Sore ketika Edith Parker hendak menyiapkan makan malam, telepon rumah berdering. Dia menghampirinya terlebih dahulu untuk mengangkatnya. Suara di seberang sana terdengar buru-buru.
“Edith, itu kau?”
“Iya, Ibu.”
“Kau tidak keberatan bukan menyiapkan makan malam seorang diri?”
“Tidak. Ibu ke mana?”
“Maaf memberi kabar mendadak. Ada rapat susulan. Orang dari kantor pusat datang. Mungkin akan menyita banyak waktu. Juga ada jamuan-jamuan. Aku tidak akan makan malam di rumah. Katakan itu kepada James.”
Saat telepon berlangsung. James sedang berbaring di sofa di ruang tengah. Membaca majalah bisnis yang membosankan. Ed sedang bermain gim konsol bersama Ernest di atas lantai berlapis karpet sementara Jim Parker ada di dekat jendela untuk menikmati pemandangan kota saat senja. Bangunan-bangunan tinggi dengan latar belakang langit kemerahan juga orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana baik dengan kendaraan maupun berjalan kaki.
Edith melihat ke arah para lelaki. Dia menghela napas. Dia melihat suatu perubahan sedang terjadi. Dia ragu apakah perubahan itu akan berjalan ke arah yang baik. Yang dia rasakan adalah pudarnya kebersamaan. Tidak seperti pertama kali dia datang ke rumah ini dulu. Semua orang tersenyum. Ibu dan ayah mertuanya masih sering berangkulan dan menghabiskan sisa hari bersama setelah pulang dari pekerjaan masing-masing. Saat itu Ernest masih seorang siswa sekolah menengah dan Raymond sedang bertarung dengan tugas-tugas dari universitas. Mereka berdua terlihat masih sangat muda. Lalu waktu bergulir begitu saja seperti bola yang jatuh dari atas. Semuanya seperti terjadi hanya dalam sekejap mata.
Setelah menutup telepon dia berjalan ke arah suaminya dan membisikkan sesuatu tentang ibu. James hanya mengangguk. Tidak ada sesuatu pun yang dirisaukannya sekarang. Lalu dia memberitahunya bahwa Ray juga belum pulang sejak keluar pagi-pagi sekali tadi.
“Dia sepertinya lebih nyama di luar sana. Kukira sebaiknya membiarkannya. Aku kelelahan mengaturnya.”