Petugas itu datang bahkan sebelum setiap orang di dalam rumah sempat untuk menyentuh piring di meja makan. Setelah melihatnya dari lubang pintu yang hanya seukuran satu bola mata, aku tahu bahwa mustahil mengabaikannya. Dia seorang petugas pemerintahan. Kami bernasib sial. Dari pakaian abu-abunya, aku sudah mampu membayangkan nasib buruk yang menanti kami sebentar lagi.
Pintu kubuka. Dia tersenyum ramah seperti seorang sales yang menawarkan promo liburan keluarga. Tapi dia tidak akan pernah menawarkan produk semacam itu, melainkan sesuatu yang benar-benar berkebalikan. Kami mempersilakannya duduk di ruang tamu sempit dan menyediakan teh hangat untuknya yang tidak akan pernah dia sentuh sampai akhir kunjungannya. Dia memintaku memanggil seluruh anggota keluarga. Kakakku sedang mengikat dasinya, istri kakakku menata pakaian anaknya yang masih berusia tujuh tahun untuk bersiap ke sekolah, ibuku memasak di dapur dengan pakaian rapi karena setelah ini harus bergegas mengikuti sebuah rapat bulanan, sementara ayahku berada di depan jendela untuk mendapatkan sedikit paparan sinar matahari di atas kursi rodanya sambil membaca surat kabar nasional yang membosankan, dan adikku harus bersiap-siap untuk ujian masuk universitas. Petugas pemerintah itu berjanji tidak akan menyita terlalu banyak waktu, setidaknya butuh sepuluh menit saja. Jadi, kupanggil seluruh anggota keluargaku. Kami semua duduk di ruang tamu. Karena keterbatasan sofa, yang muda-muda harus berdiri atau duduk di lantai, termasuk aku. Lalu, petugas itu mengeluarkan sebuah formulir dari dalam tasnya. Ini dia, sesuatu yang kukhawatirkan. Sudah banyak kabar beredar dari para tetangga. Jika dalam kurun waktu satu bulan ada seratusan bayi yang lahir, maka harus ada seratusan orang yang bersedia untuk euthanasia. Tidak. Tidak harus mereka yang sakit-sakitan. Bisa siapa pun. Pemerintah tidak akan memaksa siapa pun karena yang harus memutuskan adalah kami sendiri sebagai sebuah keluarga. Setiap keluarga akan mendapatkan gilirannya masing-masing, hanya perlu menunggu waktu. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi setelah petugas berseragam abu-abu berwajah ramah datang ke rumahmu. Bahkan jika melarikan diri keluar negeri pun seseorang akan ditahan di bandara setelah pengecekan identitas. Singkatnya, tidak ada tempat untuk melarikan diri. Setelah mereka mengetuk pintu rumah, sudah dipastikan satu anggota keluarga harus direlakan.
Mendengar penjelasan si petugas pemerintahan yang sebenarnya telah kami pahami dengan baik sebelumnya, tak seorang pun angkat bicara. Keringat bahkan mulai muncul karena kepanikan. Tidak satu pun dari kami menyentuh formulir di atas meja. Tidak ada rasa penasaran lebih lanjut tentang formulir itu karena memang sebaiknya formulir itu benar-benar dijauhi. Kuharap, ini hanya mimpi buruk dan malam belum benar-benar menjelma pagi.
“Kami selalu memberi waktu satu bulan untuk berunding. Dalam satu bulan kami akan datang lagi untuk menjemput kandidatnya,” kata petugas pemerintah itu sambil merapikan kemejanya yang sebenarnya tidak kusut sama sekali. Melihat bentuk perutnya, sepertinya dia kesusahan jika harus duduk terlalu lama di sofa yang rendah.
Lalu dia bangkit, memintaa maaf karena mengganggu pagi kami, dan mohon pamit. Aku mengantarnya ke depan. Setelah kembali, tak seorang pun punya selera makan lagi. Kakaku, saking gugupnya, gagal berkali-kali mengikat dasinya sampai mengumpat sehingga di dengar anaknya yang masih berusia tujuh tahun. Ibuku menggeleng-gelengkan kepala dan pergi ke dapur sambil memegangi keningnya. Adikku bergegas ke meja makan untuk sarapan. Istri kakakku dan keponakanku berjalan ke meja makan mengikuti adikku. Aku mendorong kursi roda ayahku ke meja makan sambil berbisik kepadanya bahwa tidak perlu risau, aku pasti akan menemukan jalan keluarnya. Terlalu angkuh untuk berpikir semacam itu. Tidak pernah ada jalan keluar dari hal semacam ini. Yang tersisa hanyalah mengikuti instruksi, berunding dan menentukan kandidat. Selama berhari-hari setelah kehilangan pekerjaanku, aku mulai berpikir untuk mengakhiri hidupku. Tapi ketika peluang semacam itu muncul dengan fasilitas dari negara, tiba-tiba saja aku takut, aku mulai mencintai kehidupan, dan aku enggan menjadi seorang kandidat. Kami semua makan tanpa membahas formulir itu meskipun aku yakin tak seorang pun mampu menyingkirkannya dari kepala masing-masing.
Pukul tujuh pagi sudah tidak ada siapa pun di rumah kecuali aku, ayah, dan kakak iparku. Sebenarnya aku telah bersiap untuk pergi ke luar rumah, mencari peruntungan. Mereka juga sudah mendesakku untuk segera mendapatkan pekerjaan karena biaya hidup terus membengkak akhir-akhir ini karena situasi global yang memanas. Pada akhirnya, setelah pukul delapan pagi, aku pergi dari rumah. Turun dengan tangga karena rumah kami berada di lantai tiga. Kami cukup beruntung bisa tinggal di tempat semacam ini.
Populasi di negeri ini benar-benar seperti mimpi buruk. Karena mimpi buruk itulah kebijakan yang lebih buruk dari mimpi buruk semacam ini muncul dan disepakati. Bahkan mereka membuat iklan yang memuakkan tentang hal itu. Mereka berkata bahwa tidak perlu lagi angkat senjata untuk menjadi seorang patriot. Negeri yang sebagian besar penduduknya masih mudah dibohongi dengan slogan militer seperti negeri ini akan kegirangan mendengar hal semacam itu. Mereka baru benar-benar paham betapa mengerikannya hal ini ketika sebuah formulir ada di meja ruang tamu mereka. Sebenarnya sempat ada protes yang cukup masif dari kaum liberal atas kebijakan ini, tapi mereka seperti angin lalu saja. Atau, tanpa sepengetahuan kami sebagai warga negara, pembersihan demonstran secara kejam telah terjadi dan tidak ada satu pun surat kabar yang meliputnya. Mungkin ada, tapi nasib buruk menanti di hadapan mereka jika berani menyebarkannya sehingga tidak ada pilihan selain berkompromi dengan keadaan.
Aku luntang-lantung. Tas kecil berisi surat-surat rekomendasi, ijazah perguruan tinggi, dan sebuah curriculum vitae yang kujinjing benar-benar membuatku muak. Juga kemeja berkerah. Sekarang sudah mulai panas. Bulan Mei akan segera berakhir. Astaga, salah satu anggota keluarga kami nanti harus mati di hari yang panas!
Seluruh orang yang kukenal sekarang sedang bekerja, sibuk di depan komputer masing-masing. Mereka yang memilih membuka usaha juga pada sibuk dengan mengurusi bisnis kecil masing-masing. Satu-satunya yang tersisa adalah anak orang kaya berengsek yang tak pernah kepikiran untuk mencari kerja: Bill. Pagi-pagi seperti ini dia akan makan di kedai Mario, makan masakan Italia dan minum anggur murahan yang mereka sediakan. Aku tidak ingin menemuinya. Tapi di tengah jalan dia meneleponku seperti tahu bahwa aku sedang kebingungan.
“Ke sini kau, Pengangguran!”