Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #33

Chapter 32 : Mirror

Keheningan di dalam gudang itu begitu tajam, hingga suara tetesan air dari kincir angin di luar terdengar seperti detak bom waktu yang menghitung mundur kehancuran mereka. Jack masih menodongkan senjatanya dengan tangan yang kokoh, sementara Lea menahan napas, matanya tak lepas dari zirah Rangers Elara yang retak-retak dan berlumuran jelaga.

​Silas memberikan kode dengan telapak tangannya agar yang lain tetap tenang, namun tatapannya sendiri tetap setajam silet, mengunci setiap gerak-gerik Elara dengan kewaspadaan seorang predator yang sedang menilai ancaman.

​"Bagaimana kau bisa sampai ke sini, Elara?" tanya Silas dengan nada rendah yang mengancam. "Dan kenapa kau bisa membawa benda yang baru saja dicuri dariku?"

​Elara mengatur napasnya yang pendek dan parau, jemarinya yang gemetar masih terangkat tinggi di udara sebagai tanda menyerah yang mutlak. "Mia, tentu saja. Kau ingat? Setelah kau tertangkap di hemo-farm ilegal itu, aku yang menyusun rencana agar kau bisa bernapas sedikit lebih lama. Aku menyuruh Mia mengikutimu jika kau berhasil kabur. Aku tahu Mia, dengan kelincahannya, akan berhasil menemukanmu. Maka aku menyuruhnya mengambil kotak berisi file yang kucuri setelah perencanaan bertahun-tahun di dalam sistem Citadel. Lalu saat itu kau malah terpojok di pasar gelap oleh Kael... dan akulah yang menyelamatkanmu dari kakinya."

​Jack dan Lea saling pandang, keraguan dan keterkejutan terpancar jelas di wajah mereka. Mereka melirik Silas dengan tatapan tak percaya yang mendalam, mencoba mencerna pengkhianatan di balik pengkhianatan ini.

​"Jadi... kau bisa lolos hidup-hidup dari kepungan Rangers tempo hari karena orang ini?" tanya Lea, suaranya naik satu nada karena rasa sangsi yang memuncak.

​Silas hanya mengangkat kedua bahu dan tangannya dengan gestur getir, sebuah tawa kering tanpa suara keluar dari tenggorokannya. "Sudah kukatakan sejak awal, bukan? Ini rumit."

​Elara melangkah satu tindak maju, meski moncong senjata Jack mengikuti kepalanya. Dengan gerakan lambat, ia meletakkan kotak hitam ber-LED biru itu di atas meja kayu yang dipenuhi perkakas Matthew. "Karena itu... kini bantulah aku. Bantu aku menemukan nama anakku di dalam kotak ini. Aku sudah membakar jembatanku dengan mereka. Aku sudah meledakkan rekanku sendiri di stadion. Aku tak mungkin diterima kembali oleh Citadel. Aku hanyalah mayat yang berjalan jika misi ini gagal. Tolong... Namanya Lilly, keturunan Herlon."

Lihat selengkapnya