Tempat itu gelap, dihiasi lampu merah muda dan ungu. Tidak terlalu bersih. Bahkan ada orang-orang muntah di lantai keramik. Menjadi pegawai di tempat ini pasti harus bekerja lebih keras daripada bekerja di bar-bar lain. Tapi itu hanya permukaannya saja. Ada sebuah ruangan pertemuan yang dihadiri setidaknya dua puluh orang. Sebuah kamuflase yang lumayan cerdik.
Bill memperkenalkanku kepada Kamerad George, orang yang menginisiasi pertemuan ini. Sepuluh tahun lalu dia harus merelakan istrinya pergi dibawa petugas pemerintah. Sejak saat itu anak-anaknya terlantar, tidak terawat dengan baik. Keduanya kemudian mati karena sebuah penyakit yang sebenarnya tidak terlalu mematikan, tapi terlambat untuk diatasi. Hidup Kamerad George benar-benar hancur saat itu. Dia sebatang kara. Lebih banyak minum daripada sebelumnya, lalu bertemu perempuan yang kehilangan ayahnya karena program pemerintah ini. Dari sana dia kemudian mencari lebih banyak orang. Tapi hanya ini yang bisa mereka kumpulkan. Tidak banyak pemberani di dunia ini, bukan? Yang lain, menurut Kamerad George, bisa menerima keputusan itu. Menganggap pengorbanan semacam itu memang bagian dari realitas yang harus dijalani. Kebanyakan tidak mempertanyakannya lebih lanjut. Menerimanya begitu saja. Mereka yang mendapatkan kesempatan untuk berkorban demi stabilitas populasi adalah orang yang beruntung. Kamerad George menganggap itu sebagai pikiran dari masyarakat yang sakit. Dia berniat menjadi dokter yang menyembuhkan penyakit abai yang mematikan.
Orang-orang telah duduk di kursi-kursi. Tidak harus mengisi yang paling depan. Lagi pula, ruangan ini tidak terlalu besar. Di mana pun duduk, akan tampak dekat dengan seseorang yang berada di depan. Aku duduk di sudut ruangan. Bill di sampingku. Di sampingnya lagi ada Margareth. Apa dia juga pernah mengalami kemalangan ini? Entahlah. Yang jelas, dia duduk dan mendengarkan paparan dari Kamerad George. Hari ini dia memaparkan sesuatu yang tidak mampu kubayangkan sebelumnya. Dia pergi ke lorong bawah tanah dan menemukan … dia sendiri tidak yakin berapa jumlahnya, hanya saja tempat itu benar-benar dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian kotor dan tampaknya begitu jarang mandi. Malam dan siang tidak ada bedanya di sana. Mereka hanya melihat cahaya lampu yang ada di beberapa titik, begitu jarang.
Hampir mustahil masuk ke sana. Kamerad George bercerita bahwa pintu-pintu menuju ke sana selalu dijaga setidaknya dua sampai tiga polisi khusus. Itulah awal mula kecurigaan Kamerad George. Mengapa ada dua sampai tiga polisi di sejumlah titik yang dekat dengan pintu menuju jalur subway yang telah resmi dihapus sejak tujuh puluh tahun lalu. Di setiap pintu menuju subway terlantar telah ditutup dengan pagar besi dan tanda peringatan untuk menjauh dari sana. Jika meninjau laporan resmi dari pemerintah, subway diberhentikan karena ketakutan akan gempa. Jika gempa bumi terjadi, tiang-tiang penyangga tidak akan sanggup menopang dan akan ambruk menimbun kereta dan para penumpangnya. Menurut Kamerad George, ada sebuah laporan palsu dari pemerintah yang menyebutkan bahwa pernah terjadi gempa bumi dan menewaskan ratusan orang di jalur subway tujuh puluh dua tahun yang lalu. Moda transportasi itu berhenti beroperasi total setelah peristiwa itu dan dua tahun kemudian pemerintah secara resmi menutup tempat-tempat semacam itu dengan pagar besi. Sebagai gantinya, pemerintah menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk transportasi di atas darat, memperbaiki jalur bus dan kereta cepat, dan mulai mengatur undang-undang tentang penanggulangan populasi. Negara-negara tetangga melihat hasilnya secara cemerlang. Tapi Kamerad George berpendapat bahwa di sinilah awal mulanya. Pemerintah tampak sengaja mengontrol populasi dengan cara yang tidak masuk akal sekaligus biadab. Mereka bertindak seperti sosok arkais yang boleh memutuskan hidup dan mati seseorang. Mereka berjanji, ketika populasi terjaga, akan tersedia cukup pekerjaan bagi siapa pun. Namun, pengangguran sama sekali tidak dapat hilang dari kehidupan. Setiap tahun jumlah mereka kian bertambah meskipun tidak dalam lonjakan yang signifikan. Dengan adanya pengangguran, akan tercipta kondisi agar mereka mampu mengontrol para tenaga kerja.
“Kita perlu mengubah hal ini. Kita perlu tahu siapa yang ada di bawah tanah. Yang jelas, mereka manusia, meskipun kulitnya sedikit hijau. Mereka hanya kekurangan sinar matahari. Mereka seolah dipenjarakan di dalam sana.”
Semua orang mulai bergumam satu sama lain. Apa benar ada orang di bawah tanah yang sedang kita pijak sekarang? Aku memang pernah melihat beberapa polisi berjaga di tempat-tempat yang dikatakan oleh Kamerad George. Tapi aku tidak terlalu memikirkan mereka sebelumnya. Kukira mereka hanya sedang patroli. Tidak lebih. Tapi setelah pertemuan ini, mungkin pandanganku akan berbeda.
Setelah sesi pertemuan berakhir banyak orang memilih membubarkan diri, segera pulang atau pergi ke tempat lain. Kamerad George membereskan kertas-kertasnya. Aku, Bill, dan Margareth menghampirinya. Bill mengajaknya untuk mengobrol lebih jauh, terutama tentang yang kuhadapi. Ketika Kamerad George mendengarnya, dia menatapku dengan lesu. Dia mungkin sedang melihat ketidakberdayaan dirinya di masa lalu.
“Kuharap aku bisa memberi solusi,” kata Kamerad George.
“Kau pernah dengar toko itu, Kamerad George?” tanyaku.
“Sebaiknya kau tidak datang ke sana. Dalam arti tertentu, itu sama saja dengan perdagangan manusia. Aku tidak menyarankannya, Ray. Kita sudah cukup beradab untuk tidak melakukannya lagi.”
“Aku memang belum memutuskannya.”
Kamerad George tersenyum kepadaku. Kerutan di wajahnya terlihat jelas. Dia menepuk pundakku. “Kalau begitu, jangan pernah lakukan. Yang tidak dipermasalahkan bukan berarti sesuatu yang benar.”
Aku mengangguk.
Kami kemudian pergi ke ruang depan. Menempati salah satu meja yang kosong. Aku memesan wiski, Bill memesan empat botol wiski untuk kami. Apakah kami sanggup menghabiskannya? Bill suka berlebihan dalam memesan sesuatu.
“Bagaimana Nancy, Ray?” tanya Margareth.