Makan malam berlangsung semakin hening. Semuanya terlihat tertekan. Ketika aku melihat ayah, aku menyadari sesuatu: dia harus melakukan suatu hal. Hanya tersisa kira-kira satu putaran jam saja sebelum mereka datang. Mereka selalu datang pagi-pagi sekali, menghindari keramaian. Ini adalah jenis pekerjaan yang senyap.
“Kita harus membahasnya,” kata ayah. Dia terlihat berwibawa ketika mengatakan hal itu. Semuanya berhenti mengunyah. Bahkan makanan yang tampak masih belum sepenuhnya lembut terpaksa ditelan begitu saja. Semuanya memandangi ayah, kecuali Ed. Dia selalu bisa dikesampingkan. Pikirannya belum sempurna. Tidak akan ada siapa pun yang mengusiknya. “Kuharap siapa pun menjaga cara bicaranya. Ada seorang anak yang akan memelajari setiap perkataan kita di sini.”
“Pilihannya hanya di antara kita berlima,” kata ibu kemudian.
“Aku tidak ingin melakukannya dengan cara pengundian,” kata Ernest. Dia mulai berani mengeluarkan isi kepalanya. “Juga kuharap tidak seorang pun mengajukan dirinya sendiri. Yang lain tidak bisa lepas tangan begitu saja.”
“Apa maksudmu, Ernest?” tanyaku.
“Aku tahu. Seseorang memberiku petunjuk.”
“Ernest, kau punya usulan?” tanya James.
Ernest berdiri. “James, kau tidak boleh mengusulkan dirimu sendiri. Ed masih membutuhkanmu. Ayah dan ibu juga harus membantu satu sama lain. Terlebih lagi kupikir Ed membutuhkan sosok kakek dan nenek, sesuatu yang tidak kami bertiga dapatkan. Lalu, Raymond, kau punya peluang mencapai titik tertinggi potensimu. Kau hanya menyia-nyiakan potensimu selama ini dengan berkeliaran di kota.”
“Kau juga masih punya masa depan cemerlang yang menanti. Pikirkan saja jika kau mengenakan lencana itu, hidupmu akan berangsur-angsur menjadi lebih mudah daripada yang kautakutkan. Mereka pasti tidak perlu mempertimbangkan hasil ujianmu ketika kau mengenakan lencana itu.”
Aku ikut berdiri. Aku tidak tahan melihat adikku mencuri panggungku. Bagaimanapun aku harus membuatnya duduk lagi. Siapa orang yang memberinya petunjuk? Hanya Bill yang kuberitahu soal ini. Bahkan Ernest tidak pernah tahu wujud Bill begitu juga sebaliknya.
“Aku akan langsung ke intinya. Aku cukup bersedia untuk melakukan ini. Semua yang dikatakan Ernest benar. Aku setuju dengannya, kecuali satu hal. Dia keliru tentang diriku. Sudah sejak lama aku mengalami kemandekan dalam hidupku, bahkan cenderung mengalami kemunduran. Selama satu bulan ini aku bertemu beberapa orang yang menyenangkan. Kukira itu sudah cukup menjadi hadiah perpisahan untukku. Aku mohon kepada kalian semua, lanjutkanlah hidup ini.”
Semuanya memandangiku. Ibu ingin mengatakan sesuatu, tapi dia sepertinya gagal mengendalikan emosinya sehingga jatuh dalam tangisan. Tiba-tiba saja air matanya mengalir deras, hidungnya memerah dan tersumbat ingus. Ayah yang duduk di sampingnya menepuk pundaknya, kemudian memeluknya. James bersandar pada kursinya. Dia terlihat mencerna kata-kataku. Lalu dia mengangkat mukanya, menatapku dalam-dalam dengan ketenangan yang sangat kuharapkan muncul darinya dalam situasi ini.
“Kau bahagia menjalani hidupmu?”
“Ya. Setidaknya selama satu bulan terakhir aku merasa hidupku benar-benar menyenangkan.”
“Kau tidak punya sesuatu yang ingin kaulakukan lagi?”
“Tidak. Sudah cukup.”
James menunduk lagi, mengangguk kecil.
“Jangan bilang kau menyetujuinya, James?” tanya Ernest. Kali ini suaranya terlalu keras hingga membuat Ed terkejut. “Apa kau benar-benar anak tertua? Kau tidak boleh membiarkan saudaramu melakukan ini. Setidaknya kau harus mencegahnya. Cegahlah. Kumohon.”