Lampu depan motor listrik Elara membelah kabut pagi yang pekat, menciptakan terowongan cahaya yang gemetar di tengah reruntuhan distrik yang telah lama mati. Angin dingin Sektor Luar menusuk masuk melalui celah-celah zirahnya yang retak, mengirimkan sensasi menggigil yang menyakitkan, namun Elara tidak merasakannya. Fokusnya telah terkunci pada satu titik koordinat: pelabuhan tua yang tampak seperti siluet raksasa di ujung cakrawala.
Sambil memacu motor dengan satu tangan, tangan lainnya merogoh saku taktis di paha zirahnya yang berlumur debu. Ia mengeluarkan alat komunikasi rakitan kecil itu, sebuah benda kasar yang menjadi satu-satunya jembatan antara identitas palsunya dan tujuan aslinya. Ia menyalakannya dengan jempol yang gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang mulai terkuras. Lampu indikator hijau berkedip lemah, seolah ikut sekarat. Elara menghela napas lega; alat itu masih bertahan setelah guncangan ledakan dahsyat di stadion tadi.
Ia mendekatkan alat itu ke bibirnya, suaranya rendah namun tegas, memecah deru angin.
"Black Canary! Sebuah topeng yang retak hampir seluruhnya terlepas. Saatnya layarku jelas di hadapanmu. Kapal karam!"
Tanpa menunggu jawaban, ia mematikan alat itu dengan sekali tekan, menghancurkan frekuensi tersebut selamanya. Pesan kode itu adalah sinyal terakhir—sebuah proklamasi bahwa perannya selama delapan tahun telah usai.
Elara memutar selongsong gas motornya hingga maksimal. Suara desingan mesin listriknya meningkat menjadi jeritan tinggi. Ia melewati barisan tumpukan kontainer yang berkarat, saksi bisu kejayaan perdagangan masa lalu, dan jalanan pelabuhan yang retak-retak hingga menyerupai jaring laba-laba. Di kejauhan, air laut tidak lagi terlihat biru; hanya ada hamparan lumpur hitam pekat dan limbah kimia yang mengeras, menelan dermaga-dermaga yang dulu megah dalam pelukan racun.
Matanya menangkap siluet motor milik Mia yang terparkir sembarangan, tersembunyi dengan terburu-buru di balik tumpukan palet kayu yang membusuk. Elara mengerem mendadak, ban motornya mengunci dan menyeret debu pelabuhan. Ia melompat turun sebelum motor benar-benar berhenti, lalu berlari menuju sebuah kapal kargo raksasa yang kandas secara vertikal di daratan lumpur.
Di dalam lambung kapal yang gelap, pengap, dan berbau besi tua yang lembap, langkah kaki Elara bergema keras di lorong logam yang sempit. Di ujung lorong yang remang-remang, ia melihat sosok yang dicarinya. Mia berdiri di sana dengan wajah penuh kecemasan. Namun, begitu sorot mata Mia menangkap setelan Ranger Elara yang compang-camping, penuh goresan, dan tanpa helm—gadis itu tersentak hebat seolah melihat malaikat maut.
"Sial! Ini jebakan! Kau menemukanku!" teriak Mia dengan suara melengking. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung berbalik dan berlari menaiki tangga besi spiral yang curam dan berkarat.