Dia masih terus menundukkan kepala saat aku menatapnya. Sepertinya arwah tersebut sangat mencintai Jonathan. Kemudian kulangkahkan kaki menuju meja di ruangan itu, tampak sebuah buku harian kecil di atasnya. Kuambil buku itu dan secara tidak sengaja, aku membuka pertengahan buku tersebut.
"Entah darimana awal aku menyukaimu. Terkadang memendam perasaan adalah pilihan terbaik agar semua terlihat baik-baik saja, perasaan ini sudah sangat dalam, sehingga aku takut jika kamu mengetahui perasaanku yang sebenarnya kamu akan menjauh dariku. Sampai detik ini setidaknya aku tau bagaimana rasanya mencintai dalam diam, memendam perasaan rindu sendirian."
Setelah membaca sekilas tulisan itu aku segera menghampirinya dan berkata "Apakah kamu sangat mencintai Jonathan?"
Dia menganggukkan kepalanya dan berkata "Bisakah kamu membuka laci pada meja itu?"
Dengan segera aku membuka laci tersebut, lalu kulihat ada sebuah kotak kecil yang di balut dengan pita merah jambu. Kuambillah kotak tersebut, lalu ia kembali berkata "Bisakah kamu memberikan kotak itu padanya?"
Aku sejenak menatapnya, lalu menjawabnya "Baiklah, akan kuberikan kotak ini padanya. Namun ada satu pertanyaan untukmu?"
"Apa?" Tanyanya singkat.
"Kenapa kamu mengalami kecelakaan itu?"
"Hal itu terjadi tepat seminggu yang lalu, saat itu adalah hari ulang tahunnya. Aku berniat memberikan hadiah itu kepadanya, namun saat menuju kantor aku menyadari bahwa hadiah itu tertinggal. Dengan segera aku memutar arah untuk kembali ke rumahku. Namun sesaat memutar arah, tiba-tiba datanglah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhku. Aku masih merasa belum tenang meninggalkan dunia ini, jika hadiah itu belum kuberikan padanya. Hingga pada akhirnya aku bertemu denganmu. Aku yakin kamu pasti bisa membantuku untuk menyerahkan hadiah itu pada Jonathan."
Aku berdiri di sampingnya, dan berusaha untuk menggenggam tangannya. Dari matanya aku dapat melihat sebuah penyesalan yang sangat dalam dari dirinya, seakan mengerti hal yang ia rasakan selama ini aku berkata kepadanya "Aku akan menyerahkan hadiah ini padanya, dan akan kujelaskan semua perasaanmu yang sebenarnya kepada Jonathan. Namun apakah aku bisa membawa buku harian ini? Aku akan memberikan buku harian ini padanya, karena jika aku hanya memberi hadiah ini mungkin saja dia tidak akan percaya dengan kata-kataku."
Ia menoleh ke arahku dan menganggukkan kepalanya, lalu aku kembali berkata "Baiklah, kalau begitu besok akan kuberikan kotak ini padanya, akan tetapi bisakah kamu datang ke kantor besok?" tanyaku.
"Baiklah, aku akan datang ke sana," jawabnya.
"Hmmm oke. Karena semuanya sudah jelas, kini waktunya aku pamit pulang. Terimakasih karena sudah mengatakan semuanya, yakinlah padaku Jonathan akan tahu kebenarannya," ujarku sembari menyimpan kedua barang itu di dalam tasku.
Tanpa berlama-lama, akhirnya aku pun bergegas meninggalkan rumah tersebut.
Sesampainya di rumah aku langsung membersihkan diri di kamar mandi, setelah selesai aku pun berjalan menuju tempat tidur. Kurebahkan tubuh ini di atasnya, namun sepertinya perutku tidak bisa diajak kompromi. Aku berjalan menuju kulkas.
Wow! Luar Biasa! Kulkasku terlihat kosong. Tak ada makanan sedikitpun. Aku menarik nafas panjang, kemudian aku mendengar suara ketukan dari pintu kamarku.
Tok... Tok... Tok...
Kulihat jam pada dinding kamarku, angka menunjukkan pukul sepuluh dan dua belas. Siapa malam-malam seperti ini berkunjung ke rumahku? Otakku seketika berpikir yang tidak-tidak, namun segera kubuang jauh pikiran itu dan bergegas menuju pintu kamarku.
"Siapa?" tanyaku sembari berteriak dari balik pintu.