FORBIDEN LOVE

Dewi Hana
Chapter #1

Bab 1

"Kau sangat cantik Catrine."


Lelaki 50 tahun itu membelai lembut tubuh Catrine, wanita muda yang secara tak sengaja ia jumpai di sebuah bandara. Pertemuan singkat mereka ternyata menumbuhkan bibit-bibit cinta di antara keduanya. Cinta karena nafsu akan hadirnya daun muda, serta cinta karena harta, membuat Catrine tak lagi memedulikan tentang rentang usia mereka.


"Apakah Agatha juga cantik?" Catrine menatap mata Dave, lelaki beristri itu sudah setahun menjadi kekasihnya. Hanya Luna, satu-satunya orang yang mengetahui hubungan gelap mereka.


"Kau mulai lagi, Sayang," ucap Dave mempererat pelukannya ke tubuh ramping Catrine. Dave mengecup leher Catrine, mengendus wangi parfum tubuhnya.

"Aku cemburu, apakah salah?" tanya Catrine mengusap wajah Dave yang menyentuh pipinya.

"Tidak, bukankah itu berarti kau mencintaiku? Tapi, satu hal yang perlu kau tahu, Sayang. Aku benar-benar jatuh cinta padamu melebihi apa pun juga. Kau adalah duniaku, Catrine."

Catrine tersenyum, ditatapnya pantulan diri mereka dari jendela besar yang tertutup tirai tipis. Lelaki itu meraba perut Catrine, kemudian naik untuk meremas sesuatu yang membuatnya selalu bergairah. Muda dan menggemaskan, sebuah rasa yang tak ia dapatkan lagi dari tubuh Agatha, istrinya.


"Kau mau apa?" Catrine tertawa, saat tangan Dave semakin liar menjelajah tubuh rampingnya itu.


"Menghabiskan malam ini di atas tempat tidur denganmu, Catrine. Aroma tubuhmu membuatku tak mampu menahannya." Dave meraih tubuh wanita muda itu, mengendongnya dan meletakkannya di atas tempat tidur mewah mereka.


Tak butuh waktu lama bagi Dave untuk melepaskan gaun tidur Catrine, memperlihatkan tubuh polosnya nan lembut.


Mata Dave meredup, tatkala Catrine membenamkan kepalanya lebih dalam lagi, memberikan sensasi kenikmatan yang berbeda, sesuatu yang tak pernah dilakukan Agatha padanya.

Benar, Agatha selalu menolak meskipun Dave telah memintanya. Semakin lama, Dave memilih untuk diam. Merasa putus asa sekaligus lelah dengan penolakan itu. Bagaimanapun juga, ia masih memiliki harga diri, bukan?


Catrine mendongak, menatap rahang Dave yang mengeras dari bawah sana. Perempuan itu tahu, kalau Dave begitu menikmati apa yang telah ia lakukan padanya.


"Kau menyukainya?" suara Catrine membuka mata Dave, lelaki itu menatap Catrine, tersenyum seraya menangkup kedua pipi Catrine dengan tangannya.


"Kau sangat pintar, Sayang," ucap Dave meminta Catrine untuk berbaring di sisinya lagi.


"Sekarang giliranku." Dave berkata lirih, tak sabar untuk membuat pujaan hatinya itu meronta di dalam kenikmatan.


...


"Kapan ayah kembali? Aku membutuhkan tanda tangannya untuk melanjutkan proyek kita." Ethan mengaduk semangkuk sup di hadapannya, mencari potongan-potongan daging di antara beberapa jenis sayuran di dalam sana.


"Mungkin lusa, Ibu akan memastikannya lagi. Akhir-akhir ini ayahmu sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Apakah perusahaan kita menambah investor dari luar kota lagi, Ethan?"


Ethan mengangguk, membenarkan pertanyaan Agatha, ibunya. "Perusahaan kita sedang mengerjakan sebuah proyek yang lumayan, kita membutuhkan banyak investor," jelas Ethan.


"Ayahmu sangat bekerja keras, terkadang Ibu kasihan padanya."


"Ibu tidak kasihan padaku? Aku juga bekerja keras di perusahaan kita. Lihat, wajahku semakin menua karenanya," goda Ethan sembari memperlihatkan pipinya kepada Agatha.


"Astaga, kau benar. Usiamu sudah 25 tahun, tidak adakah gadis yang menarik perhatianmu, Ethan?" Agatha tersenyum melihat rona merah di pipi putra semata wayangnya itu.


"Aku bahkan tak memiliki waktu untuk melihat wanita. Ayah memberi begitu banyak pekerjaan padaku. Haruskah aku menambah pegawai agar bisa berlibur sebentar saja?"


Agatha tertawa kecil, mengusap kepala putranya yang begitu cepat menjadi dewasa, "Kau yang paling tahu tentang pekerjaanmu itu. Bicarakan saat ayahmu kembali nanti. Dia sangat percaya padamu, Ethan," kata Agatha.


"Aku tahu itu, tapi setidaknya izinkan aku mengambil cuti. Pegawai lain bahkan bisa menikmati hari libur mereka, tapi tidak denganku. Astaga, terkadang aku merasa kalau ayah terlalu kejam padaku," kata Ethan seraya tersenyum lebar.


"Itu karena kau satu-satunya penerus perusahaan kita, Ethan. Ayah tidak ingin kau lengah sedikit pun. Banyak pihak yang menginginkan perusahaan kita bangkrut."


"Aku tidak akan membiarkan itu," tegas Ethan yang kini makan dengan begitu lahap.

Lihat selengkapnya