Angin menderu melewati celah-celah tribun yang retak, menciptakan suara siulan maut yang menggema di dalam stadion—sebuah monumen kejayaan masa lalu yang kini hanya menjadi kuburan beton yang angkung. Elara mematikan mesin motor listriknya beberapa blok sebelum tujuan, membiarkan kendaraan itu mendingin di balik reruntuhan gedung perkantoran yang setengah hancur. Ia melangkah tenang, setiap pijakan kakinya diatur dengan presisi agar tidak menimbulkan suara di atas kerikil tajam yang berserakan.
Ia menyusup ke barisan penonton teratas, merayap di antara kursi-kursi plastik yang telah meleleh dan memudar warnanya akibat paparan radiasi matahari yang tak terfilter. Dari sudut pandang elang ini, lapangan stadion yang luas—yang kini tak menyisakan sehelai rumput pun, hanya tanah merah yang pecah-pecah—terlihat sangat jelas.
Tak lama menunggu, sebuah bayangan muncul dari kegelapan pintu pemain. Seorang wanita dengan setelan taktis handmade yang efisien melangkah ke tengah lapangan—Mia. Di tangannya, ia menggenggam kotak hitam dengan lampu LED yang masih berkedip ritmis, satu-satunya sumber cahaya di tengah keremangan stadion. Mia berputar, kepalanya menoleh ke segala arah dengan gestur yang sangat gelisah, memastikan tidak ada mata yang mengintai dari balik bayang-bayang pilar.
Dengan gerakan cepat yang terlatih, Mia meletakkan kotak itu tepat di titik tengah lapangan, lalu berbalik dan lari menghilang ke arah kegelapan lorong stadion seolah dikejar oleh hantu.
Elara menunggu dalam keheningan yang menyesakkan. Satu menit. Dua menit. Setelah memastikan Mia benar-benar menjauh dan suara langkahnya menghilang, Elara bangkit. Ia turun dari tribun dengan gerakan atletis, melompati pagar pembatas setinggi dua meter dan mendarat di lapangan tanah yang gersang dengan debu yang mengepul kecil. Ia berlari kecil menuju kotak itu, memungutnya, dan langsung memasukkannya ke dalam ransel taktisnya yang kosong. Keberatan kotak itu terasa nyata di punggungnya.
"Satu langkah lagi, Elara, dan kau akan menyesal pernah turun dari tribun itu."
Suara itu berat, dingin, dan sangat familiar, memotong kesunyian stadion seperti pisau bedah. Elara mematung. Di depan pintu keluar stadion, sesosok figur berdiri tegak dengan zirah yang masih menyisakan bekas goresan kasar dari pertempuran sebelumnya—Kael.
Kael berjalan pelan mendekati Elara, setiap langkah kaki prostetiknya menimbulkan dentuman hidrolik yang menggema di seluruh stadion, terdengar seperti peringatan kematian. Wajahnya yang pucat karena kekurangan darah kini tampak memerah oleh amarah yang tertahan, matanya berkilat penuh pengkhianatan.
"Kenapa kau hanya melucuti perlengkapanku saja di rumah itu, Elara?" tanya Kael, suaranya penuh ancaman yang tertuju langsung ke jantung. "Kenapa kau tidak menghabisiku selagi aku tak berdaya?"
Elara mundur perlahan, matanya membelalak panik. "Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukankah kau seharusnya... di bawah pengawasan medis?!"
"Benar," jawab Kael tanpa menghentikan langkahnya yang predatoris. "Aku di ruang medis, tapi aku tidak mengizinkan perawat memberitahu kondisiku kepada siapa pun. Aku tahu kau akan langsung bergerak setelah aku 'tumbang'. Sepertinya semua ini sesuai dengan apa yang kucurigai selama ini. Kau terlalu mudah ditemukan bagi seseorang yang ingin bersembunyi."
Kael berhenti beberapa meter di depan Elara, auranya menekan udara di sekitar mereka. "Kau yang meledakkan pasar untuk membiarkan Silas lolos? Kau yang melumpuhkanku di rumah itu agar aku tidak melihat foto di dinding? Jadi, kau benar-benar mata-mata Silas? Atau mungkin kau lebih buruk dari itu?"
"Tidak! Bukan begitu! Kau tidak mengerti!" Elara berseru, suaranya bergetar antara ketakutan dan frustrasi.
Kael tidak membalas dengan kata-kata. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar kertas yang baru saja ia temukan setelah menggeledah kamar pribadi Elara di barak. "Semuanya terjawab hanya dengan satu bukti ini." Kael melemparkan kertas itu. Kertas itu melayang di udara, menari-nari ditiup angin sebelum mendarat tepat di dekat kaki Elara.
Elara memungutnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia membersihkan debu yang menempel di permukaan foto tersebut dengan ibu jarinya. Itu adalah foto dirinya, bertahun-tahun lalu, sedang tersenyum tulus di samping Herlon. Kebahagiaan yang telah lama mati dan terkubur kini menatapnya kembali dari balik kertas usang itu.
"Keluarga yang kau bilang 'tidak ada'," desis Kael dengan nada meremehkan.
Dalam sekejap mata, Kael menerjang. Ia berlari dengan kecepatan tinggi, kaki prostetiknya memberikan dorongan hidrolik maksimal yang menciptakan kawah kecil di tanah saat ia lepas landas.
DUAK!