Langkah Kael terasa berat, setiap sendi logam di kakinya mengeluarkan bunyi berdecit yang menyakitkan, seperti jeritan besi yang dipaksa bekerja melampaui batas elastisitasnya. Asap tipis masih mengepul dari beberapa bagian zirah taktisnya yang hancur, membawa aroma tajam ozon dan polimer terbakar. Ledakan yang dipicu Elara di stadion ternyata jauh lebih merusak dari yang ia duga; beberapa tabung Hemo-cells cadangan di sabuknya pecah, cairannya menguap dan justru bertindak sebagai akseleran, menambah daya hantam ledakan tersebut hingga meremukkan pelindung dadanya.
Dunia di sekitar Kael terasa miring, berputar dalam poros yang tidak stabil. Ia terbatuk hebat, meludahkan debu kelabu dan sisa rasa besi yang pekat dari mulutnya. Di tengah sunyinya stadion yang hancur, dari kejauhan—tepat di atas motornya yang masih berdiri tegak layaknya monumen kesetiaan di luar zona ledakan—sebuah suara statis memecah kesunyian. Radio jarak jauh itu berbunyi, sebuah frekuensi darurat yang menusuk telinga.
Kael memukul-mukul sisi helmnya dengan telapak tangan bajanya, mencoba mengusir denging yang tak kunjung hilang. Visor pelindungnya telah retak seribu, menciptakan pola sarang laba-laba yang mengaburkan pandangan HUD (Heads-Up Display)-nya menjadi sekumpulan piksel yang mati. Seharusnya, audio dari sistem navigasi motor itu tersinkronisasi langsung ke dalam implan saraf di helmnya, tapi sirkuit itu kini hangus, menyisakan kesunyian yang mengisolasi.
Dengan langkah yang tertatih dan menyeret kaki prostetiknya yang mulai kehilangan torsi, Kael memaksakan tubuhnya menuju motor. Ia menyambar gagang radio dengan kasar, jemarinya yang terbungkus sarung tangan taktis menyisakan bekas noda darah pada konsol motor.
"Kapten Kael di sini," suaranya parau, nyaris habis seperti gesekan amplas pada beton.
"Kapten, syukurlah Anda merespons," suara operator di pusat komando Citadel terdengar mendesak, penuh dengan urgensi yang jarang ia dengar. "Radar kami menangkap aktivitas darurat tingkat tinggi. Sebuah protokol enkripsi data tingkat tinggi milik Citadel telah dibuka secara paksa. Ini adalah data krusial yang dapat merusak integritas seluruh sistem jika jatuh ke tangan faksi perlawanan. Lokasi sumber transmisi berada di Sektor Bawah, dan menurut pelacakan biometrik terakhir, Anda adalah unit terdekat yang masih aktif."
Kael terdiam sejenak, matanya yang merah karena iritasi menatap kosong ke arah cakrawala yang tertutup polusi. "Data apa? Siapa yang membukanya?"
"Kami tidak memiliki akses ke detailnya, Capt. Ini adalah protokol bayangan, Classified. Pihak Hegemony telah mengambil alih kendali informasi sepenuhnya; mereka hanya memerintahkan kami untuk memberikan peringatan pada unit lapangan. Bergeraklah cepat, tapi jangan gegabah. Sensor satelit menunjukkan lokasi itu mungkin adalah sebuah markas atau gudang tersembunyi. Siapa pun di sana, mereka sepertinya tidak menyadari bahwa pembukaan data tersebut memicu protokol pengaman diam-diam Citadel. Anda memiliki jendela waktu sempit sebelum mereka menghilang."
"Bantuan?" desis Kael, sambil mencoba memeriksa sisa amunisi di sabuknya.
"Satu skuadron pengejar sedang dalam perjalanan. Namun, posisi Anda saat ini sangat menguntungkan untuk melakukan pencegahan awal sebelum subjek melarikan diri."