Ketika Mora keluar dari Marlin's Book, ia melihat Raden sudah tersungkur kaku di sebuah tiang. Tangan Raden penuh berlumuran darah. Mora bergegas mendekati Raden dengan cepat. Ia menepuk-nepuk pipi Raden dengan cepat.
"Toki, Toki! Hei, bangunlah!"
Raden membuka matanya pelan-pelan. Ia batuk-batuk disertai darah. Perlahan-lahan, ia mencoba menoleh kepada Mora.
"A-aku tadi diserbu oleh segerombolan orang bertopeng..." ucap Raden dengan lemah. Tangan kanannya mencoba meraih sesuatu di sampingnya dengan pelan dan gemetar. Mora menoleh kanan-kirinya. Ia mencoba melihat beberapa orang yang berjalan, namun tak nampak satupun gerombolan geng yang mengenakan topeng. Ia kembali menoleh ke arah wajah Raden. Tangan kirinya menahan kepala Raden.
"Siapa? Siapa yang menyerbumu?" tanya Mora. Wajahnya penuh ekspresi panik bercampur dengan amarah. Raden terbatuk-batuk. Kakinya sangat kaku dan tak bisa digerakkan. Tangan kanan Raden berhasil meraih sesuatu. Mora menoleh ke arah tangan Raden.
Disitu, Mora sadar bahwa Raden ingin memberikan sesuatu. Mora pun mengangkat tangan kanan Raden pelan-pelan, dan mengambil bedan dibalik tangannya. Dari balik tangan Raden ternyata ada sebuah buku. Mora mencoba mengangkat ke depan mata kepalanya. Baru saja ia melihat sampul buku yang diangkatnya, ia sudah terkejut.
"Ini... buku panduan teknologi dan informasi bagian 731?!"
Mora membuka lembaran-lembaran buku tersebut, dan benar saja bahwa itu adalah buku yang ia cari. Ia menatap Raden sambil tersenyum tipis. Namun, ia masih heran kenapa Raden bisa menemukan buku tersebut.
Mora mencoba membuka lembaran-lembaran buku tersebut sebentar. Di halaman tengah buku tersebut ada secarik kertas tipis.
Mora mengambil kertas tersebut. Ia membaliknya dan melihat sebuah tulisan:
Suruh Michael temui aku di Pink House. Jika tidak, hidupmu tidak akan tenang!
-Rossie
"Michael? Kenapa dia harus bertemu mahluk ini di rumah bordil?" gumam Mora.
Mora menyimpan kertas tersebut di saku celana kirinya. Ia menutup buku tersebut, lalu menggendong Raden yang masih tidak berdaya di punggungnya. Drone-drone yang mengikuti Mora pun turun hingga posisinya sejajar di depan wajah Mora. Drone tersebut langsung menampilkan UI hologram. Mora mencoba mengetuk-ngetuk tombol rumit di hologram tersebut, lalu tak lama setelahnya UI hologram tersebut menutup kembali.
Mora mencoba berjalan menggendong Raden dengan sedikit kesusahan. Anak 18 tahun dengan berat 56 kg itu beratnya bukan main.
Beruntungnya, beberapa menit kemudian mobil terbang milik Mora—Xeon Car, tiba di sampingnya. Mobil tersebut membuka pintunya secara otomatis. Mora langsung menurunkan Raden di kursi belakangnya pelan-pelan. Ia pun duduk di kursi kemudi.
Bagian setir mobilnya menampilkan UI hologram lebih banyak.
[Anda ingin menonaktifkan auto-pilot?]
[Ya] [Tidak]
Mora mengetuk tombol 'ya'. Sebuah setir pun muncul perlahan-lahan di depannya. Ia mengetuk jam tangan yang dipakainya, lalu drone-drone yang tadi mengikutinya pun masuk ke mobil—tepat di pangkuan Mora, lalu drone-drone tersebut nonaktif secara otomatis.
Mora pun kini memegang setirnya. Ia membuat mobil tersebut terbang ke atas, lalu seketika mobil tersebut terbang melesat dengan cepat.
---
Sesampainya di belakang gedung Indi(e)go, begitu Mora menurunkan mobilnya, sebuah garasi pun terbuka lebar secara otomatis. Mora memarkirkan mobilnya ke dalam gedung tersebut perlahan-lahan. Lalu, ia pun mematikan mesinnya.
Pintu garasi tertutup secara otomatis, bersamaan dengan lampu-lampu oranye di dalam garasi tersebut menyala dengan terang benderang secara otomatis.
Mora mengetuk dan menggeser jam tangannya. Suara dering telepon pun berbunyi. Beberapa saat kemudian, telepon tersebut tersambung. Mora mengangkat tangan kanannya. Dia mengenakan arloji kotak pergelangan tangannya.
"Michael, aku ada di garasi. Tolong angkat si Toki ke ruang medis."
"Ah, oke-oke. Aku segera kesana," sahut Michael dibalik suara jam tangan yang dikenakan Mora.