Fracture

Cornelius Zii
Chapter #4

Bab 4: Awal Yang Baru

"Oh, kalian sudah kembali? Raden, mungkin kau perlu bekerjasama bareng kami."


Raden melotot.


"Huh, kerjasama?!"


Mora tersenyum padanya. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke sisi meja yang terpasang banyak layar-layar kecil menempel di dinding-dindingnya. Mora menduduki sisi-sisi meja tersebut.


"Ya, kau pasti mau makan enak seperti tadi, kan?"


Raden menelan ludahnya. Michael menepuk bahu kanan Raden. Kemudian, ia berjalan ke sebelah Mora.


"Kami peduli padamu. Kamu baru saja kena tragedi tidak mengenakkan, kan?" ucap Michael sembari duduk santai di sisi-sisi meja. Tangannya melipat satu sama lain.


Raden menghela nafasnya dengan berat.


"Ya, kematian ibu dan ayahku itu memang sangat memukulku. Aku sendiri jujur saja bingung harus gimana lagi. Tapi, kerjasama itu... maksudnya aku harus bekerja untuk makanku sendiri, ya?"


"Kurang lebih seperti itu. Kami tau ini mungkin berat bagimu. Tapi, Kami sendiri bukan badan amal atau yayasan bantu-bantu orang. Sekarang kami sedang butuh orang untuk bantu misi kami biar selesai lebih cepat. Kami tetep bakalan ngasih upah dan fasilitas yang sesuai, kok. Tenang saja..."


Untuk sejenak, Raden tidak mengatakan apapun. Dirinya termenung. Matanya masih menatap lantai-lantai.


Ku kira mereka benar-benar tulus membantuku, ternyata ada maunya, ya? Batin Raden.


Kau tidak bisa mengatakan seperti itu juga... Mereka memang tulus, hanya memang sedikit bersyarat, balas Oni pada batin Raden.


Hadeh, kau lagi, ucap Raden dengan nada sebal di batinnya.


Dengar Raden, memang beginilah cara kau bertahan hidup. Kau hidup untuk bekerja hari ini, atau kau mati di hari esok dengan kelaparan, kata Oni melalui batin Raden.


Begitu, ya? Pantas saja ayahku jarang pulang dengan santai. Hampir tiap hari dia bekerja dan pulang dengan kondisi kelelahan, batin Raden.


Begitulah takdir dan jalan kehidupan bekerja. Manusia memang selalu ditakdirkan untuk bekerja dan berkembang seumur hidupnya, bukan berdiam diri dan berharap keajaiban datang besok hari, ucap Oni pada batin Raden.


Baiklah-baiklah, aku mengerti. Aneh, tiba-tiba saja kau ini jadi bijak begini, balas Raden ke Oni melalui batinnya.


Michael menepuk pundak Raden.


"Raden."


Raden langsung menoleh dengan cepat melihat wajah Michael.


"Y-ya? Ada apa?"


"Kenapa kau tiba-tiba melamun? Apa yang kau pikirkan?"


"Um... Ya, tadi aku mencoba memikirkan tawaran kalian ini."


"Lalu, bagaimana keputusanmu?" tanya Mora.


"Kurasa aku..." ucapan Raden terpotong sejenak. Mata Mora dan Michael terbuka lebar. Mereka menunggu jawaban Raden yang terpotong. Raden menghela nafasnya.

"Kurasa aku setuju dengan tawaran kalian," tambah Raden sembari mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Mora dan Michael.


Mora dan Michael seketika mengembangkan senyuman. Mora menepukkan tangannya. Lalu ia berbalik, kemudian mengetik tombol-tombol keyboard yang rata dengan cepat.


Layar monitor kemudian menampilkan foto Raden ber-rasio kotak dengan pose berdiri formal. Raden melihat layar monitor tersebut, kemudian alisnya mengangkat dengan lebar.


"Hei, kok bisa ada fotoku dengan pose formal begitu di layar itu?"


Mora tersenyum tipis.


"Kau harus tahu, kalau semua sudut dan sisi-sisi kota ini banyak terpasang drone-drone yang tidak terlihat," jawab Mora. Tangannya masih tetap mengetik.


Raden semakin terkejut dengan perkataan Mora tadi. Michael mendekat ke sisi Mora. Ia melihat layar besar tersebut disisi Mora.


"M-maksudnya kau memata-matai seluruh orang di kota ini?!"


Mora menghentikan ketikannya sejenak.

Lihat selengkapnya