Delapan tahun lalu, waktu seolah berhenti berputar di Distrik B. Hujan abu turun dari langit yang sakit, menyelimuti setiap sudut pemukiman dengan jelaga kelabu yang tebal, mengubah dunia menjadi monokrom yang kelam dan menyesakkan. Di dalam sebuah gubuk kecil yang kini terasa terlalu luas, seorang wanita terduduk di atas lantai tanah yang dingin. Matanya kosong, memantulkan bayangan redup dari lampu yang hampir habis.
Di depannya, sebuah ranjang kayu kecil berdiri membisu. Ranjang itu dibuat dengan tangan gemetar oleh Herlon beberapa minggu sebelum ia tewas, penuh dengan bekas serutan yang kasar namun penuh cinta. Di atasnya, sebuah selimut rajut berwarna pudar masih tertata rapi, menunggu kehangatan yang telah direnggut paksa.
Bayi itu baru saja menghirup udara dunia selama beberapa jam. Bayi mungil yang mereka beri nama Lilly. Namun, tangan-tangan besi Citadel tidak memberikan waktu bagi seorang ibu untuk sekadar memberikan kecupan pertama yang tulus. Karena golongan darahnya yang langka, Lilly bukan lagi seorang manusia di mata hukum; dia adalah aset negara, sebuah baterai biologis yang terlalu berharga untuk dibiarkan tinggal di dalam gubuk kumuh.
Kematian Herlon telah merenggut separuh jiwanya, dan pengambilan paksa Lilly oleh pasukan Rangers pagi itu telah merampas sisa nyawanya.
Wanita itu menyentuh tumpukan pakaian bayi yang sudah dicuci bersih dengan air hujan yang disaring, dot yang masih baru, dan mainan kayu sederhana berbentuk burung. Setiap benda itu kini berubah menjadi duri yang menusuk jantungnya setiap kali ia bernapas. Selama berhari-hari, ia hanya menatap pintu kayu yang miring, berharap Herlon akan masuk membawa kantong gandum atau suara tangis Lilly akan memecah kesunyian yang mengerikan itu.
Namun, hanya desis angin dan jatuhnya abu di atas atap seng yang menjawabnya.
"Aku tidak bisa mati di sini," bisiknya pada bayang-bayang di sudut ruangan, suaranya pecah dan nyaris tak terdengar. "Jika aku mati di sini, siapa yang akan mengingat namamu, Lilly? Siapa yang akan membawamu pulang?"
Dengan kaki yang gemetar karena kelaparan yang melilit perut dan hati yang telah hancur berkeping-keping, ia berdiri. Ia meninggalkan gubuk itu tanpa membawa apa pun kecuali kenangan yang membakar. Ia mulai berjalan, langkah demi langkah, meninggalkan debu Distrik B menuju menara-menara perak yang berkilau angkuh di cakrawala-Citadel, tempat di mana pencuri nyawanya bersembunyi.
Perjalanan itu adalah neraka panjang di atas aspal yang retak dan udara yang beracun. Ketika ia akhirnya sampai di depan gerbang raksasa Citadel yang menjulang ratusan meter, ia disambut oleh moncong sentry gun yang dingin, yang secara otomatis mengikuti setiap gerakannya dengan laser merah yang mematikan.
"Pergi dari sini, pengemis!" teriak seorang Ranger muda dari balik barikade baja. "Gerbang ini bukan tempat untuk meminta-minta! Sektor Luar punya tempat sampah untuk orang sepertimu!"