Michael sangat terkejut. Matanya seketika melotot dengan sangat lebar.
"A-pril...?"
Rekaman Rossie masih berlanjut. Mulutnya tersenyum dengan lebar-lebar sambil mengucapkan kata "Michael" berulang-ulang kali. Ia mengangkat-angkat kamera yang dia pegang sambil berdansa ria. Di beberapa detik akhir, Rossie mencium layar kamera dia hingga kamera tersebut tertapak lipstik merah tua dari mulutnya.
Video rekaman pun berhenti dengan layar hitam penuh. Mora yang berada disamping Michael menoleh dengan cepat pada Michael. Dirinya langsung melotot pada wajah Michael. Ia menampar wajah Michael dengan kencang, hingga meninggalkan jejak merah muda pada pipi kiri Michael.
"Apa yang kau buat sampe dia kayak gitu, goblok?!"
Michael hanya menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata. Mora mencubit-cubit keningnya dengan raut wajah penuh frustrasi. Kakinya berjalan mondar-mandir dari kiri ke kanan berulangkali.
"Kubilang berkali-kali padamu, cari cewek lain, jangan dia! Kau ini kenapa, sih?! Cowok sepertimu jalan sebentar saja cewek cantik pasti terpikat dengan wajahmu. Ada jutaan cewek di dunia ini, dan KAU MALAH MILIH SAHABATKU?!" Mora berteriak sambil menunjuk Michael.
Michael menelan ludahnya. Untuk beberapa menit, mulutnya benar-benar terbungkam penuh. Tangannya sedikit bergetar ketika menapak pada sisi-sisi meja.
"Aku gak tahu harus gimana lagi. Kau ini dari dulu sok kuat, tapi kau itu cupu. KAU CUPU! KAU CUPU! Ciuman dengan cewek yang kau suka saja kau belum pernah! Padahal... umurmu sudah kepala tiga. Kau punya kenalan, uang, badan bagus, wajah ganteng. Kau kurang apa, hah?? Kau mau nunggu sampai kapan? Kau mau jadi perjaka tua?!" ucap Mora. Tangannya menunjuk-nunjuk Michael.
Michael memegang bibirnya sebentar. Kepalanya pelan-pelan bangkit menatap Mora.
"Sejujurnya, aku pernah ciuman dengan cewek. Bukan, bukan dengan lonte di jalanan itu. Tapi..." Michael menelan ludahnya. "April," tambah Michael.
Mora sangat terkejut mendengarnya. Mata dia berubah menajam ketika melihat wajah Michael. Lengan kanannya mengeras. Ia mendekat ke hadapan Michael, lalu ia memukul pipi kanannya dengan kencang. Setelahnya, ia menunjuk kepala Michael dengan kuat.
"Dari jutaan cewek cantik dan pada montok di dunia ini, kau malah sange dengan cewek cacat, pendiem, yang duduk di kursi roda?!"
Mora membalikkan tubuhnya. Ia berjalan keluar ruangan dengan tangan dan langkah kaki yang kencang. Mora menendang pintu otomatis yang sudah menutup ruangan kerjanya dengan sangat keras. Bunyinya begitu mendengung hingga membuat telinga Michael sedikit terganggu.
Michael menghembuskan nafasnya dengan berat. Pikirannya terbayang kembali pada masa lalu dia.
---
Saat itu, tepat ketika sedang berada di pinggir sungai dekat kawasan industrial, Mora membantu ndorong kursi roda yang dinaiki seorang gadis yang umurnya seumuran dengan Mora. Mora mengenalkan gadis itu pada Michael. Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan sebutan "April". Wajahnya putih bersih. Rambutnya tertata dengan rapih. Senyumnya sangat manis. April mengaku tidak nyaman menyebutkan nama depan atau nama marganya langsung. Jadi dia mengambil nama tengah untuk sebutan orang lain kepadanya.
April menoleh pada Michael yang masih mengenakan seragam kantor. Michael mengatakan ia baru saja pulang kerja dari kantor, dan suka menenangkan diri dia di pinggir sungai itu.
April terkekeh mendengarnya. Ia juga mengaku suka pemandanga sungai ini ketika Mora mengantarnya jalan-jalan.
Namun, Mora seringkali bilang bahwa dia kadang masih sibuk di gudang, atau sibuk dengan tugas sekolahnya. Jadi, Mora hanya mengajak April jalan-jalan setiap hari minggu saja.
Sambil tersenyum, Mora menoleh kepada Michael, lalu mengatakan bahwa Michael boleh-boleh saja mengajak April jalan-jalan sepulang kerja. Karena kata Mora, jam kerja Michael kadang-kadang tidak setiap saat selalu padat. Sementara Mora sepulang kuliahnya masih suka sibuk. Apalagi sekarang Mora sudah menginjak semester ke 3.
Sejak saat itulah sepulang kerjanya, Michael selalu mengajak April jalan-jalan mengelilingi kota dan seringkali mengobrol dengannya tentang banyak hal. April bilang bahwa momen pertama kali dirinya bertemu dengan Mora, itu ketika di rumah sakit. Tepat ketika Elias Scott Cäcillia, yaitu Ayah dari Mora dan Michael selesai memeriksakan kesehatan kakinya. Mora lah yang membantu mendorong kursi roda ayahnya untuk pergi ke rumah sakit. Dan di saat itu pula, Mora bertemu dengan April, sampai mengobrol kecil-kecil ketika ayahnya masih diperiksa oleh dokter.
Seringkali April meminta Michael untuk jajan dan makan bersamanya di restoran besar, dan semua bayarannya itu di bayar penuh oleh April. Michael sangat tidak enak menolak permintaan April, jadi dia selalu menerima permintaan April apapun yang dia mau.
Tepat di sore hari sebelum tahun baru, April menelpon Michael untuk pergi jalan-jalan di sungai favoritnya lagi. Kala itu Michael sedang tidak sibuk, jadi Michael pun segera menjemput April ke rumahnya. April sudah berpakaian dan berdandan dengan sangat rapih ketika hendak keluar rumah. Begitu pintu rumah dibuka, ia tersenyum dan langsung meminta Michael untuk pergi secepatnya sebelum malam pesta kembang api bergemuruh meriah di langit-langit malam.
Michael pun membantu mendorong kursi roda milik April dengan sedikit lebih cepat disertai tawa-tawa kecil. April tersenyum dengan lebar sembari menunjuk benda-benda kecil di jalanan.
Sesampainya di sisi sungai, April dan Michael menatap langit-langit malam dengan wajah yang tenang.
Begitu kembang api meledak di langit dengan begitu meriah, angin-angin malam berhembus dengan lembut mengibas rambut mereka. Jam-jam led yang menggantung di setiap bangunan kota menunjukkan pukul 00.00. Mata mereka tidak bisa lepas dari sinar kembang api yang saling bertabrakan dengan abstrak di langit hitam kala itu.
Tangan mereka pelan-pelan saling menggenggam satu sama lain. Hati mereka bergetar satu sama lain.
"Cium aku," kata April dengan lembut.
Michael menoleh pada April. April menoleh pada Michael disertai tatapan mata yang berbinar-binar. Di mata Michael, kini April tampak seperti bidadari surgawi yang kini turun dari langit yang sedang menunggu dicium olehnya.
Michael menundukkan setengah badannya. Tangan dia meraih kepala April. April menutup mata dia dengan sangat rapat. Untuk beberapa menit, bibir Michael pun saling bertabrakan dengan lembut pada bibir April. Momen itu diiringi oleh suara letusan kembang api yang saling melebur dengan motif indah di langit hitam. Cahayanya yang penuh warna bersinar terang menerpa pakaian mereka dengan begitu cantik.