Di meja makan ayah melarangku keluar satu hari sehingga aku akan menjalani satu hari berdiam diri di dalam rumah. Entah apa yang bisa kulakukan selama di dalam rumah. Dahulu aku bisa menghabiskannya untuk membaca buku teks pelajaran. Tapi di usia sekarang buku-buku semacam itu telah disimpan di sebuah kardus dan terlupakan. Tinggal menunggu waktu sampai kardus itu menjadi sesuatu yang mengganggu dan harus disingkirkan. Ibu tidak banyak bertanya, dia mendukung ide ayah agar aku tidak keluar rumah untuk beberapa hariādia menganjurkan setidaknya tiga hari. Aku tidak boleh pergi ke bar. Mereka tidak boleh melarang-larangku seperti ini, kurasa. Edith tidak berbicara sama sekali. Mungkin dia sudah tahu situasinya dari James. Lalu, Ed, dia bocah ingusan. Tidak ada yang boleh melibatkannya dalam urusan-urusan ini. Ernest menatapku dengan mata memelas. Dia masih bocah cengeng rupanya. Kukira aku sudah mengajarinya menjadi seorang lelaki. Tapi aku bisa memahaminya. Penjara adalah hal baru bagi keluarga ini. Tidak pernah ada catatan kriminal sebelumnya dan aku telah mencoreng kebersihan nama keluarga ini. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa salah satu dari kami akan sempat menghuni sebuah sel dalam beberapa jam. Setidaknya, sarapan tidak menjadi hal heboh. Semuanya sepertinya berusaha menganggap bahwa tidak ada yang terjadi semalam. Hanya hari yang berlalu tanpa sesuatu yang berarti. Batu telah menggelinding dan harus didorong ke puncak lagi.
Ibu dan James pergi bekerja setelah sarapan. James naik mobilnya dan ibu memilih menggunakan transportasi umum yang kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding saat dia masih muda. Ed berangkat sekolah bersama ayahnya. Ayah memutar roda kursinya seorang diri menuju dekat jendela. Dia menyukai tempat itu. Di sana dia bisa melihat seisi kota sambil terkena paparan sinar matahari. Ketika jendela dibuka, udara segar juga akan masuk. Bagaimana pun udara di kota ini belum sepenuhnya buruk. Pemerintah kota mulai merevitalisasi taman-taman, tempat pohon-pohon dibiarkan tumbuh sampai begitu tinggi. Mereka hanya melakukan sedikit pemangkasan yang hampir tidak memperlihatkan perubahan bentuk pohon. Ketika duduk di sana ayah akan membaca koran. Dia tidak terlalu menyukai internet. Tempat itu sangat asing baginya. Membaca koran membuatnya merasa berada di masa mudanya. Namun, perlu kutekankan, koran telah kehilangan keberaniannya. Ayah membaca dari atas ke bawah. Kolom demi kolom. Dia bahkan berhenti cukup lama di halaman iklan. Iklan-iklan rumah mewah dipajang di sana dengan begitu apik dan cerdik. Ada empat orang yang berdiri di depan rumah itu, berpelukan dan tersenyum. Sebuah keluarga bahagia. Tapi kami hanya akan sanggup hidup di tempat seperti ini. Rumah-rumah di iklan koran terletak di sebuah permukiman elite. Hanya orang-orang yang duduk di pemerintahan dan memiliki jabatan strategis yang mampu mengaksesnya. Aku penasaran, apakah petugas pemerintah juga mendatangi rumah-rumah semacam itu dan memaksa mereka menuliskan nama salah satu anggota keluarganya? Data semacam itu tidak pernah dipublikasikan dengan cermat. Hanya ada berita setelah orang-orang itu dikorbankan. Ketua Badan Penanganan Populasi Nasional akan muncul dan mengeluarkan pidato yang menggebu-gebu tentang betapa berjasanya orang-orang ini, bahwa mereka patriot sejati, tak kalah mulia dari mereka yang menjaga garis pertahanan negara di posisi paling luar. Dia bahkan menangis di podium. Aku pernah sekali saja menonton hal itu ketika masih menjadi mahasiswa dan bersumpah bahwa untuk seterusnya tidak akan menonton perayaan mengerikan semacam itu lagi.
Aku menyeret satu kursi di dapur dan sebuah meja kecil dari kamarku. Kuletakkan di samping ayah dan duduk di sebelahnya. Ayahku berhenti membaca koran sejenak. Aku tidak berkata apa-apa, hanya turut serta menonton pemandangan di luar sana. Belum genap satu jam setelah sarapan tapi aku sudah dihantam kebosanan. Semua itu tergambar jelas di wajahku. Ayahku menyuruhku untuk menahan diri. Aku tidak sanggup membayangkan betapa terkurungnya jiwa orang-orang di penjara. Mereka hanya menikmati waktu singkat di luar ruangan dengan pagar yang mengitari mereka dan penembak jitu yang bersiaga di keempat penjuru. Mereka hanya boleh menghirup udara segar di luar ruangan. Memanjat dinding akan memicu mereka menekan pelatuk. Isi kepalamu bisa berhamburan setelahnya.