FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #7

7

Nancy Sinatra, salah satu dari tiga perempuan dalam kencan buta, berakhir berjalan-jalan bersamaku. Situasinya benar-benar tidak terkendali sebelumnya. Kami pergi ke sebuah tempat karaoke. Bill minum terlalu banyak. Dia mabuk dan bikin perkelahian dengan seorang pegawai di tempat itu. Satu perempuan yang kecewa karena Bill tidak membawa satu orang lagi memutuskan untuk pulang. Margareth Tatcher menawarkan diri untuk merawat Bill karena ini adalah ide mereka berdua. Lalu tersisa Nancy dan aku. Mereka pasti berakhir melakukannya, kan? Aku tidak ingin memikirkannya lebih lanjut. Sekarang aku bersama Nancy. Mencari tempat yang lebih tenang. Nancy merokok. Kuputuskan untuk merokok sekali saja untuk menemaninya. Sebenarnya aku tidak yakin jika harus menjalin hubungan dengannya. Tidak ada alasan spesifik. Hanya saja, kami baru saja bertemu. Terlalu terburu-buru untuk melakukannya. Bill dan Margareth tampaknya sudah kenal cukup lama.

“Margot bercerita bahwa Bill pernah menceritakan tentang kebingungan yang sedang dialami keluargamu,” katanya.

“Apa Margareth menceritakannya secara mendetail?”

“Ya. Katanya, kau harus memilih salah satu orang dari keluargamu untuk dibawa ke sana, ya?”

Aku mengangguk.

“Tapi ayahku memutuskan bahwa kami tidak boleh memikirkannya sementara ini dan menjalani kehidupan yang sebagaimana mestinya. Seperti hari-hari sebelum formulir itu sampai di rumah kami.”

“Aku ingin menyarankan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Kau pergi saja ke toko yang terlihat usang di pusat kota. Di sana mereka menyediakan orang-orang yang bersedia untuk menjadi martir. Tapi jangan sampai ada yang tahu kalau kau pergi ke sana. Terutama pihak berwajib.”

“Terdengar seperti cerita distopia. Apa tempat semacam itu benar-benar ada?” Betapa mudahnya hidup jika hal-hal semacam ini ada di kehidupan ini.

Tapi Nancy benar-benar bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia bercerita bahwa keluarganya pernah menghadapi hal semacam itu enam tahun lalu ketika dia baru saja lulus dari universitas. Ayahnya membawa seluruh keluarganya ke toko itu pada siang hari di hari libur. Mereka bertemu langsung dengan pemiliknya, seorang lelaki tua dengan celemek warna hijau yang tampak tidak cocok dengannya—penampilan lelaki itu rupanya benar-benar menghantui Nancy untuk waktu yang lama. Mereka berunding, lalu tercapai kesepakatan. Dua malam sebelum petugas pemerintah datang ke rumahnya lelaki itu datang bersama seorang lelaki tanpa kartu identitas.

“Jika kau percaya, ada ratusan orang tanpa kartu identitas di bawah tanah,” kata Nancy. “Yang datang ke rumahku enam tahun lalu adalah orang yang bersedia menjadi martir. Lelaki si pemilik toko juga memberi kami semacam surat kontrak. Ayahku menandatanganinya. Malam itu juga ayahku membayar … aku tidak benar-benar ingat. Tapi sejak saat itu tabungan ayah benar-benar habis tak bersisa dan memaksaku untuk segera mendapatkan pekerjaan untuk mengganti biaya yang telah dikeluarkan. Mereka benar-benar berniat untuk mengorbankanku. Tapi mereka tidak pernah benar-benar mampu melakukannya sehingga akhirnya mendatangi toko itu.”

Lihat selengkapnya