FORMULIR

Mochamad Bayu Ari Sasmita
Chapter #22

22

Inilah hari terakhir kami berkumpul sebagai keluarga. Besok salah satu dari kami harus pergi bersama petugas pemerintahan. Pagi-pagi sekali di depan rumah telah terjadi sedikit keributan. Tiga orang polisi datang untuk berjaga di depan rumah kami. Mereka akan berdiri di sana. Kami bisa mengabaikannya, tapi tak seorang pun dari kami bisa keluar rumah lagi. Satu hari menjelang hari yang dijanjikan adalah hari yang krusial. Kondisi kejiwaan seseorang kadang tidak stabil dalam situasi seperti ini. Mereka bisa tertekan dan melakukan hal-hal yang mengerikan. Kadang seseorang bisa nekat mencari cara untuk kabur dan bersembunyi dari nasib sial mereka. Tidak pernah mudah untuk melepaskan diri dari pengawasan mereka. Sejak awal sepertinya mereka sudah menaruh penglihatan mereka di sekitar masyarakat. Sekali dilahirkan di negara ini, bayang-bayang kematian ganjil ini akan membayangi seumur hidup. Menurut laporan yang pernah kubaca hampir tidak ada lagi orang yang pergi ke luar negeri dalam waktu lama. Perpanjangan visa benar-benar dibatasi. Kecuali situasinya mendesak, tapi hampir tidak ada yang masuk kategori mendesak bagi pemerintah. Persepsi antara masyarakat dan orang-orang yang menciptakan kebijakan publik tampaknya tidak berjalan selaras. Hal ini juga tidak dapat dibatalkan apa pun kondisinya. Bahkan jika di dalam keluarga itu telah ada yang meninggal dunia karena faktor lain yang dengan demikian berarti populasi berkurang. James telah mencoba untuk membuat permohonan untuk pembatalan hal ini di kantor kependudukan. Jawaban yang dia terima mengecewakan. Jika dilakukan pembatalan hanya karena ada satu orang dalam keluarga itu meninggal dunia karena faktor lain sebelum kandidat dalam keluarga itu dijemput, di masa depan mereka akan menemui sejumlah kesulitan. Melakukan pekerjaan sampai selesai adalah hal yang harus dikedepankan dan menjadi etos kerja di dalam pemerintahan. Jadi, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi kecuali menunggu petugas pemerintah itu datang lagi menekan bel rumah kami besok.

Tiga orang polisi itu membawakan kami bahan masakan. Ibu menerimanya, dia masih mengenakan gaun tidurnya. Pada malam sebelumnya dia berkata kepada seluruh orang di dalam rumah tentang memasak sesuatu yang berbeda daripada yang kami santap biasanya. Kami berenam akan makan dan terkurung di dalam rumah. Semacam karantina. Aku bangun lebih awal dari biasanya, membantu ibuku mencuci sayuran. Ibuku tampak terkejut dengan tindakanku. Ini bukan hal yang biasa kulakukan. Tapi dia kemudian hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa pun yang tidak perlu. Setelah mencuci sayuran, aku memberikannya kepada ibu. Bertanya tentang menu yang akan dia sajikan, tapi dia tidak ingin memberitahu. Tapi apa pun yang dimasak ibu selalu enak. Dia tidak pernah gagal dalam menyajikan makanan. Mungkin pernah, tapi hari-hari semacam itu telah berlalu bahkan sebelum aku lahir ke dunia ini.

“Apa yang bisa kubantu lagi?”

“Sepertinya sudah cukup.” Dia berpikir sejenak. “Bagaimana dengan menata meja atau membersihkan lantai dengan penyedot debu?”

“Itu terdengar lebih masuk akal untuk kutangani.”

“Itu akan sangat membantu pekerjaanku.”

“Ya.”

Aku mengambil penyedot debu otomatis di gudang. Meskipun kusebut gudang, ruangan ini tidak lebih dari sebuah celah sempit untuk menyimpan sejumlah barang hanya agar tidak berserakan di ruangan lain. Setelah menyalakannya, aku mulai menjelajahi setiap inci rumah. Aku juga menjangkau celah-celah sempit di bawah sofa dan kolong meja.

James belum bangun, begitu juga Ed. Ernest mungkin semalaman bermain gim konsol. Ayah, dia akan bangun beberapa saat lagi. Dia bukan orang yang harus dibangunkan. Sedikit demi sedikit dia memilih menggunakan sebuah tongkat untuk membantunya mencapai kursi roda dan mulai membawa kursi roda itu ke dekat jendela. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan dia akan akan bisa kembali berjalan sepenuhnya. Dia akan berada di sana, menerima seluruh pancaran matahari pagi, dan membaca koran edisi hari ini. Koran itu telah sampai beberapa saat lalu. Seorang bocah yang bekerja paruh waktu mengantarnya dengan sepeda. Dia menyelipkan koran itu di kotak pos. Ibu mengambilnya beserta bahan makanan yang dibawakan tiga petugas polisi tadi.

Setelah membersihkan debu, kusimpan kembali benda itu ke tempatnya. Mencuci tangan di wastafel lalu menata piring dengan posisi terbalik di atas meja. Tujuh piring, seperti biasa. Mungkin untuk seterusnya setelah hari ini. Kuharap kebiasaan itu bisa diubah. Cukup sesuaikan jumlah piring dengan jumlah orang yang ada di rumah. Simbol-simbol kesedihan tidak boleh terlalu lama muncul. Rumah tidak dibangun untuk menumbuh-kembangkan kesedihan.

Aroma daging tercium dari atas teflon ibu. Dia sedang menggoreng daging ham. Sepertinya dia akan membuat hamburger. Makanan cepat saji. Ide cemerlang. Biasanya kami menahan diri untuk tidak makan-makanan semacam itu. Tapi ini adalah hari terakhir. Harus ada yang berbeda di hari semacam ini. Ibu menggoreng tujuh potong daging ham. Tampak sia-sia. Tapi aku tidak akan menghentikannya. Kuharap dia benar-benar berhenti melakukan hal itu.

Lihat selengkapnya