FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #6

VI

Setelah keluar dari ruang ujian Ernest pergi ke sebuah kedai kopi di depan kampus. Duduk seorang diri dengan segelas kopi hitam pekat. Belum banyak yang berkunjung di kedai itu. Sebenarnya, juga tidak ada seorang pun yang sedang dia tunggu. Tidak ada yang tersisa di kota ini. Sejumlah teman dekatnya yang tidak terlalu banyak semuanya pergi ke luar kota untuk melanjutkan pendidikan di sana. Beberapa memang masuk ke akademi tentara. Hanya dia yang harus menjalani hari-hari membosankan di kota ini seolah dia dikutuk untuk terjebak di dalam sana sampai akhir hayatnya.

Di seberangnya ada seorang perempuan yang tampaknya juga seorang peserta ujian masuk. Perempuan itu berambut pendek, dibiarkan terurai. Berkemeja putih dengan celana berbahan jins berawarna biru. Jika bukan karena buah dadanya, Ernest akan mengira dia seorang laki-laki. Perempuan itu menarih perhatiannya. Tanpa sadar, sudah sepuluh detik pandangannya tidak teralihkan dari sana. Dia penasaran dengan buku yang perempuan itu baca. Ada sejumlah buku di rumahnya, koleksi Raymond, yang bertumpuk tak beraturan di kamar kakaknya itu. Semenjak bekerja sampai kemudian harus mencari pekerjaan lagi, buku-buku itu tampak tak tersentuh lagi. Sesekali dia meminta izin untuk masuk ke sana, mengambil buku, dan membacanya di kamarnya sendiri. Secara bertahap, buku-buku di kamar kakaknya berpindah ke kamarnya. Tersusun lebih rapi dan terawat dengan lebih cermat. Ia menyampulinya dengan plastik mika, memberikan kapur barus di rak tempat dia menata buku-buku itu. Raymond tidak keberatan. Asal jangan dijual lagi. Ernest penasaran, barangkali itu adalah buku yang juga pernah dia baca dan mungkin percakapan bisa timbul dari sana. Tapi tidak seperti dua kakaknya yang punya keberanian dengan caranya masing-masing, Ernest tidak punya keberanian semacam itu di dalam hidupnya. Dia hanya tetap duduk di tempatnya, sesekali meminum kopinya sebelum dingin, dan memerhatikan sekitarnya yang mulai dipenuhi orang. Pandangannya kepada perempuan itu kemudian terhalang oleh pengunjung-pengunjung yang berdatangan tanpa dapat ditahan lagi. Dia bahkan tidak sadar bahwa perempuan itu telah pergi dari sana entah ke mana. Setelah melihat isi gelasnya habis, dia pergi dari tempat itu. Berjalan di sepanjang trotoar. Dia tidak ingin buru-buru pulang ke rumah. Dia tidak perlu naik bus. Dia ingin melepaskan penyesalannya terlebih dahulu dalam perjalanan itu. Dia tidak ingin membawa penyesal dari luar masuk ke rumahnya yang sedang dihantam kebingungan tentang formulir yang mengharuskan keluarganya memilih salah satu anggotanya untuk diserahkan kepada pemerintah untuk menjaga agar populasi tetap stabil. Kelak, ketika menjadi mahasiswa, dia ingin melakukan demonstrasi atas kebijakan mengerikan ini. Saat itu terjadi, salah satu anggota keluarganya telah hilang atau malah dia tidak akan sanggup melakukan aksi demonstrasi karena harus dirinyalah yang menjadi penyelamat anggota keluarga yang lain.

Sebuah bangunan yang terbuat dari kayu sepenuhnya, terlihat tua dan tidak pas secara irama dengan bangunan-bangunan di sekitarnya membuat Ernest menghentikan langkahnya. Dia tertegun untuk sementara waktu, kemudian menghampiri bangunan itu. Tempat itu tampaknya digunakan untuk menjual barang-barang antik. Sambil menenteng tasnya, dia membuka pintu. Bunyi lonceng terdengar. Ernest mengangkat wajahnya, melihat sebuah lonceng berwarna emas di atas pintu. Begitu daun pintu lonceng itu akan terdorong dan akan menghasilkan suara dentingan yang memberi isyarat bagi penjaga toko bahwa ada orang yang datang atau pergi.

Benda-benda seperti buku terbitan lama, jam tangan, sejumlah alat musik yang tampaknya sudah usang, dan beberapa pajangan yang hampir tidak pernah dia temui lagi di mana pun di zaman ini tertata rapi di dua buah rak panjang yang memanjang antara kiri dan kanan tempat kasir. Lalu di antara pintu menuju kasir meja dan kursi seperti yang digunakan oleh saloon di film-film koboi tertata di sebelah kiri dan kanan. Tidak ada siapa pun kecuali perempuan yang familiar baginya di tempat kasir dengan celemek berwarna hijau dan sebuah kacamata yang kini dia kenakan. Muka Ernest bersemu kemerahaan. Dia merasa seolah dirinya adalah seorang tokoh dalam buku cerita yang diikat dengan benang takdir oleh seorang penulis untuk tetap bertemu dengan perempuan yang dia jumpai di kedai kopi tadi. Ernest berjalan mendekati kasir. Perempuan itu mengangkat mukanya.

“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan itu. Suaranya terdengar tegas.

Cukup lama sampai Ernest menemukan kata-katanya. Hatinya berdegup cukup kencang setelah mendengar suara perempuan itu untuk pertama kali. Selama sekitar sepuluh detik sejak pertanyaan itu diajukan dia geragapan, mencari-cari perbendaharaan kata yang selama ini sudah dikumpulkannya selama bertahun-tahun sejak dia mulai bisa meniru ucapan orang-orang di sekitarnya. Ketika kata-kata hilang dari kepalanya, dia seperti ditenggelamkan dalam sebuah ruangan gelap berisi air. Dia harus berenang ke permukaan dengan susah payah. Napasnya memburu. Belum pernah dalam hidupnya dia segugup ini.

“Kau tidak apa-apa?” tanya perempuan itu sekali lagi.

Pertanyaan itu seperti sebuah tangan yang menariknya ke permukaan. Kepalanya kini seperti sebuah perpustakaan yang terang benderang. Dia memungut kata-katanya dan menyampaikannya kepada perempuan itu.

“Ah, tidak. Maksudku, aku tidak tahu apa yang benar-benar harus kubeli. Aku hanya penasaran saja. Dari luar bangunana ini tidak selaras dengan bangunan-bangunan di sebelahnya.”

Perempuan itu tersenyum. “Tidak masalah. Kau bisa melihat-lihat koleksi kami. Jika butuh minuman, kami juga menyediakan. Pilihannya ada di menu di atas kepalamu.”

Ernest mengangkat kepalanya. Tidak banyak. Hanya ada pilihan teh dan kopi. Dia sudah minum kopi belum lama ini, belum satu jam berlalu. Tapi dia berpikir untuk minum satu gelas lagi. Tidak ada salahnya meminum segelas lagi.

Lihat selengkapnya