FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #14

14

Aku terbangun di sebuah ruangan putih. Klinik. Sepertinya itu nama tempatnya. Aku terbaring di atas tempat tidur. Ruangan tidak sepi. Suara papan tik terdengar dari ruang sebelah. Kucoba untuk mengingat hal terakhir yang terjadi, kuharap ini bukan karena kebanyakan minum. Sakit sekali rasanya kepalaku ketika berusaha untuk mengingat yang terjadi. Lalu, seorang perawat masuk.

“Hai, sudah bangun?”

“Di mana aku?”

“Sayang sekali, ini klinik di kantor polisi. Mereka bilang tentang penyerangan petugas patroli malam. Apa kau benar-benar melakukannya?”

“Aku tidak ingat.”

“Mereka memukulmu terlalu keras, kukira.”

Lalu perawat itu berjalan ke arah telepon. Mengangkat gagangnya dan menekan nomor. Dia berbicara sesuatu yang tidak mampu kutangkap. Segalanya berputar-putar, belum stabil. Setelah menelepon dia menghampiriku lagi, memeriksa denyut nadiku, menerangi bola mataku.

“Tidak ada yang parah. Tapi aku tidak akan menyuruhmu untuk tersenyum. Tapi aku tidak melarangnya. Tidak seperti mereka, aku tidak terlalu banyak melarang.”

Dua orang petugas polisi datang. Mereka berdua menyuruhku untuk lekas bangun. Ketika aku lambat bereaksi, mereka menarik lenganku sehingga aku sedikit terguncang. Perawat itu sampai terkejut dan berniat melakukan sesuatu untuk tindakan kasar mereka, tapi dia mengurungkan niatnya. Setelah merawatku, mungkin kewenangannya telah berakhir. Sejak awal memang dia tidak punya kewenangan sama sekali. Sekarang hidupku terserah dua polisi ini.

“Bangun, Jagoan. Berdirilah seperti saat kau menantang teman-teman kami di jalanan.”

“Ayo. Mau berkelahi?” Salah satu dari mereka seperti ingin menghantam perutku dengan sepatu atau tinju mereka, tapi kami masih berada di klinik. Dia mengurungkan niatnya, mungkin untuk sementara. Hanya perlu berpindah tempat untuk membuatku babak belur.

Aku berdiri tegak. Tanganku diletakkan di belakang untuk dipasangi borgol. Setelah memastikan borgol itu terpasang dengan benar, mereka menyuruhku berjalan. Begitu keluar dari klinik untuk kemudian berbelok, mereka segera mendaratkan pukulan ke perutku. Aku segera ambruk. Muntah sedikit. Isi perut berupa kentang goreng yang dikunyah dengan sempurna. Aku mulai sedikit mengingat. Di mana Bill? Dia mungkin ditempatkan di tempat lain. Terpisah dariku untuk menghindari kekacauan. Mereka mengangkatku berdiri lagi. Menendang bokongku dan menyuruhku terus berjalan. Mereka menikmati hal-hal seperti ini. Ada yang salah di kepala mereka jika menyukai kekerasan. Mereka memasukkanku ke sebuah sel. Borgol dilepas di dalam sana. Tidak ada siapa pun di dalam sana. Aku duduk seorang diri. Akhir-akhir ini memang sangat jarang terjadi tindakan kriminal. Penjara menjadi lengang dan anggaran untuk hal itu bisa dipangkas.

Lihat selengkapnya