Fracture

Cornelius Zii
Chapter #8

Bab 8: Memori

"M-m-membunuh... nya?" kata Raden dengan mulut yang gemetar.


"Ya... membunuhnya..."


Raden menelan ludahnya. Untuk beberapa menit, dirinya diam dengan pikiran yang begitu kacau.


"Kau tak perlu takut, Toki... Kau tak akan tercatat sebagai kriminal, kau legal membunuh mereka. Mereka yang salah secara hukum, bukanlah kita. Jika kau masih ragu, percayalah bahwa mereka para penghutang ini adalah seorang kriminal. Kau harus keras di dunia yang keras ini, Toki. Memang menyakitkan, tapi beginilah kenyataannya," lanjut Razor.


Mora pun duduk di samping Raden. Ia memegang pundak kanan Raden dengan tangan kirinya. Ia menatap Raden, lalu tersenyum melihat wajahnya.


"Tak apa, tak perlu memaksakan dirimu. Kita mulai ini dengan pelan-pelan, oke?"


Mora mengepal tangan kanannya lalu mengangkatnya untuk memberi semangat kepada Raden. Raden menatapnya dengan senyum. Kemudian, ia menganggukan kepalanya.


Mora pun mengambil ponselnya yang berada di tangan Raden. Ia melanjutkan percakapan dengan Razor sambil berjalan keluar dari kamar Raden.


Raden merenung sembari menatap langit-langit kamar. Ia menggerak-gerakkan telapak tangannya.


"Kenapa... jalan hidupku seperti ini, ya?" gumam Raden sembari menatap telapak tangannya.


Yah... begitulah jalan hidup. Kau tak bisa menerkanya, meskipun kau memiliki kecerdasan untuk memprediksi banyak hal, ucap Oni melalui batin Raden.


"Ya, kau benar. Dan ini sangat amat membingungkan bagiku."


Itu hal yang manusiawi, Raden. Ingatlah bahwa kebingungan itu buah dari pembelajaran untuk masa depanmu nanti, sahut Oni melalui batin Raden.


Raden hanya tersenyum pasrah, tak membalas perkataan Oni. Ia pun mencoba menutup matanya pelan-pelan.


Sekarang kau tidak sibuk, kan? Aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu, ucap Oni melalui batin Raden.


"Ya, jelaskan saja sekarang sampai aku tertidur."


Mata Raden tertutup. Tangannya memeluk guling disampingnya.


Tiba-tiba pintu kamar otomatis Raden terbuka. Mora kembali lagi masuk ke kamar Raden dengan dua drone di atas kepala dia. Raden seketika terbangun kembali dan membalikkan badannya ke arah Mora datang.


"Hai, aku lupa menitipkan sesuatu untukmu. Ini, drone ku yang satu kutitipkan untukmu—namanya Timmy. Yahh... barangkali kau mau mengambil sesuatu, kau bisa suruh dia. Dan oh, dia juga bisa kau suruh-suruh untuk pesan makanan juga. Jadi, jangan segan-segan menyuruhnya, ya! Anggap saja dia hewan peliharaan pribadimu. Atau apa ya, mungkin pembantu? Entahlah, suruh saja dia semaumu. Aku tinggal dulu, oke?" tutur Mora dengan cepat.


"Oke, Mora. Makasih titipannya," balas Raden dengan nada lemas. Matanya masih menutup.


"Baguslah kalau begitu. Sebelumnya, ada yang mau kau tanyakan dulu, gak?"


Raden menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya sudah."


Mora pun meninggalkan kamar Raden dan meninggalkan Timmy. Timmy yang melayang celingukan menatap kamar Raden. Ia pun diam tepat di samping tangan kanan Raden. Raden mengangkat Timmy yang hanya setinggi 22 cm itu dengan kedua tangannya. Lalu, Raden memeluk Timmy di atas perutnya.


Timmy mengangkat tubuhnya sedikit, lalu ia menunduk kembali selayaknya anjing yang kini menurut. Raden pun mengusap-usap kepala Timmy.


"Ayo, lanjutkan lagi penjelasanmu tadi itu gimana? Aku penasaran."


Baik, akan kulanjutkan penjelasanku. Tapi sebelumnya, apa kau tahu di lehermu ada sebuah tato? tanya Oni melalui batin Raden.


Raden pun mencoba mengusap-usap lehernya sebentar dengan telapak tangan kanannya. Ia merasakan sedikit ganjalan di bagian lehernya. Mata Raden terbuka, lalu menatap punggung Timmy yang dibuat dari kaca berwarna hitam. Pantulan dari kaca tersebut membuat Raden dapat melihat tato di bagian lehernya dengan jelas.


"Begitu, ya. Ternyata ada tato di leherku."


Ya, itu adalah tanda kontrak kita yang disahkan oleh Astral Judge—Soul Sync Contract. Dari kontrak itu, kau bisa mengakses kekuatan jika aku, kau, dan setengah iblis dari jiwaku marah secara bersamaan, jelas Oni melalui batin Raden.

Lihat selengkapnya