Fracture

Cornelius Zii
Chapter #12

Bab 12: Surat Dari Masa Lalu

Raden mengangkat kepalanya. Napas dia sangat terengah-engah. Ia tersenyum penuh semangat melihat Michael sambil menahan rasa perih di kakinya.


"Aku bosan di kamar terus. Apa yang sebetulnya terjadi?"


Michael tersenyum tipis pada Raden. Raden mencoba berjalan ke arah Michael. Namun, langkahnya pincang dan tertatih-tatih. Michael mencoba merangkul Raden, lalu menuntun untuk berjalan bersamanya. 


Michael menuntun Raden ke sebuah kursi, lalu mendudukan tubuh Raden pelan-pelan. Raden sempat merintih dan memegangi kakinya. 


"Kau ini bisa-bisanya keluar dari kamarmu dengan kaki yang masih kaya gini. Apa amukan Mora tadi kedengaran olehmu sampai kau penasaran?" tanya Michael sambil melepas tangannya dari bahu Raden.


Raden mencoba membuat posisinya cukup nyaman di kursi untuk beberapa waktu. Nafasnya yang masih terengah-engah, pelan-pelan mulai tenang.


"Ya, tadi suara Mora sangat keras sampai-sampai aku bangun dari tidurku. Tapi, bukan itu penyebab aku penasaran ke sini. Aku sempat manggil-manggil Timmy untuk ke kamarku. Sayangnya, dia gak datang-datang juga... Aku gak bisa setel tv atau bawakan sesuatu di kamarku. Aku sempat coba memaksa berdiri sebentar, meski kakiku bergetar dan sangat perih. Sedikit demi sedikit, perihnya mulai tak terasa. Dan aku akhirnya bisa sampai ke sini."


Michael terkekeh-kekeh mendengar penjelasan Raden. Ia menghela nafasnya, kemudian menatap Raden.


"Kau ini keras kepala sekali... tapi aku suka gayamu. Namun, sebaiknya jangan sering-sering kau seperti ini, nanti bisa-bisa kakimu putus."


Raden langsung menelan ludahnya begitu mendengar ucapan Michael. Dirinya menatap pemandangan monitor besar di depan dia yang masih non-aktif. Monitor besar tersebut memantulkan wajah Raden dengan sedikit samar vignette. Cembung refleksi lensa fish-eye dari pantulan kaca monitor tersebut tergambar begitu jelas oleh mata Raden.


"Kalau aku tidak memaksa begitu, maka aku hanya akan diam mematung di kamar untuk beberapa hari atau mungkin minggu. Aku cuman menunggu jawaban darimu untuk beberapa hari kedepan aja. Padahal, aku begitu penasaran. Aku yakin, kakiku tidak sefatal itu sakitnya. Kau bilang begitu karena teoritis-teoritis aja, kan? Pasti nanti kau bilang, 'sembuh di sekian hari'. Padahal kakiku sudah tidak tahan ingin jalan-jalan atau keliling sebentar," ucap Raden. Matanya menipis ketika melihat pantulan kaca dari monitor didepannya.


Michael menghela napasnya. Ia tertawa, lalu menepuk jidatnya. 


"Kau ini betul-betul keras kepala sekali... Kau tidak salah, ketika bilang aku hanya teori-teori dan estimasi saja. Tapi kakimu hampir patah itu bukanlah hal main-main. Aku bahkan menjahitnya dengan detail, presisi, dan penuh hati-hati. Sebaiknya kau jangan ceroboh dengan kesehatanmu."


Raden tertegun diam beberapa menit begitu mendengar jawaban dari Michael. Suasana ruangan kerja Mora seketika penuh keheningan.


Michael menatap kuku-kuku di tangannya. Tepat di bagian jari telunjuknya, ada sedikit darah yang masih menempel. Ia berjalan beberapa langkah dari meja untuk mendekat pada sebuah kotak tisu, kemudian ia menarik selembar tipis tisu dari kotak tersebut, lalu mengelap jari telunjuknya. Matanya begitu lesu menatap jari-jari telunjuknya.


Raden menoleh pada Michael. 


"Wajahmu seperti orang yang gelisah, apa ada masalah?"


Michael mengangkat kepalanya dengan pelan. Tangannya seketika berhenti mengusap jari telunjuk.


"Bisa dikatakan begitu..." jawab michael dengan volume suara yang pelan.


Raden mengerutkan keningnya.


"Apa ada kaitannya dengan Mora?" 


Michael menelan ludahnya.


"...Ya, ada hubungannya dengan dia."


"Kalau boleh tau, memangnya soal apa?" 


Michael menghela nafasnya dengan berat.


"Soal cewek, tepatnya masa laluku. Dia dulu sahabat Mora, dan dia sempat suka padaku. Tapi sekarang, dia sudah berubah total. Kau tahu geng wanita bertopeng yang buat kau sampai babak belur begitu?" 


Raden mengangguk.


"Ya, aku tahu. Memang apa hubungannya?" tanya Raden sambil mengangkat salah satu alisnya.


Michael menahan bibirnya sejenak.


"Cewek masa laluku itulah dalang dibalik semuanya..."


Begitu mendengarnya, lambat laun mata Raden terbelalak. 


---


Mora baru saja keluar dari liftnya. Ia berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Sesampainya di depan pintu, Mora sempat kesal karena pemindai kartu akses untuk membuka pintu kamarnya sempat error. Mora memukulnya dengan keras hingga pemindai kartu tersebut berfungsi dengan baik lagi. 

Lihat selengkapnya