Gudang itu mengeluarkan erangan panjang, sebuah suara kematian dari material yang sudah tidak sanggup lagi menahan beban. Struktur besi raksasa yang menopang bangunan di tepian jurang mulai melengkung di bawah tekanan gravitasi, mengeluarkan suara decitan logam yang menyayat telinga, bergema hingga ke dasar tebing.
Kael tidak peduli pada maut yang mengintai dari bawah lantai. Ia sudah menyerahkan nyawanya pada Internal Source System. Wajahnya yang biasanya seputih porselen kini pucat pasi, namun pembuluh darah di lehernya menegang, berdenyut keras saat ia menerjang Silas dengan sisa tenaga yang menghancurkan. Setiap langkahnya meninggalkan retakan pada kayu.
Silas mencoba menangkis, namun tulang-tulangnya terasa seperti terbuat dari kaca yang siap pecah. Kael melancarkan tendangan charge penuh amarah, sebuah serangan yang didorong oleh keputusasaan sistem sarafnya. Silas berhasil menghindar di detik terakhir dengan menjatuhkan diri, membuat kaki logam Kael menghantam pilar besi utama gudang.
BOOM!
Goncangan hebat merambat ke seluruh lantai, meruntuhkan langit-langit. Rak-rak bergeser, debu tebal menyelimuti pandangan, dan tiba-tiba, sebuah suara membelah kebisingan pertarungan mereka-suara jeritan manusia yang melengking ketakutan. Dari balik sekat-sekat kayu di bagian samping gudang yang gelap, sosok-sosok bayangan berlarian panik.
Mereka bukan Rangers. Mereka bukan gerilyawan. Mereka adalah warga sipil, tunawisma yang menjadikan gudang terbengkalai ini sebagai satu-satunya tempat perlindungan dari dinginnya dunia luar. Silas tertegun, matanya membelalak melihat warga tak bersalah-orang tua, wanita, dan anak-anak-terjebak di tengah medan tempur yang ia ciptakan. Konsentrasinya pecah berkeping-keping.
Kael tanpa kompromi memanfaatkan celah itu. Ia menghujani Silas dengan tendangan bertubi-tubi yang tak sanggup dibendung. Silas mencoba bangkit, namun sebuah hantaman keras mendarat di rahangnya, disusul tendangan telak yang menghujam ulu hati. Silas terkapar terlentang, darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi lantai kayu yang berdebu.
Kael melangkah maju dengan sisa energi biologisnya, mencengkeram leher baju Silas dan menginjak tangan kanannya ke lantai. Napas Kael memburu, matanya merah karena pendarahan kecil di selaput mata akibat tekanan sistem.
"Katakan padaku... apa kalimat terakhirmu sebelum aku menghabisimu?" desis Kael, suaranya seperti bisikan iblis.
Silas terbatuk, tawanya terdengar serak di antara genangan darah yang mengental. "Kau bertanya apa yang diinginkan kriminal sepertiku? Aku ingin... rumah setiap orang menyala setiap malam. Aku ingin kedamaian tanpa harus membangun tembok tebal yang memisahkan kita dari kemanusiaan."
Rahang Kael mengeras, matanya berkilat penuh penolakan. "Mimpi yang berbahaya."