Sore hari, setelah dia bisa tidak mengkhawatirkan segala yang ada di rumah termasuk ayahnya, dia pergi ke toko itu lagi tanpa memberitahu siapa pun. Kepada keluarganya dia hanya berkata ingin pergi ke suatu tempat dan berjanji akan pulang sebelum jam makan malam. Dia berjalan kaki, berhenti di sebuah halte. Dia naik bus untuk menghemat waktu. Ketika sampai di sana, seperti biasa, tidak ada pengunjung lain. Hanya ada perempuan itu berdiri di hadapan mesin kasir tua yang ketinggalan zaman.
“Hai,” sapa Ernest. Dia belum tahu namanya dan tidak ada keberanian padanya untuk menanyakannya. Di buku hariannya Ernest mencatatnya dengan sebutan Nona Chasier.
Perempuan itu sudah memperingatkannya untuk tidak terlalu sering datang. Tapi dia tetap menyambutnya dengan senyuman. Dia bertanya kepada Ernest apakah ada yang bisa dia bantu.
Ernest berjalan sampai tepat di depan kasir. Mereka berhadap-hadapan. Ernest menggaruk-garuk kepalanya sebentar.
“Aku ingin berpamitan. Setelah ini aku tidak akan bisa datang ke sini lagi.”
“Apa kau akan menuliskan namamu sendiri?”
“Tidak. Kami masih belum memutuskannya. Ide membeli seorang pengganti ditolak kakakku mentah-mentah karena alasan moral. Setiap orang punya peluang yang sama untuk dibawa petugas pemerintah.”
“Mereka tidak akan mengorbankanmu. Kau anak terakhir, kan?”
“Belum tentu.”