Michael mengangkat satu alisnya. Matanya terbelalak.
"April?"
Michael memegangi erat amunisi RPG tersebut.
Beberapa menit kemudian, Xeon Car tanpa pengemudi tiba tepat di atas Michael. Layangnya pelan-pelan melambat tepat di samping tubuh Michael.
Michael menyimpan amunisi RPG di bagasi belakang mobil. Kemudian, ia mengangkat RPG yang tergeletak di tanah, lalu memasukannya ke kursi belakang Xeon Car.
"Hey, ngapain kau bawa sampah-sampah ini?" tanya Mora dibalik Oxy Mark I.
"Kurasa ini penting nanti."
Michael masuk ke dalam Xeon Car. Ia memasangkan sabuk pengamannya dengan kencang. Mobil tersebut menutup pintu dan jendela kacanya secara otomatis. Desis mesinnya pelan-pelan mengencang. Pelan-pelan layangnya meninggi, lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke depan.
---
Setibanya di markas Indi(e)go, Xeon Car berputar menuju garasi. Layangnya menurun. Pintu garasi pun terbuka secara otomatis. Mobil tersebut masuk perlahan diiringi desin mesin yang memelan hingga mesin tersebut mati sepenuhnya.
Pintu mobil terbuka secara otomatis. Michael berjalan ke bagasi mobil, kemudian mengangkat RPG yang ada di dalam. Wajah dan seluruh tubuhnya penuh keringat. Ia membuka sarung tangan latex dia yang sudah kotor dan berdebu. Ia menyimpan di dalam saku kanan jasnya. Namun, tangannya yang basah membuat dirinya selalu terselip ketika mencoba mengangkat RPG itu.
"Butuh bantuan?" tanya Mora dibalik kacamata Oxy Mark I.
"Ya. Mungkin sekarang mesin lebih cocok bekerja."
Mora terkikik.
Ia langsung memberikan perintah pada Kimmy dan Timmy untuk pergi ke garasi. Setelah selesai mendengar perintah Mora, Kimmy dan Timmy segera melayang dengan laju menuju garasi.
Michael berjalan masuk ke pintu yang ada di garasi. Ia memasuki lift, lalu menekan tombol untuk ke lantai 1. Sesampainya disana, ia masuk ke ruangan Mora. Ia melihat Mora sedang sibuk mengetik-ngetik di depan salah satu layar monitor besar. Sementara di layar monitor besar sampingnya menampilkan banyak sekali layar-layar kecil dari setiap cctv yang tersembunyi di setiap sudut kota. Beberapa cctv telah hancur.
Michael menggantung sarung tangan latexnya di sebuah hanger yang menempel di dinding. Ia menggeser kursi kosong lain, lalu menggesernya hingga ke samping Mora, lalu mendudukinya.
Michael menghembuskan nafas berat. Mora menoleh sejenak kepada Michael. Setelah itu, pandangan dia fokus kembali ke arah nonitor besarnya.
"Gimana rasanya dicium dan diraba-raba lonte? Pasti nikmat," sindir Mora sambil tersenyum simpul.
"Itu pengalaman teraneh seumur hidupku..."
Beberapa saat kemudian, Timmy dan Kimmy melayang masuk ke ruangan Mora sambil membawa RPG lengkap dengan amunisinya. Mereka meletakkan benda-benda itu tepat di atas meja Mora.
"Kerja bagus, anak-anakku," ucap Mora sambil mengangkat telapak tangannya. Timmy dan Kimmy melakukan tos pada telapak tangan Mora.
Setelahnya, Timmy dan Kimmy duduk di masing-masing pundak Mora sambil menatap ke arah monitor besar. Dari layar monitor tersebut, Mora menyeret kursornya, lalu membuka sebuah gambar.
Michael menatap serius monitor layar. Ia mengerutkan keningnya.
"Bukankah itu..."
"Ya, itu mereka, grup geng yang kau hadapi. Mereka menyebutnya Wizzies. Dan kau tahu gak hal yang paling mengejutkannya apa?" Mora lanjut menggeser-geser beberapa foto yang tertangkap dari drone tersembunyi miliknya. "Ternyata, mereka sering bertransaksi sabu dengan beberapa karyawan di Santino Casino," tambah Mora.
Mora menggeser kembali kursornya, ke kolom pencarian, lalu mengetik file dengan nama: Spectre-City-Santino-Casino-00.17-6177.bbv
Dari video tersebut, tampak seorang wanita dengan tinggi sekitar 163 cm bertopeng dengan rambut merah ponytail pendek, bertemu di sebuah gang kecil dan gelap dengan pria hitam, botak, berbadan tinggi besar. Wanita tersebut menyerahkan 3 bungkus sedang berisi serbuk putih pada pria tersebut. Pria tersebut kemudian mengambil ponselnya, lalu menempelkan ponsel tersebut pada ponsel si wanita.