FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #11

11

Kamerad George melarang kami untuk melakukan hal-hal berbahaya seperti mendatangi pintu-pintu menuju jalur subway. Dia menyuruh kami sedikit bersabar. Kekuatan belum cukup. Yang bisa dilakukan saat ini tidak lebih dari memperkuat ikatan, menjalin solidaritas, dan menghasut sebanyak mungkin orang lain. Mungkin saja di luar sana masih orang tersesat yang luntang-lantung tak berdaya ketika negara datang membawa formulir yang harus mereka isi. Rupanya, tanpa sadar, Kamerad George ingin menjadi sosok juru selamat. Tapi kami mengabaikan peringatannya. Aku, Bill, dan Margareth datang ke salah satu pintu masuk setelah jalanan lebih sepi.

Kami duduk terlebih dahulu dan berlama-lama di salah satu kafe yang meja-mejanya ditata sampai trotoar. Kafe kecil yang cukup ramai pengunjung meskipun makanannya tidak terlalu baik, meskipun tidak benar-benar buruk. Sekadar makanan biasa saja. Seperti masakan rumahan. Bahkan mungkin masakan kakak iparku sedikit lebih baik dari mereka. Yang jelas, kami makan cukup banyak. Bill membayar semua tagihan. Ide gila ini juga berasal darinya.

“Apa kau tidak masalah, Margot?” tanyaku. Besok dia harus tetap pergi bekerja. Duduk menghadapi telepon untuk menerima setiap keluhan program pemerintah. “Kau bisa pulang terlebih dahulu. Aku dan Bill bukan orang yang harus bangun pagi-pagi. Biar kami berdua saja yang melakukannya. Sungguh. Kau tidak boleh terlalu mengikuti Bill meskipun kau mencintainya.”

“Margot tidak masalah, Ray. Ini akan menjadi malam bersejarah. Margot ingin menjadi saksi sebuah sejarah tercipta.” Bill merokok. Aku belum pernah melihatnya merokok. Sejak kapan dia melakukannya? Apa hanya di depan Margareth? Tapi dia tidak terlihat amatir. Caranya mengisap dan mengembuskannya bukanlah seperti seorang yang coba-coba merokok. Dia seperti orang yang telah melakukannya selama bertahun-tahun.

Di sampingnya Margareth hanya tersenyum. Dia minum kopinya.

“Kau sudah bertemu Nancy lagi?” tanya Margareth.

“Tidak. Belum. Aku belum melihatnya lagi sejak hari itu. Dia baik-baik saja, kan?”

“Setahuku dia bekerja dan pulang ke rumahnya. Tidak banyak bicara. Perempuan pendiam yang menjalani hari-harinya seorang diri. Hei, kurasa kalian cocok. Hubungi saja dia. Aku bisa memberimu nomornya.”

“Tidak. Jangan lakukan itu. Aku akan menghormati kesepakatan yang telah kami ciptakan.”

“Raymon adalah lelaki berpendirian kuat. Dia mestinya menjadi seorang rahib. Setidaknya dia terlahir di zaman yang keliru. Kalau saja dia lahir lebih cepat, mungkin dia bisa menjadi rahib.”

“Kita benar-benar akan melakukannya, Bill? Menurutku, ini terdengar berbahaya,” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja.” Bill mengangkat gelasnya. Meminumnya. Margareth memandanginya dari samping sambil tersenyum. Perempuan ini telah jatuh sejatuh-jatuhnya dalam pelukan Bill. Kuharap Bill tidak mengecewakannya. “Di Jalan Nomor 4. Berseberangan langsung dengan kantor iklan. Kita akan masuk dari sana.”

“Kau yakin kita bisa melewati polisi?”

“Tidak akan ada polisi.”

“Apa yang kaulakukan?” tanyaku. Aku menatap Bill dengan curiga. Dia sudah melakukan sesuatu kepada petugas polisi yang berjaga di sana. “Tidak. Kau tidak boleh melakukannya.”

“Pukul dua belas. Tidak lebih dari setengah jam. Mereka akan mencari kudapan di restoran cepat saja. Bekerja saat tengah malam selalu membuat mereka kelaparan. Hanya itu waktu kita.”

“Bagaimana mungkin?” tanya Margareth. Dia mungkin baru tahu siapa Bill sebenarnya mulai saat ini.

“Siapa pun bisa disuap.” Bill percaya diri dengan kata-kata itu.

“Jika mereka hanya memanfaatkanmu?” tanyaku.

“Tidak mungkin. Ayolah. Aku hanya perlu menyuap mereka lagi.”

“Mereka akan memerasmu. Jangan lakukan ini.” Aku bangkit. Aku menatap kepada Margareth. Aku kasihan kepadanya jika harus terlibat dalam urusan yang berbahaya. Dia menatap kepadaku sementara Bill tetap memandang ke depan, tidak mengikuti posisi kepalaku. Kuharap Margareth mengerti. Dia tidak seharusnya terlibat dalam kegilaan ini. Bill masih kurang hati-hati dalam menggunakan uangnya. “Demi Tuhan, Bill, jangan lakukan ini. Setidaknya jangan libatkan Margot.”

Bill menatapku, kemudian menatap Margareth. Perempuan itu mulai mengerutkan keningnya. Kurasa dia mulai mengerti.

“Ray benar.”

“Ayolah,” keluh Bill.

Tapi Margareth bangkit. Mundur perlahan. Bill memegang kepalanya. Dia mungkin membenciku sekarang. Tidak masalah. Sebaiknya memang tidak melibatkan Margareth. Jika melakukan hal berbahaya, dia masih bisa mengajakku. Aku akan menemaninya.

Lihat selengkapnya