Deru mesin van tua itu menjerit, suaranya parau seperti monster yang sekarat saat Matthew menginjak pedal gas dalam-dalam, memaksa dynamo berkarat itu bekerja melampaui batas kewajaran hingg van itu meluncur liar. Di belakang mereka, siluet motor Ranger yang dikendarai Kael melesat dengan kestabilan yang mengerikan, memangkas jarak inci demi inci dengan presisi seorang predator yang telah mengunci mangsanya.
"Ayo, lebih cepat, Prof! Dia mulai mendekat!" teriak Elara dari kursi penumpang. Matanya yang tajam terus melirik kaca spion yang bergetar hebat, memperlihatkan sosok Kael yang kian membesar di balik debu jalanan.
Elara melihat cara Matthew memegang kemudi—terlalu kaku, buku-buku jarinya memutih, dan setiap gerakannya penuh dengan keraguan yang mematikan. Di tangan seorang akademisi, van ini tidak akan bertahan lebih dari dua blok sebelum Kael menyalip dan meledakkan ban mereka.
"Pindah posisi, Matt! Cepat! Lepaskan kemudinya!" perintah Elara tegas, suaranya tidak menerima bantahan. "Kael tidak akan berhenti sampai dia melihat kita hancur. Jika dia berhasil menepi, kita tamat!"
Matthew mendengus frustrasi, mencoba menjaga keseimbangan van yang berguncang hebat saat ia merangkak dengan kikuk pindah ke kursi tengah. Di saat yang bersamaan, Elara melompat ke kursi kemudi dengan kelincahan seorang gerilyawan, mengambil alih kontrol tanpa sedikit pun menghentikan laju kendaraan.
"Jika bukan karena teknologi Oasis yang kukhawatirkan, Elara, aku tidak akan sudi menunggumu di gudang maut tadi!" seru Matthew sambil terhempas ke dinding dalam van.
"Simpan dulu kekhawatiranmu untuk nanti, Matt! Sekarang, fokuskan pikiranmu agar kita bisa lepas dari Kael!" sahut Elara. Ia membanting setir ke kanan dengan kasar, membuat ban van mencicit nyaring saat ia sengaja menghalangi jalur motor Kael tepat ketika pria itu mencoba menyalip dari sisi sempit yang berbahaya.
Di belakang mereka, Silas memacu motornya sekuat tenaga. Mesin motornya meraung di batas maksimal, mengeluarkan suara desingan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga, namun ia masih tertinggal beberapa meter di belakang Kael. Silas bisa melihat dari kejauhan bagaimana Elara dengan nekat menggunakan badan van yang berat sebagai tameng, bergerak zig-zag secara ekstrem untuk menghalangi setiap manuver Kael.
Silas mencondongkan tubuhnya ke depan hingga dadanya hampir menyentuh tangki, membelah angin dingin yang menusuk. Ia harus mendekat. Ia harus menjadi pengalih perhatian. Jika Kael dibiarkan fokus pada van, Matthew dan data itu tidak akan pernah sampai ke tujuan.
Dengan kecepatan motornya, Silas berhasil memposisikan kendaraannya di samping kanan Kael. Ia mencoba menghimpit, bermaksud mendorong Kael ke arah reruntuhan bangunan, namun Kael meliriknya dengan mata dingin yang penuh penghinaan di balik wajahnya yang bersimbah peluh. Tanpa melepaskan tangan dari kemudi, Kael mengangkat kaki kiri prostetiknya—sebuah gada logam yang mematikan.
DUAK!
Tendangan logam itu menghantam tangki motor Silas dengan kekuatan hidrolik. Silas tersentak hebat, motornya oleng ke sisi jalan, ban depannya menari liar di atas kerikil. Silas harus mengerem paksa agar tidak tergelincir masuk ke dalam reruntuhan bangunan, membuat jaraknya dengan Kael kembali menjauh beberapa meter.
"Sial..." desis Silas, merasakan getaran di tangannya. Kali ini, ia tidak akan mencoba dari sisi kanan yang menjadi jangkauan kaki kuat Kael. Ia memacu motornya kembali, menyalip lewat sisi kiri yang lebih terbuka dan dekat dengan bibir tebing.