"Hai, panggil aku Mora. Selamat datang di Indi(e)go. Kali ini aku dan rekan kerjaku yang akan membimbingmu."
"Mem... bimbingku?" Wajah Raden tampak sangat kebingungan. Tak lama setelah ia berkata demikian, kakinya seketika lemas. Kepalanya berkunang-kunang. Untuk beberapa saat, langkah Raden tidak terkendali. Ia berjalan seperti orang yang baru saja mabuk.
Melihat Raden yang melemah, Mora pun menangkap dan memeluknya. Tangan dan kaki Raden begitu lemas lunglai di pelukan Mora.
"Kau pasti capek ya, berlari-lari ngindar dari para polisi itu?" tanya Mora. Tubuhnya masih menahan tubuh Raden.
"I... Ya,"
Dari ruang medis, pintu terbuka secara otomatis. Suaranya berdesis dengan pelan. Dibalik pintu tersebut, berdiri seorang pria yang sempat digendong oleh Raden. Ia kini mengenakan kaos dan kemeja kasual. Pelan-pelan, ia berjalan menyusuri setiap lorong ruangan mendekati suara rengekan Raden yang menggema.
Sesampainya pada ujung suara tersebut, pria itu menatap Raden, lalu melirik pada Mora sambil mengangkat alisnya.
"Mora, ada apa ini?"
Mora menatap pria tersebut.
"Michael, kau sudah pulih?"
"Agak mendingan, kenapa dengan bocah ini?"
"Dia sepertinya lemah. Entah dia belum makan atau kurang istirahat. Coba kau ajak dia bawa makan," balas Mora.
Michael menghembuskan nafasnya.
"Begitu, ya... baiklah. Omong-omong, sebaiknya kau jujur saja bahwa kita bersaudara, bukan cuman rekan kerja."
Mora memutar bola matanya.
"Ya-ya, baiklah."
Michael ke belakang tubuh Mora, lalu menatap wajah Raden.
"Hei, kau sudah makan, belum?"
Raden menaikkan kepalanya dengan pelan, lalu menggelengkan kepalanya.
"Ah, begitu ya... Tapi kau masih bisa jalan sedikit, kan?"
Raden mengangguk pelan.
Michael meminta untuk menyerahkan Raden. Lalu, Michael membantu Raden berjalan lagi. Pelan-pelan, Raden mencoba bangkit dan memaksa dirinya untuk berdiri tegak.
"Kalau gitu, aku tinggal dulu, ya. Aku mau menyelesaikan kerjaanku yang belum beres," kata Mora. Ia pun berjalan masuk ke dalam ruangan gedung meninggalkan Michael dan Raden.
Michael dan Raden pun kemudian berjalan keluar dari pintu gedung. Dari luar, gedung tersebut tampak memiliki pelang besar bertuliskan: Indi(e)go inc.
Raden sempat berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Namun, Michael segera menahan dia sebelum menubruk benda-benda di sekitar.
"Kau gak apa-apa?" tanya Michael.
Raden menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ya, hanya sedikit pusing saja."
Michael tersenyum. Ia membantu Raden berjalan pelan-pelan lagi.
Beberapa menit di perjalanan, Raden kini bisa berjalan dengan normal lagi. Langkahnya mulai mengikuti langkah Michael di sampingnya.
Mereka melihat sekelilingnya penuh lampu neon berwarna biru dan ungu beserta beberapa pelang hologram. Suara mesin begitu cukup kencang terdengar oleh telinga Raden karena beberapa kendaraan darat dan udara melintas dengan cepat. Ia dan Michael berjalan di trotoar. Mata Raden tidak lepas melihat kanan-kirinya yang penuh tokoh-toko dan gedung-gedung tinggi. Bagi dia, pemandangan tersebut tampak begitu baru.
"Jadi, begini ya pusat kota itu? Ramai dan kayanya seru," kata Raden.
"Ramai dan seru? Pft, tepatnya mungkin ramai dan rusuh. Kau ini emangnya baru ke Spectre City ini kah?"