FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #3

3

Ketika makan malam James mulai menyinggung formulir itu. Aku segera memprotesnya. Tapi dia memakiku karena statusku yang pengangguran. Itu membuatku segera terdiam. Siapa pun tidak pernah cukup berharga ketika tidak memiliki pekerjaan. Lalu, mungkin karena emosi sesaat, dia berkata bahwa sebaiknya aku saja yang menjadi kandidat. Lebih baik daripada mengorbankan yang lain. Tak seorang pun mendukung gagasannya, tapi juga tak seorang pun yang membantahnya. Sekarang kendali rumah ini ada padanya. Ayah telah kelelahan dan semenjak kelumpuhan menyerangnya dia hanya duduk di kursi roda dengan murung tanpa benar-benar dapat melakukan hal-hal lain, termasuk memimpin dalam situasi-situasi penting seperti sekarang. Ibuku yang diam-diam membenciku karena pernah sekali memergoki perselingkuhannya—meskipun pada akhirnya aku tidak memberitahu siapa pun di keluarga ini karena aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi—juga mengabaikannya. Dia tetap menyendok makan malamnya sesuap demi sesuap. Sebisa mungkin menahan emosinya. Dia adalah orang yang tidak suka makan dalam kondisi kacau.

“Kita harus segera merundingkannya,” kata kakakku. “Lebih cepat, lebih baik. Kita bisa segera terbebas dari kecemasan ini.”

“Diamlah, James,” kata ibuku kemudian, sepertinya sudah tidak tahan lagi. “Jangan membahas hal mengerikan di meja makan.” Dia menunjuk putra pertamanya dengan sendok. Itu adalah ancaman yang sesungguhnya.

Tapi kata-kata itu tidak ada artinya. James masih tetap percaya diri dengan gagasannya. Yang dilakukan James memang tidak keliru, tapi mungkin suasananya tidak pas. Baru tadi pagi. Kami masih punya waktu satu bulan. Tapi jika dibiarkan, satu bulan akan menguap begitu saja. Satu bulan bukan waktu yang lama. Waktu tidak menunggu siapa pun. Tanpa sadar, ketika seseorang bangun dari tidurnya dan melihat kalender, satu bulan telah berlalu.

“Sialan. Mengapa harus keluarga kita!”

“Jangan mengumpat di meja makan, Ernest!” bentak ibu kepada adikku. “Fokus saja pada ujian masukmu. Besok kau masih harus menjalani tes lagi. Biarkan ini menjadi beban pikiran yang sudah dewasa!”

“Dewasa!” ulang Ernest.

Dia selalu kesal ketika masih dianggap anak-anak meskipun usianya sudah delapan belas tahun. Dia akan masuk universitas tidak lama lagi. Dia hendak berdiri, tapi ayah segera menggengam tangannya. Genggaman itu tampak kuat sehingga membuatnya mengurungkan niatnya.

“Dengar, kalian semua harus makan sekarang. Habiskan isi piring kalian. Tidak boleh ada yang terbuang. Dan tidak boleh ada suara lagi kecuali denting piring. Kita akan membahas ini, tapi tidak sekarang. Dan kau Raymond, aku harap mendengar kabar bagus darimu hari ini.”

“Tidak ada kabar bagus.” Itu adalah luapan kemarahanku.

Aku bangkit, tidak menghabiskan makanku. Aku sudah terlalu muak. Aku berjalan ke kamar untuk mengambil jaket dan pergi keluar. Rumah ini tiba-tiba berubah menjadi ruang pengadilan. Aku tidak tahan lagi. Aku cukup beradab untuk tidak terlibat perkelahian.

“Ya. Ray adalah kandidat yang tepat,” kata James sekali lagi.

“Apa yang kautahu tentang Ray, James?” bela Ernest.

“Ibu sudah bilang untuk menutup mulutmu, Ernest! Kau juga, James. Berhenti sekarang. Sebaiknya kau kembali duduk, Raymond Parker!”

Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran ayahku. Tapi melihat keluarganya yang dibangun dengan jerih payah hingga membuatnya tidak cukup tidur selama kurang lebih empat puluh tahun sedang beradu mulut di depan makanan seperti ini bukanlah sesuatu yang dia bayangkan pada mulanya. Dia hanya duduk di kursi rodanya. Menjadi yang pertama menghabiskan makanannya sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada kehidupan, lalu menunduk dengan kedua siku bersandar pada pegangan kursi roda. Dia tidak lagi menggenggam tangan adikku. Tapi tiba-tiba saja dia menyuruhku untuk kembali ke tempat duduk. Aku memandang ke arah meja makan sekali lagi. Setiap orang memandangi ayah, mungkin sedikit terkejut, sementara dia tetap menundukkan kepala.

“Kau tidak boleh pergi ketika keluargamu berkumpul untuk makan malam,” katanya lagi dengan tetap menunduk.

Akhirnya aku kembali. Tapi kemudian suasana menjadi canggung. Udara terasa berat. Tidak ada lagi yang berbicara. Kakakku lekas-lekas menghabiskan makanannya, juga menyuruh istri dan anaknya melakukan hal yang sama dengan berbisik yang masih dapat terdengar karena kesunyian ini.

Ayah dahulu orang yang paling dihormati dan ditakuti di rumah ini. Jika memungkinkan, dia hanya ingin dicintai. Tapi realitas tidak selalu sesuai dengan harapan di kepala. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara ketika dia mulai bicara dengan nada tegas. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mendengarkan dan setiap yang dia katakan harus dipatuhi. Dia tidak menerima pembangkangan. Bahkan sampai ketika penyakit saraf melumpuhkan kedua kakinya, tak seorang pun secara terang-terangan berani menentangnya. Pada akhirnya dia hanya bisa menjadi orang yang ditakuti.

Setelah makan, kakak ipar dan ibuku membereskan peralatan makan dan mencucinya. Adikku kembali ke kamarnya untuk belajar sementara kakakku mengajak putranya masuk kamar. Ayah menggerakkan roda kursinya dengan kedua tangannya ke depan televisi dan menonton acara komedi murahan di sana seorang diri sampai larut malam seperti biasa. Kadang jika tidak ada kegiatan aku akan menemaninya. Tapi sepertinya malam ini setiap orang ingin menghabiskan waktunya dalam kesendirian. Tapi ayah kemudian memanggilku, menyuruhku duduk di sampingnya di depan televisi. Aku menurutinya.

“Aku tidak keberatan,” katanya sambil menunjuk formulir yang masih ada di atas meja sejak pagi tanpa seorang pun berani menyentuh atau hanya sekadar memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Remote televisi sempat berada di sana tadi sebagai pemberat agar tidak tertiup angin ketika jendela dibuka pada siang hari.

“Apa yang ayah katakan? Tidak. Jika memang harus ada yang pergi ke sana, ayah bukanlah orangnya. Ayah masih bisa sembuh. Ini hanya penyakit remeh yang bisa dikalahkan dengan pengobatan modern. Ayah hanya perlu terapi secara rutin dan menemui dokter saraf sesuai jadwal. James mungkin benar, aku adalah orang yang tepat untuk ini.”

“Kau terlalu menyalahkan dirimu sendiri.”

Aku menggeleng. Ketika ayahku tidak berdaya semacam ini dan berbicara secara jujur, aku selalu ingin menumpahkan air mataku. Tapi saat itu aku berusaha mati-matian untuk menahannya.

Lihat selengkapnya