Debu dan asap membubung tinggi dari dasar jurang, menciptakan tirai abu-abu yang menutupi nisan raksasa bagi gudang tua yang akhirnya berhenti merintih. Di atas tebing, Elara dan Matthew berdiri mematung dengan napas tertahan, mata mereka menyapu kegelapan yang menganga di bawah sana. Keheningan yang menyusul terasa begitu menyiksa dan berat, seolah-olah alam semesta sendiri sedang menahan napas untuk berduka atas apa yang baru saja hilang.
Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah suara frekuensi tinggi yang sangat dikenal mulai membelah kabut tebing.
WHIRRR—BOOM!
Sesosok bayangan gelap melesat ke atas dari balik jurang dengan dorongan hidrolik yang dipaksakan hingga batas maksimal. Kael mendarat di atas aspal jalanan yang retak—tubuhnya terhuyung berat dengan dentuman logam yang keras, mengirimkan gelombang debu beterbangan di sekelilingnya. Di atas bahunya yang lebar dan hancur, ia membopong tubuh Silas yang tak sadarkan diri, terkulai lemas seperti boneka kain yang rusak parah, wajahnya bersimbah darah namun masih menunjukkan sisa-sisa napas yang tipis.
Elara berlari menghampiri tanpa memedulikan ancaman senjata, matanya dipenuhi kelegaan yang nyaris membuatnya jatuh berlutut. "Silas! Dia masih hidup? Kael, katakan padaku!"
Kael meletakkan tubuh Silas dengan sangat hati-hati di permukaan jalan yang rata, seolah-olah ia sedang memegang porselen yang rapuh. Ia terengah-engah, wajahnya pucat pasi menunjukkan kelelahan biologis yang luar biasa setelah menguras energi vitalnya. "Tepat sebelum bangunan itu benar-benar runtuh total... aku hanya sempat berpikir untuk memasukkan tubuhnya ke dalam sebuah peti besi pengangkut bahan bangunan terdekat di sudut ruangan. Logam itu melindunginya dari reruntuhan utama, meski guncangannya tetap menghancurkan tubuhnya dari dalam."
Matthew mendekat dengan tangan gemetar, memeriksa denyut nadi di leher Silas yang lemah. "Dia butuh perawatan medis segera. Tulang rusuk, organ dalam, dan lengannya... ini parah. Kita harus bergerak sekarang."
Kael berdiri tegak kembali, meski kakinya bergetar. Matanya yang dingin dan penuh otoritas kini menyapu ke arah Elara dan Matthew. "Cepat, serahkan kotak hitam itu padaku. Sekarang juga!"