Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #35

Chapter 34 : Collusion Of Fates

Silas berdiri mematung di tengah keremangan, matanya yang tajam bak elang pengintai tertuju pada pintu baja besar yang berderit terbuka secara perlahan. Bunyi gesekan logam itu terdengar seperti geraman monster yang sedang lapar. Silas tahu ini bukan sekadar embusan angin; ini adalah undangan maut yang dikirimkan langsung oleh Citadel.

​Jack memberikan kode visual yang sangat cepat—dua jari menunjuk ke arah pintu, lalu mengepal—meminta izin untuk melakukan penyergapan instan. Silas mengangguk tipis, sebuah gerakan yang nyaris tak terlihat. Tangannya perlahan turun meraba paha kanan, merasakan dua gagang dingin dari pisau lempar terakhirnya yang tersisa. Ia menarik napas dalam, memfokuskan seluruh instingnya untuk skenario terburuk yang pernah ia bayangkan.

​Jack mendekat ke ambang pintu dengan langkah tanpa suara, moncong handgun-nya mengarah lurus ke celah pintu yang kian melebar. Dengan satu sentakan kuat yang mengandalkan seluruh berat tubuhnya, Jack menendang pintu baja itu hingga terbuka lebar, membentur dinding dengan dentuman yang memekakkan telinga.

​Kosong. Hanya debu yang menari di bawah cahaya fajar.

​"Tidak ada siapa-siapa!" teriak Jack, suaranya bergema di seluruh ruangan kosong.

​Namun, di detik yang sama, suara desingan energi yang sangat dikenal Silas—suara frekuensi tinggi yang menandakan overcharge sistem hidrolik—bergema dari arah samping yang tak terduga.

WHIRRR—BOOM!

​Kael tidak masuk lewat pintu utama. Ia adalah seorang predator yang tahu cara memotong jalur. Ia menghancurkan jendela samping gudang dengan bahu berlapis bajanya, melesat masuk seperti peluru perak di tengah kepulan debu beton dan serpihan kaca yang berkilauan. Dengan dorongan energi kinetik yang meledak dari kaki prostetiknya, Kael mendarat dengan dentuman keras dan langsung melayangkan tendangan lateral yang brutal ke arah dada Silas.

​Silas terlempar ke belakang layaknya boneka perca, tubuhnya menghantam meja kerja Matthew hingga peralatan lab, botol-botol kimia, dan kabel-kabel tembaga berhamburan ke segala arah.

​"Kael!" teriak Lea, suaranya melengking di tengah kekacauan. Ia langsung melepaskan tembakan beruntun bersama Jack, peluru-peluru menembus udara, menciptakan garis-garis cahaya oranye.

​Kael berguling di lantai beton dengan kelincahan yang mengerikan, gerakannya patah-patah namun sangat efisien khas prajurit elit yang telah membuang segala emosi demi fungsi. Ia menendang sebuah meja kayu ek yang sangat berat hingga terguling dengan satu kaki prostetiknya, menjadikannya barikade darurat. Peluru-peluru dari pistol Jack dan Lea hanya bersarang di kayu tebal itu, menimbulkan serpihan kayu yang beterbangan.

​"Kalian terlalu berisik!" geram Kael dari balik perlindungan.

Lihat selengkapnya