FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #16

XVI

James mengajukan cuti tiga hari sebelum hari yang telah disepakati dengan petugas pemerintah. Cuti harus diajukan jauh-jauh hari, setidaknya seminggu sebelumnya untuk mempersiapkan penggantinya. Ini kebijakan tempatnya bekerja. Segala urusan tidak boleh begitu tiba-tiba. Dia datang ke kantor kepala divisi. Ruangannya redup. Kepala divisinya sedang menelepon seseorang ketika James datang. James menunggu untuk beberapa saat. Berdiri agak jauh dari meja. Setelah menutup telepon, kepala divisinya memberikan gestur agar dia mendekat.

“Jadi keluargamu mendapatkan giliran, ya?” kepala divisi mengelap keringatnya. Terutama di bagian leher. Tubuh gemuknya membuatnya sering berkeringat. Tatapannya iba ketika melihat surat pengajuan cuti itu.

“Ya, Pak.” James masih berdiri. Orang itu tidak mempersilakannya duduk. Sepertinya dia lupa atau malah merasa tidak perlu. Jenis orang semacam itu ada di belahan bumi mana pun.

Atas mandat dari pemerintah pusat, izin semacam itu harus dikabulkan, semendesak apa pun situasi kantor atau tempat kerja itu. Setiap orang berhak dan wajib berkumpul dengan keluarganya satu hari penuh sebelum kandidat dibawa petugas pemerintahan, satu hari lagi di hari penjemputan, dan satu hari untuk hari bersuka. Keluarga yang anggotanya dijemput pemerintah akan mendapatkan kunjungan dari berbagai orang. Tetangga baik dan sejumlah pejabat negara akan mengunjungi rumah bersuka. Kesedihan akan kehilangan memang tidak dapat dibendung. Mereka boleh menangis di hari itu. Tugas negaralah untuk memberitahu mereka melalui kunjungan-kunjungan itu agar mereka bersuka cita karena anggota keluarga mereka mendapatkan kehormatan untuk mengabdi kepada negara. Keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan sebuah bintang kehormatan yang membuat mereka mendapatkan beberapa kemudahan dalam kehidupan di masa depan. Mereka akan mengenakannya di tempat umum jika menginginkannya. Tidak ada kewajiban. Tapi kemudahan-kemudahan yang dijanjikan harus menunjukkan bintang kehormatan itu dan tanda bintang semacam itu tidak dapat dipalsukan dan tidak akan berfungsi di tangan orang lain.

“Kau tidak mengajukan diri, kan? Kuharap kau tidak melakukannya, James. Kinerjamu baik. Kehilangan dirimu akan menjadi kendala serius kantor ini. Aku tidak ingin kehilangan orang berbakat lagi.”

“Kami belum menentukannya.”

“Sampai saat-saat terakhir, ya. Itu ide bagus. Aku pernah mendengar beberapa keluarga melakukan cara itu untuk menjaga kestabilan emosi. Yah, bagaimana pun aku harus menyetujui izin cuti ini. Aku bisa terkena masalah jika menolaknya. Hei, kau mau hadir di acara makan malam?”

“Maaf, Pak. Keluarga saya menunggu di rumah.”

“Baik. Oke. Tidak masalah. Pria harus menghabiskan waktunya dengan keluarganya. Itu yang dikatakan The Godfather, kan? Kau pria sejati, James. Sekarang kembalilah ke mejamu. Aku sudah menyetujui izin ini. Urusan teknisnya, nanti Nelson yang akan mengurusnya. Kautanyakan saja padanya nanti jika mendekati tanggal cutimu …. Oh, masih cukup lama. Semoga kalian memilih dengan pertimbangan yang tepat.”

“Terima kasih.”

James keluar ruangan itu. Kini dia bernapas sedikit lega. Pergi ke ruangan itu selalu membuatnya gugup apa pun urusannya. Orang yang duduk di sana entah bagaimana membuatnya tidak nyaman. Perut buncit, pipi bergelambir, dan napas yang tidak beraturan. James tidak bermaksud untuk menghina fisik kepala divisinya. Tapi siapa pun yang pergi ke sana akan bersepakat dengannya. Dia seperti teror hidup yang bersembunyi di dalam ruang gelap. Perempuan akan lebih gugup lagi jika bertemu dengannya. James pergi ke dapur sebentar untuk mengambil air. Dia tidak terlalu suka menyuruh jongos untuk melakukannya. James suka ide bahwa segala yang bisa dilakukan sendiri harus dilakukan sendiri. Dia juga bisa mendapatkan keuntungan karena menggerakkan tubuhnya. Selama delapan jam sehari dia harus duduk di depan komputer. Punggungnya, bagaimana pun, perlu diberikan sedikit istirahat. Dia bisa melakukannya dengan berjalan ke dapur kantor. Tidak berbeda lantai. Hanya beberapa langkah saja. Di balik sebuah pintu.

Di sana James bertemu seorang teman kerjanya. Dia sedang minum kopi. Dia adalah pecandu kopi. Orang-orang berkelakar bahwa jika dia dirawat di rumah sakit, infusnya harus berwarna hitam.

Lihat selengkapnya