Tangan Juan gemetar setelah mendengar perkataan Susan. Mereka makan siang di sebuah tempat mewah yang tertutup bagi tamu lain. Terlalu mewah hanya untuk makan siang. Tapi itu semua tidak berarti apa pun. Juan seperti seseorang yang hampir kehabisan napas, dia seolah sedang tenggelam dalam lautan keputusasaan, berusaha sekuat mungkin berenang untuk meraih permukaan—termasuk mengharapkan pertolongan. Tapi yang dinantinya tidak kunjung tiba.
“Tidak banyak waktu yang tersisa. Aku juga baru saja kehilangan seorang menantu. Juan, sekali lagi kukatakan kepadamu dengan tegas, kita harus mengakhiri hal ini.”
Dua kali petir menyambar di tempat yang sama. Juan membisu di hadapan Susan. Tangannya bahkan tidak sanggup mengangkat gelas. Apa pun jawabannya kini sudah tidak berarti. Susan tidak akan peduli bahkan jika dia bersikeras. Keputusan telah dibuat oleh perempuan itu. Susan harus kembali sepenuhnya kepada keluarganya. Kepada suaminya yang berusaha dengan tabah untuk pemulihan, pada anak pertamanya yang berusaha bangkit dari kesedihan, pada cucunya yang perlu sosok ibu, pada anak keduanya yang kelimpungan mencari pekerjaan lagi setelah diberhentikan secara mendadak, dan kepada anak ketiganya yang menanti dengan cemas pengumuman dari universitas. Semua laki-laki di dalam keluarganya perlu di dampingi olehnya. Tidak ada pilihan lain. Akan butuh waktu lama bagi James untuk membuka hati lagi kepada perempuan lain sementara anak keduanya sepertinya tidak terlalu tertarik dengan ide pernikahan. Juga tentang masalah formulir itu. Waktu tidak menunggu siapa pun. Tenggat waktunya hampir tiba. Nama harus segera ditulis di sana. Susan tidak punya pilihan selain menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarganya lebih dari sebelumnya. Dia juga harus pulang lebih awal lagi untuk memasak makan malam meskipun Ernest bisa dia andalkan untuk menggantikan Edith. Tapi tetap saja. Pengalamannya belum banyak menghadapi bahan mentah di kulkas. Takarannya kadang keliru. Mereka tidak bisa terlalu sering makan sup yang terlalu asin. Lonjakan darah bisa melebihi batas aman.
Mereka berdua masih duduk berhadapan. Susan mengunyah makanannya sementara Juan duduk dengan kaki gemetar. Susan menyelesaikan makanannya sementara isi piring Juan masih tersisa setengah. Ketika Susan mengelap mulutnya dengan serbet, Juan masih tidak tahu harus melakukan apa. Susan melihatnya, tapi ini telah selesai. Dia bangkit berdiri, berterima kasih kepada Juan, dan pergi dengan langkah yang membuat Juan tidak bisa berkata-kata. Hening sekali. Pintu yang dibuka dan ditutup kembali terdengar nyaring, menyakitkan di telinganya. Suara pintu itu seolah-olah menghantam jantung Juan dengan keras. Menimbulkan rasa kejut yang membuat kelumpuhan sementara. Sejak awal Susan memang bukan miliknya. Dia bisa kehilangan perempuan itu kapan pun, bahkan tanpa peringatan. Dia masih cukup beruntung bahwa Susan memberitahunya dengan baik-baik. Perempuan itu telah menutup buku dengan pelan-pelan dan mengembalikannya dengan baik kepadanya. Cukup sopan. Tapi kehilangan tidak akan bisa disembuhkan dengan begitu mudah. Perlu waktu. Juan akan mengajukan cuti selama seminggu dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri, bertemu orang lain yang benar-benar baru, dan menutup lubang dengan sebuah batu raksasa di dalam hatinya. Ide itu terdengar bagus di kepalanya. Mungkin dia akan mengunjungi daerah pesisir. Bulan Juni adalah waktu yang tepat untuk pergi ke sana. Pemandangan laut berombak dan aroma garam akan memberinya sedikit pelipur lara. Dia tidak akan menunda waktu lagi untuk melakukannya. Segera setelah ini dia akan pergi ke ruangan atasannya dan mengajukan cuti.