Bel sekolah berdenting sebanyak 3 kali. Suara murid-murid Spectre City Senior High School bergemuruh. Derap langkah mereka terdengar begitu jelas nan kencang. Debu-debu beterbangan seiring murid-murid tersebut keluar dari pintu gerbang sekolah.
Raden yang berjalan dengan santai, tiba-tiba saja dihadang oleh guru wanitanya yang mengenakan pakaian formal, rapih, dan lengkap membawa kertas yang terjepit di papan dada. Papan dada tersebut dihimpit oleh telapak tangan kanannya dengan erat.
Raden mengerutkan keningnya. Guru Raden balas tersenyum simpul melihat wajah Raden.
"Raden, apa Raka sudah pulang?" tanya gurunya sambil menepuk pundak Raden.
Raden menarik sudut bibirnya. Kemudian, ia menghela napasnya.
"Belum, bu. Sampai saat ini... aku, ibu, dan ayah belum nemu jejak Raka lagi."
Mendengar Raden berkata demikian, gurunya pun membuka lembaran kertas yang terjepit di papan dadanya. Ia mengambil balpoin yang terletak di saku dadanya. Kemudian, ia mencoreng kolom absen ketidakhadiran Raka yang kini sudah lengkap terisi semua selama 4 bulan. Guru Raden pun menarik garis lurus dari kiri ke kanan pada absen Raka.
Raden hanya menatap kertas tersebut begitu lama, seakan huruf-huruf tersebut kabur di setiap detiknya.
Selesai menarik garis tersebut, guru Raden menyimpan kembali balpoin ke saku dadanya. Ia menoleh, lalu menatap Raden disertai senyum tipis. Tangannya menepuk pundak kanan Raden.
"Ibu tahu ini berat bagimu, tapi semoga Raka cepat ketemu, ya."
Raden tersenyum tipis. Gurunya pun melangkah pergi meninggalkan Raden. Kini, hanya tersisa Raden seorang diri.
Ia berjalan keluar pintu gerbang sembari memegang tali tas yang digendongnya. Sorot cahaya matahari yang sebelumnya berwarna oranye cerah, pelan-pelan bertransisi menjadi gelap malam.
Sepanjang perjalanan, Raden menundukkan kepalanya. Padahal, orang-orang sekitar dia tampak begitu ceria. Sesekali mereka bersorak-sorai merayakan jam pulang sekolah secara berkelompok seperti sudah memenangkan tropi besar.
Di setiap perjalanannya, Raden dikelilingi mobil dan motor tanpa roda yang beterbangan. Lampu-lampu berwarna biru tua, merah darah, dan ungu kelabu tampak begitu terang dominan menyoroti tubuh Raden. Selokan di gang-gang jalan yang Raden lalui tampak begitu kotor dan berantakan. Ia bahkan selalu menutup hidungnya ketika melewati gang-gang itu.
Setelah berjalan beberapa kilometer dari sekolahnya dengan baju yang kini mulai kusut, Raden kini tiba di depan rumahnya.
Tampak, tembok-temboknya dominan dilapisi kayu.
Ia melangkah masuk ke rumah. Bau badan dan harum manis makanan dari arah dapur bercampur tidak karuan di hidung ibu Raden.
Raden melepas, lalu menggantung kantongnya ke paku yang menggantung di dinding, kemudian ia berjalan ke arah dapur. Ibunya menoleh pada Raden. Tangannya tampak sibuk sedang memotong bawang dan cabai. Ibu Raden menghentikan potongannya, lalu menutup hidungnya dengan rapat-rapat.
"Raden, kamu ini bau banget! Sana mandi dulu!" perintah ibunya sembari menunjuk ke arah kamar mandi di pojok kanan.
Raden pun mencium ketiaknya. Mulutnya langsung menahan rasa mual dari bau tersebut. Raden pun melangkah cepat ke arah dapur sambil mengambil handuk yang tergantung di dinding dekat pintu masuk kamar mandi.
Di sisi lain, Ibu Raden mencoba melanjutkan potongannya. Namun, ia merasa tidak tahan dengan rasa yang mencekik lehernya.
Ia pun terbatuk-batuk kering, hingga telapak tangannya penuh dengan darah. Batuk tersebut tak henti-henti, hingga menyenggol meja yang diatasnya terdapat sebuah foto keluarga, lengkap dengan Raka.
Foto tersebut terjatuh hingga kaca-kacanya terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil.
Ibu Raden berlari ke arah wastafel, kemudian mencuci telapak tangannya dengan bersih. Dirasa sudah bersih, ia pun mematikan api kompornya. Lalu, ia mengambil kaca-kaca yang masih tergeletak di lantai dengan tangan kosong.
Baru saja jari telunjuk Ibu Raden mencoba meraih kaca besar, ia langsung tergores oleh bagian sudut kaca hingga ke dalam—membuat jari telunjuknya mengalirkan darah. Ibu Raden meringis kesakitan sambil mencoba membersihkan jari telunjuknya.
Raden yang kini sudah mengenakan pakaian kasual dan rambut yang tersisir rapih ke belakang pun langsung membantu ibunya yang terluka.
Raden membuka kotak obat yang terletak tidak jauh dari dinding dapur. Kemudian, ia mengambil antiseptik dan memotong lembaran perban menggunakan gunting.
Ia kembali kepada ibunya, lalu meneteskan antiseptik pada jari telunjuk ibunya. Lalu, ia membalut jari telunjuk ibunya dengan perban.
"Apa masih sakit, bu?"
Ibu Raden meringis sebentar, kemudian ia menggelengkan kepalanya. Ia mengeluskan kepala Raden sambil tersenyum dengan lebar.
"Makasih ya, nak, sudah bantu ibu."
Raden hanya tersenyum lebar membalas ibunya tanpa sepatah kata. Raden jongkok, kemudian mengambil beberapa kaca-kaca besar yang tersisa menggunakan sarung tangan tebal untuk dimasukkan ke tong sampah kecil di dekatnya. Sisa serpihan kecil kaca-kaca tersebut disapu hingga bersih oleh Raden.
Foto lama yang masih tertinggal di tanah pun Raden ambil, lalu dimasukkan ke saku celananya.
Setelah selesai dengan foto tersebut, Raden bergegas menyalakan kompor dan memotong bawang dan cabai yang sebelumnya ditinggalkan oleh ibunya.
Ibu Raden hanya terdiam berdiri di samping meja makan. Ia menghela napasnya dengan berat sembari menatap lantai dengan raut wajah penuh pasrah. Kemudian, matanya menoleh pada Raden yang sedang memasukkan bawang dan cabai ke dalam wajan panas.
"Nak, ibu masih bingung sama iuran sekolahmu itu. Kira-kira ayahmu bisa gak ya, bayar iuranmu itu?"
Asap-asap dari wajan beterbangan ke arah wajah Raden. Ia terbatuk-batuk oleh asap tersebut. Matanya kini terfokus ke arah wajan, eambil sibuk mengoseng-oseng wajan tersebut. Sesekali wajah Raden menoleh pada ibunya.
"Semoga aja ada, bu. Ini Raden juga sepulang sekolah coba cari-cari kerjaan part-time buat bantu keuangan ayah sama ibu. Lumayan kan, kalau ada bisa nambah keuangan keluarga dikit-dikit?"
Ibu Raden pun mengalihkan kembali tatapannya ke arah lantai. Dirinya tersenyum getir. Mulutnya bergetar. Matanya mulai meneteskan air mata. Raden melihat ibunya disertai senyum tipis dari mulutnya yang pelan-pelan mulai memudar.
Beberapa saat kemudian, dering telepon disertai getar milik ponsel Ibu Raden berbunyi dari saku celananya. Ibu Raden dengan cepat mengangkat telepon tersebut.
"Sayang? Ada apa?" tanya ibu Raden sembari mengusapkan air matanya yang masih tersisa.
"Sayang, hari ini... maaf, sepertinya kita belum bisa bayar iuran sekolah Raden," jawab Ayah Raden dibalik telepon ibunya.
"Tak apa, sayang... kau sudah berusaha keras cukup keras. Itu saja sudah cukup bagiku."
Ayah Raden mengembangkan senyumnya. Tampak, wajahnya begitu kusam dan penuh debu. Dirinya masih menggunakan topi konstruksi dan baju tipis.
"Terimakasih sudah selalu mengerti aku. Bagaimana dengan Raden?"
Ibu Raden menoleh sejenak ke arah Raden yang masih sibuk memasak.
"Dia sudah pulang. Sepertinya dia kangen kamu. Coba ajak dia mancing lagi nanti," ucap Ibu Raden disertai tawa manis.
"Hahaha, mungkin itu kau yang kangen aku, kan? Dia akan kuajari bela diri nanti, supaya dia bisa juara dunia seperti ayahnya dulu."
Terdengar suara bos Ayah Raden memanggil-manggil namanya beberapa kali sampai dia berteriak keras.
Ayah Raden dengan buru-buru mematikan telepon pada ponselnya. Ia langsung menyimpan ponsel miliknya di saku celana kanan.
Bosnya yang botak dan berpakaian serba formal itu mendekati Ayah Raden dengan langkah yang tergesa-gesa. Ia langsung menampar pipi Ayah Raden dengan keras.
"Siapa yang menyuruhmu untuk asik telepon di tempat kerja?!"
Ayah Raden seketika menundukkan kepalanya. Telinganya tampak seperti sudah terbiasa dengan jelas mendengar mulut bosnya yang sudah berbusa-busa bicara sejak tadi.
"Halim! Kau paham dan dengar tidak, hah?!!"
Halim mengangkat kepalanya sebentar, menatap wajah bosnya. Ia langung menundukkan kepalanya lagi.
"Iya, pak. Saya paham. Saya mendengarnya," ucap Halim dengan pelan.