Beberapa menit kemudian, Raden pun terkapar ke lantai dengan lemas. Pelan-pelan, dia membuka matanya.
Dimana... aku? Apa aku sudah mati?
Batinnya menggema. Suaranya beresonansi.
Ia melihat sekelilingnya penuh dengan roh orang-orang mati yang sedang mengantri. Mereka berbentuk biru muda, tubuh dan wajahnya tampak jelas, namun bentukannya begitu transparan. Di depan roh-roh tersebut, ada seorang hakim yang sangat tinggi dan ukurannya sangat besar. Ia duduk dengan tenang sedang menimbang jiwa-jiwa yang mengantri. Lengannya memegang palu yang siap diketuk.
Hakim tersebut menengok ke arah Raden. Wajah Raden begitu panik.
Ia menelan ludahnya sendiri, berpikir dirinya akan segera dihakimi selayaknya jiwa-jiwa yang sedang mengantri itu.
"Raden, kini giliranmu. Kau harus menghadapi salah satu roh yang bertanggung jawab atas kesalahannya," ucap hakim tersebut. Suaranya begitu berat dan menggema suasana sekitar.
Ia kemudian menyeret seorang roh yang memiliki tubuh dan wajah seorang pria tua berkumis dan sedikit berjanggut ke hadapan Raden. Wajah dari roh tersebut menunduk. Ia tidak ingin melihat wajah Raden.
Hakim tersebut kemudian menengok kembali ke arah Raden.
"Raden, sekarang kau ada di Astral Realm. Disini, aku lah yang bertanggung jawab atas semua roh-roh yang telah mati. Namun, kejadian yang menimpamu atas kematian orangtuamu di bumi adalah pelanggaran yang cukup berat untuk roh yang mati. Ia sekarang berdiri di hadapanmu dengan penuh rasa bersalah. Maka dari itu, aku memanggilmu kesini untuk memutuskan penghukuman yang pantas untuk roh tersebut. Sekarang, kau bisa putuskan: apakah kau ingin melenyapkan sepenuhnya roh di depanmu sekarang atau kau ingin mengirimnya ke neraka? Keputusan ada di tanganmu."
Setelah mendengar penjelasan dari Hakim Astral, Raden menatap roh di depannya dengan penuh amarah.
"Kau! Ternyata kau bajingan yang membunuh orangtuaku?!" teriak Raden. Tangannya menunjuk-nunjuk roh tersebut.
"Maaf, aku tidak mengira kalau aku sudah mati. Kupikir mereka musuhku," kata roh tersebut dengan nada yang lemah. Ia masih enggan melihat Raden dengan mata kepalanya langsung.
"Kurasa kau sangat pantas disiksa selamanya di neraka! Bahkan api neraka tidak cukup untuk membakar ro-"
"Cukup Raden, ini bukan ruang untuk melampiaskan nafsu amarahmu. Aku sangat mengerti perasaanmu. Namun, sebaiknya segera kau putuskan: apakah kau ingin melenyapkan sepenuhnya roh di depanmu sekarang atau kau ingin mengirimnya ke neraka?" potong hakim Astral dengan tegas.
Raden mencoba meredakan emosinya. Namun, dirinya masih berpikir keras tentang pilihan yang harus ia pilih untuk menghukum roh tersebut. Roh tersebut kini memberanikan dirinya untuk menatap wajah Raden.
"Raden, separuh jiwaku ada jiwa dari seorang iblis. Aku bisa memberikanmu kekuatan untuk melindungi dirimu sendiri dari bahaya yang akan datang di bumi."
"Apa maksudmu? Apa membunuh orangtuaku tidak cukup untukmu? Sekarang kau mencoba membujukku dengan sebuah kekuatan?" balas Raden sambil menatap sinis roh tersebut.
"Aku mengerti Raden, aku sangat mengerti kekesalanmu. Sekali lagi, aku memohon ampun kepadamu sedalam-dalamnya. Namun, apa kau yakin bisa hidup dengan normal setelah kejadian ini tanpa perlindungan diri? Siapa yang akan melindungimu nanti selain dirimu sendiri?" kata roh tersebut. Ia menatap lantai-lantai yang dipijaknya yang merupakan sebuah awan.
Seketika Raden tertegun diam mendengar ucapan roh tersebut. Ia menatap roh tersebut dengan mata yang lemah.
"Apa kau yakin kekuatan tersebut bisa melindungiku? Bagaimana caranya?"
"Ya, kekuatan tersebut tentunya bisa melindungimu dari marabahaya. Jika kau menerima kontrakku, kau akan mewarisi jiwaku dan jiwa setengah iblis dalam diriku. Amarahmu dan amarahku akan tersalur pada jiwa iblis yang ada di dalam diriku. Lalu dari amarah tersebut, kau akan mewarisi kekuatan dan kecepatan di atas rata-rata manusia normal yang disebut 'Rage'."
Wajah Raden seketika terbelalak mendengar penjelasan roh tersebut.
"Bagaimana Raden, apa kau tertarik pada tawaran roh itu?" tanya hakim Astral sambil menatap Raden.
Mata Raden melihat kanan kirinya dengan cepat.
Raden menoleh pada hakim Astral. Ia menelan ludahnya, kemudian menatap roh itu kembali dengan dalam-dalam.
"Aku..." Denyut hati Raden berdetak dengan kencang. Nafasnya keluar masuk dengan cepat. Ia menelan ludah dia sekali lagi. "Aku setuju dengan tawarannya, wahai Hakim," lanjut Raden.
Hakim Astral kemudian mengetuk palunya sebanyak 3 kali. Suaranya cukup keras hingga membuat roh-roh lain yang sedang mengantri menoleh pada ketukan palu tersebut.
"Kalau begitu, kini kalian berdua memiliki perjanjian yang harus disetujui. Kalian harus menempelkan telapak tangan kanan kalian satu sama lain, lalu bersumpah bahwa perjanjian kontrak kalian ini sah dan disetujui kedua pihak. Tidak ada paksaan dari kalian berdua. Dan perjanjian ini tidak dapat diganggu gugat atau dibatalkan lagi. Apa penjelasanku sudah cukup jelas?"
"Ya, penjelasanmu sudah sangat cukup wahai hakim," kata Raden, lalu diucapkan kembali oleh roh di hadapannya.
"Bagus, sekarang tempelkan kedua telapak tangan kalian," pinta hakim Astral.
Raden dan roh di depannya menempelkan telapak tangan. Raden menatap serius roh di hadapannya, kemudian ia berkata, "Kami bersumpah bahwa perjanjian kontrak ini sah dan disetujui kedua pihak. Tidak ada paksaan dari kami berdua. Dan perjanjian ini tidak dapat diganggu gugat atau dibatalkan lagi."
Perkataan Raden kemudian diulangi lagi oleh roh tersebut.
Beberapa saat kemudian, tangan mereka bergetar. Asap muncul dari leher mereka. Masing-masing dari leher mereka kini tergambar sebuah tato. Raden melepaskan telapak tangan dia dari roh di hadapannya. Roh di hadapannya tersebut terhisap ke dalam tubuh Raden.
"Jika tingkat terakhir penyatuan jiwa ini coba kalian lakukan, maka aku akan melenyapkan dua jiwa dari tiga jiwa yang bersemayam di tubuhmu. Siapapun kedua jiwa itu, itu tergantung dari timbangan seberapa banyak dosa yang mereka tanggung," jelas hakim Astral.