FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #17

17

Tiga tembakan. Satu di kepala dan dua di dada. Itulah yang diberitahukan oleh pihak rumah sakit. Edith tidak selamat. Dia mati saat itu juga. Penembakan di tempat umum. Pelaku berhasil melarikan diri. Polisi sedang melakukan penyelidikan. Keluarga kami berduka lebih cepat daripada waktu yang ditentukan. Sekarang mayat Edith berada di peti mati yang masih terbuka. Empat jam berlalu setelah penembakan itu. James berusaha setegar mungkin, duduk di sebuah kursi di dekat peti jenazah istrinya. Ed duduk di sampingnya tanpa mengerti satu hal pun yang terjadi: mengapa ibunya tertidur dan tak kunjung bangun sebanyak apa pun dia memanggilnya? Mengapa orang-orang datang untuk melihatnya yang sedang tidur? Terlalu banyak pertanyaan.

Ibu tidak cukup tegar seperti James. Dia menangis, menghancurkan seluruh riasan yang telah dia kenakan. Dia berada di sudut rumah. Para perempuan di lingkungan ini menemaninya, berusaha untuk menenangkannya. Ayah berada di atas kursi rodanya. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan peti mati. Dia duduk agak jauh. Seperti James, dia menahan sekuat mungkin air matanya. Dia ingin menjadi teladan sebaik mungkin bagi putra pertamanya, juga kepadaku dan Ernest. Lelaki tidak boleh mengumbar perasaan mereka di hadapan selain keluarganya. Ayah mengenakan setelan dari masa lalu, mengenakan sebuah topi hitam yang selalu dia kenakan dalam acara-acara duka semacam ini. Aku dan Ernest mengatur segalanya. Menyalami para pelayat dan menghubungi kantor rumah duka untuk urusan pemakaman. Edith akan dimakamkan di sebuah komplek pemakaman yang tidak jauh dari rumah ini. Sebuah mobil dari kantor rumah duka akan membawa peti matinya dan mengatur pemakamannya. Kami, keluarga yang sedang berduka, hanya harus melakukan penandatangan dokumen dan menyaksikan dari dekat untuk terakhir kalinya sebelum Edith dimasukkan ke sebuah lubang dan ditimbun dengan tanah hasil galian untuk selama-lamanya. Setelah pemakaman yang menguras pikiran, aku minum-minum di dapur. James duduk termenung di ruang tamu. Ibu terbaring di tempat tidurnya. Ayah menemaninya. Ernest menemani Ed untuk melupakan pertanyaan tentang ibunya. Tidak ada makan malam meskipun seluruh keluarga sedang berkumpul. Ini bukan kalimat yang tepat. Kami telah kehilangan salah satu anggota keluarga kami. Satu orang lagi akan pergi juga tidak lama lagi. Lampu-lampu di dalam rumah banyak yang dimatikan. Kami menghabiskan waktu kami saling berjauhan. Bertemu dan membicarakan sesuatu akan menjadi semacam pemicu untuk kesedihan yang harus ditekan habis-habisan.

Aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Mungkin akan berlainan peristiwanya jika aku memaksakan diri untuk mendampinginya berbelanja. Memang tidak ada hal yang mencurigakan. Siapa yang mampu menyangka bahwa setelah keluar dari pintu itu Edith harus kembali dalam kondisi terbaring di peti mati. Tidak ada yang mampu membayangkan bahwa peristiwanya akan seperti ini. Tidak ada rekam jejak kriminal. Edith tidak pernah bermasalah dengan orang lain. Ayah, ketika aku menerima panggilan dari rumah sakit, berkata bahwa dia tidak merasakan apa pun baik beberapa jam atau beberapa hari sebelumnya. Firasatnya yang tajam mungkin telah menumpul. Usia. Aku yakin itu penyebabnya. Tapi ayah tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Nasib sial. Mungkin itu istilah yang tepat dengan yang dihadapi Edith. Informasi terbaru menyebutkan bahwa pelakunya adalah seorang buronan, punya sedikit kelainan jiwa. Sampai saat ini mereka belum bisa menemukannya.

Telepon berdering. Kesunyian tiba-tiba dipecahkan. Aku memandangi arah telepon itu berada untuk beberapa saat. Tidak ada seorang pun yang pergi menghampirinya. Aku bangkit setelah menenggak wiski langsung dari mulut botol. Aku belum ganti pakaian, hanya sedikit melonggarkan dasi. Aku mengangkat telepon.

“Kediaman Parker.”

“Ray? Ini Raymond?”

“Nancy?”

“Iya. Hei, maaf. Aku melanggar hal yang kita sepakati. Aku menonton berita di televisi. Dia keluargamu, ya? Ketika melihat namanya tertera di layar televisi, aku teringat kepadamu dan mencari nomor rumahmu di buku telepon. Syukurlah kalau kau yang mengangkatnya langsung. Aku tidak tahu bagaimana jika keluargamu yang mengangkatnya. Kau masih di sana?”

“Ya. Aku masih di sini.”

“Aku turut berduka atas hal yang menimpa kalian.”

“Terima kasih.”

“Kau tidak apa-apa?”

“Ya. Aku tidak apa-apa. Yang paling hancur tentu bukan aku. Dia istri kakakku.”

“Aku turut berduka. Ya. Hanya itu yang ingin kusampaikan. Aku tidak tahu bagaimana caranya menemukanmu. Jadi, aku mencari nomor teleponmu.”

“Terima kasih telah menelepon, Nancy.”

“Aku tidak ingin berkata bahwa segalanya akan membaik. Tidak akan sama lagi. Aku hanya berharap kau bisa melewati hari-hari berat ini.”

“Ya. Terima kasih. Hei, ….” Aku mengurungkan niatku untuk mengatakan sesuatu.

“Ada apa?”

Lihat selengkapnya