Fracture

Cornelius Zii
Chapter #5

Bab 5: Dunia Yang Penuh Kebodohan

"Ya, pak. Kami sudah dapat bocah yang kau minta itu. Tapi kami perlu waktu untuk mengajarinya," sahut Michael.


"Bagus. Jangan berlama-lama. Aku butuh dia agar bisa menghasilkan uang untukku," jawab orang dibalik telepon Michael dengan suara berat.


Telepon pun tertutup. Michael menyimpan ponselnya kembali di saku celana kanannya. Mora menoleh sebentar ketika mengetik.


"Siapa? Razor, ya?"


"Ya, sudah kuduga pasti dia akan bertanya tentang bocah itu."


Mora menguap, kemudian menggeliat, lalu menekuk jari-jarinya hingga berbunyi.


"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi... aku mau istirahat sekarang. Capek bahas kerjaan terus." Mora pun menekan tombol di sampingnya hingga membuat layar besar di depannya mati sepenuhnya. Mora keluar dari kursinya, lalu meninggalkan ruangan tersebut.


Michael terdiam sejenak. Ia mengambil kopinya di meja, kemudian menyeruputnya pelan-pelan. Ia kembali menyimpan kopi tersebut di meja, kemudian mengambil teropong yang berada di rak sedang bagian bawah meja tersebut.


Di bagian atas teropong tersebut terdapat sebuah tulisan: Adaptive Binocular by Mora. Michael berjalan keluar dari ruangan tersebut sembari mematikan lampunya. Ia berjalan ke sebuah lift dan sampai di lantai 2. Michael berdiri menghadap jendela yang besar kacanya seperti tubuhnya. Ia pun menempelkan teropong tersebut pada matanya, lalu mencoba zoom-in pada beberapa orang.


Michael melihat seorang wanita diseret oleh tiga pria ke sebuah gang sempit. Ia langsung mengalihkan teropongnya karena tahu selanjutnya apa yang akan terjadi. Segerombolan preman merusak banyak barang-barang di jalanan. Beberapa dari mereka menjarah toko-toko kecil. Tak sedikit dari mereka menodongkan pistolnya ke kepala pemilik toko sampai keluar dari tokonya. Tak segan-segan juga mereka menembakkan pistolnya kepada setiap pemilik toko yang mencoba melawan ancamannya.


"Benar-benar kota yang rusak. Kemana pemerintah anjing itu disaat kota seperti ini? Setiap malam, kota ini pasti jadi kota yang gila," gumam Michael sembari menurunkan teropongnya.


Di lain sisi, Mora keluar dari liftnya. Ia sampai di lantai 3. Ia berjalan memasuki ruangan yang di bagian gagang pintu tersebut terdapat sebuah tempat untuk menggesek kartu. Mora pun mengambil kartu di saku kiri celananya, lalu menggesekkan kartu tersebut pada gagang pintu di hadapannya.


Pintu tersebut terbuka secara otomatis. Mora pun memasukki ruangan tersebut. Di dalam, terdapat rak-rak buku yang berjejer, beberapa sparepart mesin, dan terdapat 3 buah komputer di setiap sudutnya. Di bagian tengah, terdapat sebuah kasur yang bagian kakinya mengahadap ke arah pintu. Di sisi kasur tersebut ada sebuah rak kecil dengan di atasnya berdiri sebuah foto keluarga Mora. Di sisi kiri kamar tersebut ada pintu kamar mandi.


Ketika Mora melangkah masuk, pintu tersebut pun tertutup secara otomatis. Mora pun duduk di atas kasur empuknya. Ia menoleh pada foto diatas rak kecil disamping kasurnya. Ia mengambil foto tersebut.


Ia tersenyum memandangi foto tersebut sambil mengelus-eluskan foto tersebut dengan tangan kanannya.


Tak lama setelah itu, ia pun meneteskan air matanya pelan-pelan. Air mata itu perlahan-lahan semakin hebat mengalir. Mora menangis hingga tersengguk-sengguk. Ia pun pelan-pelan menyimpan kembali foto tersebut sambil mengusap air mata dengan lengan kanannya.


Setelah itu, ia pun memukul kepalanya sendiri dengan tangan kanannya dengan keras.


"Apa yang kau sedihkan, gadis cengeng! Gadis cengeng!" kata Mora dengan suara keras sambil tetap memukuli kepalanya.


Mora pun terbaring di kasurnya. Ia melepas sarung tangan yang dikenakannya, lalu memeluk erat-erat guling yang berada di sampingnya.


---


Mentari bersinar dengan terik di pagi hari. Sinarnya menyoroti wajah Raden yang sedang tertidur.


"Hei! Ayo, bangun-bangun-bangun! Sudah sepagi buta ini waktunya lari sana!" teriak Mora melalui mic yang terhubung ke pengeras suara besar pada 2 buah drone yang melayang di atas tubuhnya.


Raden pun langsung terbangun dari kasurnya dengan mata melotot, tubuhnya bergetar, wajahnya tampak begitu kaku mendengar speaker tersebut. Ia pun menoleh ke arah Mora yang berdiri sambil melipat tangannya.


"Duh... kenapa kau harus pake speaker besar begitu, sih?" ucap Raden dengan lemas sambil menggosok-gosokan matanya.


"Gak ada alasan lagi! Ayo, cepat-cepat-cepat bangun dan lari! Atau kubangunkan dari kasurmu secara paksa mulai dari 3..."


Raden masih terbangun setengah sadar. Selimut masih membalut tubuhnya. Pikirannya masih berada di alam mimpi—sampai-sampai perintah Mora melalui speaker besar tersebut tidak mempan kepadanya.


"2..."


Lihat selengkapnya