong-lorong internal Citadel yang steril.
Di tengah perjalanan, langkahnya melambat secara otomatis. Ia melewati sebuah area dengan dinding kaca tebal yang membatasi koridor dengan bangsal khusus yang dijaga sangat ketat. Di dalam sana, ia melihat interaksi yang selalu membuatnya merasa sesak, sebuah pemandangan yang seolah-olah berasal dari dunia yang berbeda: para suster dengan seragam putih bersih tanpa noda sedang membagikan makanan bernutrisi tinggi dan mainan kepada anak-anak.
Anak-anak itu tampak bersih, sehat, dan terjaga dari segala kekejaman dunia luar. Bibir Elara bergetar hebat, tangannya tanpa sadar meraih pagar pembatas besi yang dingin, mencengkeramnya begitu erat hingga jemarinya memutih dan sendi-sendinya menegang. Ia menatap seorang balita yang sedang tertawa riang mengejar bola, lalu sebuah senyum tipis—senyum yang penuh dengan rasa rindu yang purba dan kepedihan yang mendalam—muncul di wajahnya. Ia membayangkan bahagianya anak itu, yang masih terlalu murni untuk tahu bahwa keberadaannya membawa "cadangan energi" bagi sistem citadel.