Flow of Red

ElevatedBeat
Chapter #37

Chapter 36 : Flow of Red

Gudang tua di tepian jurang itu terasa seperti peti mati raksasa yang terbuat dari logam berkarat dan kayu lapuk yang merintih setiap kali angin menghantamnya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah atap yang bocor menciptakan kolom-kolom debu yang menari di udara, memberikan penerangan yang tak menentu, seolah-olah waktu sendiri telah membeku di tempat ini. Keheningan di dalamnya begitu pekat dan berat, hanya terganggu oleh suara derit struktur bangunan yang ditiup angin kencang dari arah tebing—suara yang terdengar seperti napas tersengal dari sebuah raksasa yang sekarat.

​Kael melangkah tertatih, setiap detak bot beratnya di atas lantai kayu yang rapuh menimbulkan suara dentuman pelan yang bergema di seluruh ruangan. Ia mengatur napasnya yang pendek, mencoba menenangkan denyut jantungnya yang berpacu melawan rasa sakit yang menusuk. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut gelap, mencari bayangan di antara tumpukan kotak besi dan bahan bangunan yang terbengkalai. Gudang itu kini bukan lagi sekadar tempat perlindungan; ia telah berubah menjadi labirin maut yang dirancang oleh musuh yang sangat mengenal rasa sakit.

Syuuut!

​Sebuah kilatan perak meluncur dari kegelapan dengan kecepatan yang nyaris tak kasat mata. Dengan refleks yang lahir dari ribuan jam pelatihan brutal di akademi Citadel, Kael memberikan dorongan singkat pada kaki prostetiknya, menggeser tubuhnya beberapa inci ke samping. Pisau lempar Silas tertancap di sebuah balok kayu tepat di belakang kepala Kael, bergetar hebat dengan dengungan logam yang tajam.

​"Jangan bersembunyi seperti tikus, Silas!" suara Kael menggema, dingin dan penuh otoritas, meski ada nada keletihan yang ia sembunyikan.

​Tiba-tiba, suara benda berat terjatuh terdengar di depannya, di balik tumpukan peti. Kael tersenyum sinis, mengira ia telah memojokkan mangsanya yang terluka. Namun, di saat yang sama, sebuah desingan halus datang dari arah samping—sudut butanya yang tidak terlindungi oleh zirah.

Srat!

​Pisau kedua Silas berhasil menyayat lengan kanan Kael yang kini terbuka karena lapisan jirah pelindungnya sudah hancur. Darah segar merembes keluar, membasahi kain seragamnya yang kotor dan hangus.

​"Bahkan dalam keadaanku yang hancur, kau masih saja lambat, Kael," suara Silas terdengar dari balik tumpukan peti di sisi lain, rendah dan bergetar karena menahan rasa sakit yang sama besarnya.

​Kael menggeram, menekan luka di lengannya dengan tangan kirinya yang kaku. "Keluar, Silas! Bertarunglah seperti lelaki. Akan kupatahkan kakimu hingga kau tak bisa merangkak lagi menuju perbatasan!"

​Pisau ketiga meluncur. Kali ini Kael melihat sumbernya. Ia menerjang maju dengan raungan amarah, berniat menghancurkan apa pun yang menghalanginya. Namun, pisau Silas tidak mengarah ke arah Kael. Mata pisau itu memotong tali tambang usang yang menopang tumpukan balok kayu berat di atas kepala Kael.

BRAKK!

​Reruntuhan kayu jatuh menutup jalan di depan Kael secara instan, menciptakan dinding barikade baru. Debu mengepul hebat, menyesakkan paru-paru. Kael terbatuk, amarahnya memuncak hingga matanya memerah, namun ia menahan diri untuk tidak melakukan tendangan charge demi membuka jalan. Ia tahu, Ia harus menghemat setiap tetes daya yang tersisa.

​"Sepertinya kau tidak membawa banyak baterai mainanmu ya, Kael?" suara Silas berpindah tempat lagi, terdengar seperti hantu yang merambat di antara bayangan.

Lihat selengkapnya