FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #2

II

Dalam dekapan Juan siang itu di sebuah motel yang tak jauh dari tempat mereka bekerja Susan menceritakan peristiwa pagi itu. Cahaya matahari menyelinap di sela-sela jendela yang tak tertutupi gorden dengan sempurna. Pasti ada salah pengukuran ketika gorden itu dibuat. Mereka berdua masih berada di atas tempat tidur, tanpa pakaian, dan hanya ditutupi selimut. Udara memang gerah. Tapi mereka malu dengan tubuh mereka yang tak sekencang dahulu. Keriput sudah menjalar ke sekujur tubuh mereka, seperti akar yang akan mencengkeram mereka di dalam bumi kelak.

“Kau tidak akan mengorbankan dirimu sendiri, bukan? Aku, tentu saja, akan sedih,” kata Juan. Dia berusaha mencium leher Susan. Perempuan itu mendorongnya, menolak kasih sayang itu.

Juan lebih muda sepuluh tahun dari Susan, tapi setelah mencapai usia empat puluh tahun perbedaan usia tidak benar-benar berarti lagi dalam sebuah hubungan.

“Serahkan dia saja. Lagi pula, dia sudah tidak mampu bekerja. Lalu, ….”

“Jaga bicaramu,” Susan tidak membiarkan lelaki itu menyelesaikan kata-katanya. Dia tahu apa yang akan Juan katakan. Dia hanya tidak ingin mendengar hal semacam itu untuk mengelabui tindakannya yang bagi dirinya sendiri tidak dapat dia benarkan.

Juan merasa cemburu. Bahkan hubungan yang telah mereka rahasiakan selama dua tahun tidak pernah cukup untuk membuat Susan meliriknya sepenuh hati dan melupakan suaminya. Dia sebenarnya sudah lelah menunggu, tapi tidak ada perempuan yang menarik hasratnya kecuali Susan. Posisinya di perusahaan mampu membuatnya mendapatkan siapa pun yang dia inginkan. Tapi tak seorang pun yang mampu mengusir Susan dari pikirannya. Dia kemudian keluar dari selimut, berjalan menuju sebuah kursi tempat dia menanggalkan pakaiannya tadi.

“Kau marah?” tanya Susan.

Lihat selengkapnya