FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #4

IV

Sejak awal memang selalu ada jarak antara James dan Raymond. Usia mereka berjarak hanya tiga tahun. Raymond selalu menganggap James menjadi tembok tinggi yang berada di hadapannya. Tidak ada satu pun pencapaian-pencapaiannya yang mampu melampaui apa yang dilakukan James. Ibunya selalu bilang untuk mencontoh kakaknya, segala pujian selalu mengarah kepada James. Tapi James tidak benar-benar senang menerima segala pujian. Baginya, ada harapan terlalu besar yang harus dia pikul seorang diri. Sejak berada di sekolah menengah dia sudah memahami perannya. Sejak saat itu pula dia mulai berlatih untuk bersikap kuat di depan cermin. Setidaknya hanya Edith Parker, istrinya, yang benar-benar tahu sisi rapuh itu. Mereka berkencan di dua tahun terakhir masa sekolah menengah dan melanjutkannya sampai pernikahan. Setelah menikah mereka tetap tinggal di rumah itu karena desakan orang tuanya. Ayahnya selalu berkata bahwa rumah itu masih terlalu luas untuk ditempati dua keluarga lagi, meskipun kenyataannya tidak persis sama. Hanya saja James tahu bahwa ayahnya mengidam-idamkan sebuah rumah yang penuh orang. Dia pernah berkata kepada James bahwa setiap orang duduk di depan televisi setelah makan malam untuk menonton acara komedi murahan dan sama-sama tertawa karena lelucon buruk yang mereka ciptakan adalah impiannya. Di masa lalu ayahnya tidak cukup beruntung untuk memiliki keluarga semacam itu. James yang pengertian kemudian membantu ayahnya untuk mewujudkan impian semacam itu. Bagi James itu bukanlah hal yang terlalu banyak untuk diminta, apalagi dari ayahnya. Tapi malam itu setelah kelelahan dan ditambah dengan bayang-bayang formulir yang diberikan oleh petugas pemerintahan, James tersulut emosi. Dia kelepasan memaki-maki adiknya, menyarankannya untuk maju sebagai kandidat. Dia tidak pernah benar-benar berpikir demikian. Dia tidak pernah mampu berpikir untuk mengorbankan salah satu anggota keluarganya. Kalau perlu, lebih baik formulir itu dirobek saja, menjadi kotak-kotak kecil, kemudian dilemparkan ke luar jendela. Biarkan sang angin membawanya pergi jauh.

“Kau harus lebih tenang,” bisik Edith. Perempuan itu menggenggam tangan suaminya. Dia tidak mengalihkan pandangan dari suaminya. “Ed melihat. Jangan jadi contoh yang buruk. Jika dia punya adik suatu hari nanti, apakah kau tidak akan terluka jika dia kelak mengorbankan adiknya sendiri ketika harus menghadapi situasi semacam ini? Semoga dia cukup beruntung.”

James kemudian melunak. Dia kembali duduk di tempatnya, menatap putranya yang menatapnya dengan penuh rasa penasaran. Dia tersenyum kepadanya. Bocah itu juga akhirnya tersenyum. Dia terlalu kecil untuk terlibat konflik semacam ini, pikir James. Dia menghabiskan makanannya, lalu menggendong putranya di punggung untuk pergi ke kamar. Istrinya akan menyusul setelah membantu ibunya membereskan dapur dan meja makan. Ketika dia tidur bersebelahan dengan istrinya di bawah penerangan lampu tidur yang bercahaya redup, dia meminta maaf atas kesalahannya tadi.

“Jika kau mau meminta maaf, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.”

“Aku tidak benar-benar membenci adikku.”

“Aku tahu. Aku tahu.”

“Tetaplah berada di sisiku.”

“Kau bicara apa? Tentu saja aku akan selalu berada di sisimu.”

Lihat selengkapnya