Fracture

Cornelius Zii
Chapter #7

Bab 7: Pekerjaan Barumu

"Astaga... apa-apaan ini?!"

Michael mendekat lalu melihat potongan kepala tersebut.

"Jangan disentuh!" teriak Mora menghentikan langkah Michael, ketika Michael hendak menyentuh potongan kepala tersebut.

Mora mengambil sarung tangan yang terletak di sorong kecil meja kerjanya. Kemudian, ia mengangkat lilin di atas potongan kepala tersebut. Potongan kepala tersebut dimasukkan ke sebuah tabung dengan katup di atasnya. Setelah potongan kepala tersebut dimasukkan ke dalam tabung, Mora menyolokkan kabel yang ada di belakang tabung tersebut ke komputer kerjanya.

Mora pun duduk kembali di meja kerjanya, lalu mengetik-ngetik keyboard dengan cepat. Dari monitor besarnya, tampil sebuah display yang menunjukkan loading analisis potongan kepala yang berada di tabung yang Mora colok.

Michael duduk di samping Mora. Ia menatap layar besar monitornya dengan begitu serius.

Begitu loading selesai, monitor menampilkan banyak sidik jari yang tertempel pada potongan kepala yang berada di tabung. Mora mencoba menganalisis satu-persatu sidik jari-sidik jari tersebut yang terlihat cukup jelas. Lalu, ia mencocokkan sidik jari yang ada dengan database warga Spectre City yang tersedia.

"Enola, Louvrine, Kim Min Ja, Anula, dan Cindy. Bukannya mereka-mereka ini pegawai seks komersil dan strip dancer di Pink House, ya?"

Michael melipat kedua tangannya. Tangan kanan dia memegang dagunya.

"Aku tidak tahu, mungkin iya? Kan kau yang sering mengotak-atik database warga sini."

"Ya, aku pasti tidak salah. Mereka pegawai seks komersil dan strip dancer di Pink House. Tapi... kenapa mereka mengirim potongan kepala ini, ya? Lalu..." Mora mengetik-ngetik keyboard dengan cepat. "Siapa potongan kepala yang mereka bunuh ini? Aku tidak bisa menemukan datanya," tambah Mora. Dari layar monitor besar di hadapannya, tampak tulisan besar "Data not found."

Michael menepuk pundak Mora.

"Kau lanjutkan dulu, ya. Aku harus memindahkan Toki ke kamarnya sebelum dia tersadar."

Mora menoleh pada Michael.

"Baiklah. Aku harus fokus dengan ini dan akan kubereskan jendela yang hancur itu."

--

Raden terbangun di dunia antah berantah. Ia melihat sekelilingnya penuh dengan kegelapan.

Apa ini? Dimana aku?

Batin Raden menggema seisi ruangan.

Ia mencoba berjalan dari kegelapan itu. Semakin ia berjalan maju, ia melihat banyak sekali memori-memori yang melayang di sisinya disertai suara-suara yang membuat telinganya sakit mendengarnya.

Raden berhenti di salah satu memori yang menampilkan momen dimana seorang pria tua menyandang katana di saku kanannya. Ia tampak sedang mencium kening istrinya.

Pria tersebut kemudian berkata, "Aku bersyukur memiliki istri sepertimu."

Seorang anak laki-laki dan anak perempuan pun menghampiri pria tersebut.

"Ayah, apa ayah harus pergi ke kastil itu lagi?" tanya seorang anak laki-laki dengan wajah polosnya.

"Ya, nak. Ayah harus pergi ke kastil itu lagi. Kalian jaga ibu baik-baik, ya! Jangan nakal-nakal," balas pria tersebut sambil mengelus-elus kepala anak laki-laki dan anak perempuan di hadapannya.

Pria tersebut berjalan meninggalkan anak-anak dan istrinya.

Ketika dirinya sudah tidak tampak kembali, kepala anak-anak dan istrinya ditebas dengan cepat oleh sebuah katana secara tiba-tiba oleh ninja.

Memori tersebut pun menghilang begitu saja bak debu yang beterbangan.

Raden menangis begitu selesai melihatnya.

Tiba-tiba...

Suasana sekitar Raden pun menjadi serba putih terang benderang. Mata Raden sempat silau oleh cahayanya. Ia membuka matanya pelan-pelan, namun pandangannya sempat buram sejenak. Ia melihat seorang pria tua yang tadi Raden lihat di memori, muncul di hadapannya sembari membuka sarung katananya.

Ia memeluk Raden dengan tangan kirinya kemudian berkata, "Raden, tempatmu bukanlah disini. Bangkitlah kembali ke dunia aslimu."

Dari tangan kanan pria tersebut, ia mengambil katananya, lalu ia menebas kepala Raden dengan cepat. Mata Raden terbelalak, ia sangat merasakan rasa sakit dari lehernya yang ditebas.

SLASH!


"NOOO!!!"


Raden berteriak sampai terbangun dari tidur sambil memegangi lehernya.


Beberapa saat setelahnya, Raden melihat pemandangan di sekitar dia—yang ternyata sekarang ia berada di kamarnya.


Raden menoleh ke kanan. Ia terkaget begitu melihat wajah Mora di depannya.


"Oh, kau sudah bangun, ya? Huh... akhirnya," ucap Mora dengan santai sambil menatap Raden. Telapak tangan kanan dia menahan pipinya. Di atas kepala dia ada dua drone yang melayang mengikuti pergerakannya.


Raden mencoba bangkit, namun, ia merasakan perih pada kedua kakinya.


"Hei, jangan bangun dulu. Kakimu belum sepenuhnya sembuh," ucap Mora sembari menahan bahu Raden. Mora mengarahkan Raden untuk tiduran kembali. Raden pun tersandar kembali di atas bantal empuknya. Wajahnya mencoba menahan rasa perih.


Raden menoleh ke arah jendela besar disamping dia. Cahaya mentari berwarna oranye yang lembut menembus kaca jendela tersebut hingga refleksinya memantul pada wajah Raden.


"Berapa lama aku tertidur begini?"


Mora berpikir sejenak. "Sekitar... semingguan kurasa?" jawab Mora tidak yakin.


Raden menatap pemandangan di luar jendela dengan begitu dalam. Wajahnya begitu tenang begitu memandangnya. Tak lama setelah itu, ia menatap tangan kanannya dimana bagian jari telunjuk dia diperban. Untuk beberapa menit, Raden tidak mengatakan apapun. Ia menghirup udara dalam ruangan yang begitu sejuk segar melewati hidungnya.

Lihat selengkapnya