FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #18

18

Foto Edith masih terpajang di dinding rumah bersama foto-foto lain penghuni rumah ini. Foto itu tidak akan diturunkan. Tidak ada yang boleh menurunkan foto siapa pun. Seseorang mungkin pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau, tapi tak seorang pun yang pernah kehilangan keluarganya dengan cara apa pun. Kutegaskan sekali, tak seorang pun.

Hari berikutnya kami mencuci seluruh pakaian hitam, menjemurnya, dan menyimpannya setelah kering. Kami berharap tidak perlu mengenakannya lagi dalam waktu dekat. Setidaknya sampai seseorang dari pemerintahan menjemput salah satu dari kami. Hampir tidak ada yang berbicara di meja makan. Hanya ibu yang membantu Ed makan, menyuruh Ernest yang sampai usia delapan belas tahun masih suka rewel dengan sayuran untuk tidak menyingkirkan sayuran di piringnya. James makan tanpa menatap satu pun dari kami. Ayah juga demikian. Keheningan ini berlangsung aneh. Aku tidak begitu nyaman dengan hal-hal seperti ini. Terlebih kursi Edith masih ada di sana dan ibu tetap meletakkan piring yang masih terbalik di hadapan kursi kosong itu. Semestinya dia tidak perlu melakukan hal semacam itu. Tapi hanya James yang boleh protes dalam hal ini. Ed juga tidak bertanya-tanya lagi tentang ibunya. Mungkin Ernest melakukan tugasnya dengan baik semalam.

Setelah makan, James menyeka mulutnya dengan serbet, meminum segelas air. Dia bangkit dari tempat duduknya. Mencium kening putranya sebelum berangkat ke tempat kerja. Dia menyelesaikan sarapannya lebih cepat lima sendok dari siapa pun.

“Kau bisa mengantar dan menjemput Ed?” James bertanya kepada Ernest.

Adikku mengangguk.

Aku masih harus di rumah. Hukumanku belum berakhir. Tapi mungkin ada sesuatu yang bisa dipelajari. Untuk sementara waktu, aku harus menjaga ayahku. Tidak ada lagi Edith. Fakta itu harus diterima dan dipahami. Demikianlah hari-hari berlalu dalam keluargaku, sedikit pincang. Salah satu pilarnya menghilang. Tapi waktu akan membuat kami terbiasa. Seperti kata orang-orang bijak.

Setelah masa hukumanku berakhir, aku mengembara lagi di kota. Untuk bergantian, Ernest berada di rumah menemani ayah. Dia tidak menolak, sedikit pun tidak membantah. Sikap penurutnya adalah keberkahan bagi kedua orang tuaku setelah mereka dapati sikapku yang penuh penentangan.

Aku mendatangi kafe Mario. Hanya ada sejumlah orang kantoran yang makan siang di sana. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Bill. Aku bertanya kepada Mario tentang Bill.

“Sudah cukup lama kukira dia tidak datang ke sini. Mungkin dia menemukan tempat yang lebih nyaman? Entahlah. Setidaknya selama empat atau lima hari aku tidak melihat batang hidungnya.”

“Begitu, ya.”

Cukup menyedihkan bahwa Mario juga tidak tahu keberadaan Bill. Aku duduk untuk memesan camilan dan minuman. Aku butuh sesuatu yang dingin. Wiski campur es batu. Tapi meminumnya seorang diri akan terlihat menyedihkan. Tapi toh aku akhirnya meminumnya juga.

“Di berita beberapa waktu lalu itu kakak iparmu, ya?” tanya Mario. Tidak ada yang datang lagi untuk sementara sehingga dia cukup santai.

“Iya.”

“Aku turut berduka.”

Lihat selengkapnya