Pagi itu ayah membuat keputusan paling besar dalam keluarga kami. Dia, yang selama ini tidak terlalu banyak bicara semenjak kelumpuhannya, berkata bahwa formulir itu akan dia simpan dan tidak akan ada orang yang tahu di mana letaknya selain dirinya sendiri. Setelah satu bulan, sesuai tenggat waktu yang diberikan petugas pemerintah saat itu, dia akan mengeluarkannya kembali dan menyerahkan itu kepada petugas pemerintahan. Nama yang harus ditulis saat itu akan dipikirkan dan ditentukan saat itu juga. “Untuk hari-hari yang tersisa, mari jalani sebaik mungkin sebagaimana hari-hari biasa berjalan selama ini.”
Tidak ada yang menolak usulan itu. Kakakku yang biasanya berusaha mengambil alih kemudi kini hanya diam. Menunduk, menatap isi piringnya. Tapi samar-samar aku melihatnya tersenyum. Ibu juga tidak berkomentar apa-apa. Tapi wajahnya menunjukkan ekspresi kelegaan. Dia bangkit, menepuk pundak ayah, dan membisikkan sesuatu yang tidak dapat kudengar. Ayah kemudian tersenyum dan mengangguk, lalu menggenggam tangan ibu yang masih berada di pundaknya. Itu pemandangan yang bagus untuk dilihat pagi-pagi. Aku mengalihkan obrolan dengan adikku, menanyai persiapannya.
“Aku akan menyelesaikan semua soal.”
“Jangan terlalu sombong. Tidak ada yang bisa melakukan hal semacam itu. Hanya jawab soal-soal yang kauyakini kebenaran jawabannya.”
“Aku berada di posisi yang sangat percaya diri.”
“Di situlah orang biasanya tergelincir.”
“Kereta jatuh di jalan datar.” Dia mengutip peribahasa Cina yang dia baca dari buku silat favoritnya.
Pagi itu berakhir dengan damai, tanpa satu pun perselisihan.
Sebelum pergi dari rumah untuk melanjutkan mencari peruntungan, aku memuji kehebatan ayah. Dia menatapku lama, tapi kemudian kusadari dia juga masih harus menanggung beban berat di punggungnya. Tapi aku tidak membicarakan itu kepadanya dan lekas menghambur keluar.
Jalanan telah dipenuhi kendaraan berlalu-lalang. Aku naik bus untuk pergi ke tempat wawancara. Sudah lama undangan ini tiba, seminggu sebelum formulir itu datang. Perusahaan kecil itu mencari seseorang yang mampu membereskan urusan gudang. Ketika aku sampai di sana, seorang petugas keamanan menanyai keperluanku dan memeriksa sekujur tubuhku seperti seorang polisi memeriksa seorang pengunjung penjara. Dia menepuk-nepuk setiap inci tubuhku untuk memastikan bahwa aku tidak membawa benda-benda berbahaya. Tentu saja tidak ada yang berbahaya. Yang kubawa di dalam tasku tidak lebih dari sejumlah berkas-berkas yang diperlukan. Setelah memastikan bahwa aku steril, dia mengantarkanku ke sebuah ruang tunggu. Ruangan sempit diisi dengan bangku panjang yang mengikuti panjang dinding sebelah selatan dan timur, membentuk sudut sembilan puluh derajat. Sudah ada tiga orang yang duduk di sana. Semuanya laki-laki. Memang mereka hanya butuh kandidat laki-laki. Mungkin pekerjaannya agak berat dan lumayan menguras tenaga. Dengan berbagai pertimbangan, mereka mungkin berpikir bahwa laki-laki lebih cocok untuk posisi ini. Dua di antaranya merokok tanpa kena teguran meskipun ada tanda larangan merokok di atas sana. Kipas angin berputar dengan kikuk. Sudah waktunya untuk diganti. Perusahaan ini terlihat buruk dari luar. Cat pagarnya sudah banyak yang mengelupas karena perubahan cuaca yang silih berganti. Aku jadi ragu apakah harus tetap duduk dan menunggu giliranku atau pergi begitu saja. Tapi pada akhirnya aku duduk. Tidak ada yang memulai obrolan. Satu-satunya kontak adalah kontak mata ketika aku baru saja masuk ruangan ini tadi. Asap memenuhi ruangan. Aku dan satu orang lagi yang tidak merokok batuk-batuk. Orang satu lagi yang tidak merokok terlihat seperti laki-laki baik-baik yang tidak akan berani melakukan protes atau semacamnya ketika ketidakadilan berada tepat di depan matanya. Aku yang sudah tidak tahan lagi menegur mereka.
Keduanya kemudian mengangkat pandangan.
“Kau tunggu di luar saja,” kata salah satunya. “Kalian berdua sebaiknya ke luar. Kami masih ingin merokok. Benar, kan?”
Laki-laki yang satu lagi menanggapi dengan anggukan, lalu mengisap rokoknya lagi tanpa rasa bersalah.
“Kami di suruh menunggu di sini oleh petugas keamanan tadi. Mengapa kau tidak mengerti? Lagi pula tanda di atas sana masih terbaca dengan jelas. Kalian bisa membaca, bukan?” kataku sambil menunjuk papan peringatan yang meskipun catnya sudah mulai pudar masih bisa dibaca oleh orang yang tidak memiliki gangguan penglihatan.
“Itu hanya tanda. Tidak lebih. Aku sudah bertanya kepada petugas keamanan tadi dan dia berkata bahwa itu terserah kami.”
Aku tidak tahan lagi. Aku bangkit untuk kemudian menghampirinya. Hanya perlu tiga langkah. Ruangan ini benar-benar sempit. Kurampas dengan paksa rokoknya, kubuang ke lantai, dan menginjak-injaknya. Keduanya melihat kepadaku dan satu orang lagi yang tidak merokok menarik ujung bajuku untuk menghentikan tindakanku. Aku mengabaikannya. Salah satu dari laki-laki yang merokok bangkit berdiri, mendorong-dorong tubuhku. Tapi ketika aku terdorong satu langkah ke belakang, aku akan segera membayar lunas langkah itu agar tetap berada di hadapannya. Kami bertatapan. Cukup sengit. Dia benar-benar menatap seolah-olah punya kemampuan untuk membunuhku.
“Aku akan memperingatkanmu,” katanya.
“Aku yang memperingatkanmu soal merokok.”
“Sialan.”
Dia mendaratkan pukulannya tepat di hidungku. Perih sekali hingga membuat mataku berair. Tapi aku tidak menangis. Aku bangkit, lalu membalas pukulan tadi. Kami mulai berkelahi. Memaki-maki dengan kata-kata paling kotor dan nada suara yang tinggi. Kedua orang lain coba untuk memisahkan kami tapi gagal dan malah terhempas ke belakang. Petugas keamanan tadi segera menghampiri tempat ini lagi dan tanpa berkata apa pun mencengkeram kerah masing-masing kami dan menyeret kami keluar dari pintu gerbang. Dia mengunci pintu itu tanpa mengatakan apa pun kepada kami karena sepertinya dia berpikir bahwa kami sudah cukup dewasa untuk mengerti situasi ini.
“Lihat perbuatanmu,” kata lawanku.